Oleh: Kyan | 30/09/2005

Tentang Demokrasi dan Independensi

Jum’at, 30 September 2005

 Tentang Demokrasi dan Independensi

 **

Membaca buku tentang Khomaeni. Beliau bisa mengklasifikasikan antara Islam dan demokrasi. Dalam pandangannya menyamakan demokrasi dengan Islam sama saja dengan menghina Islam. Tapi ada sisi-sisi tertentu dalam demokrasi yang diakui Islam, seperti konsep musyawarah, ‘Syura’. Maka Quraish Shihab berpendapat bahwa Islam mensyaratkan demokrasi.

Begitupun dalam Islam Indonesia. NKRI bagi pandangan NU adalah “Daarul Islaam” wilayah Islam yang harus dijaga. Negara bangsa NKRI meskipun bukan ideal dari Islam, tapi dengannya dapat terwujud maksud Islam, yaitu terciptanya keadilan sosial Islam.

Konsep Islam adalah Syura. Dewan Syura atau majelis perwakilan mengadakan musyawarah dan menghasilkan mufakat. Hasil mufakat tersebut itulah yang menjadi perdebatan. Belum lagi orang yang duduk di dewan perwakilan tersebut apakah benar-benar pilihan rakyat atau karena ada uang dan jaringan.

Maka hasil mufakatnya pun menjadi pertanyaan apakah cermin kehendak rakyat, atau menguntungkan pemodal dan segelintir kepentingan, atau bahkan berlawanan dengan kehendak Tuhan. Karena bagaimanapun kehendak rakyat bukanlah kehendak Tuhan. Kehendak rakyat tidak sama dengan kehendak Tuhan. Suara mayoritas bukan suara Tuhan. Bila rakyatnya bodoh maka ia akan memilih orang-orang bodoh sebagai wakilnya, dan akan menghasilkan keputusan bodoh.

Tapi kata Imam Syafii tidak mungkin kaum ulama bersepakat dalam keburukan. Bila orang yang duduk di dewan perwakilan disyaratkan memiliki kefahaman agama dan moral, tentu mufakatnya pun berusaha untuk sejalan dengan agama. Tidak semata-mata kehendak rakyat yang diwakilinya. Anggota dewan yang ilmuwan dan cendekiawan berada di tengah-tengah antara rakyat yang harus dicerdaskan dan doktrin agama yang harus dipatuhi.

Dalam Republik Islam Iran ada ‘Wilayah al-Faqih’ yang diisi oleh orang-orang yang betul-betul faham agama. Maka orientasi penguasanya pun bukan didukung tidaknya oleh rakyat, tapi seberapa besar dukungannya dari ‘Wilayah al-Faqih’. Seorang presiden atau pemimpin harus memiliki kefahaman agama dan akhlak. Dan bagi Al-Farabi seorang pemimpin negara al-Madinah al-Fadihilah haruslah seorang raja yang filsup. Titik tekannya ada pada orangnya (Who) dan itulah titik pangkalnya. Antara orang atau sistem selalu menjadi perdebatan mana diantaranya yang prioritas.

Demokrasi dalam pandangan Cak Nur dan Amien Rais adalah demokrasi yang melibatkan partisipasi rakyat, kebebasan berekspresi, menjunjung nilai keadilan, meningkatkan mutu pendidikan dan menuju masyarakat madani. Mengenai partisipasi rakyat jangankan di negara berkembang yang belum menjunjung tinggi demokrasi, di negara maju pun yang katanya pahlawan demokrasi, partisipasi rakyat belum dengan baik.

Ketika dihari mengadakan pemilu, banyak diantara mereka lebih tersibukkan dengan urusannya sendiri, keluarga, dan pekerjaan dan hal lain yang lebih memberi kenikmatan bagi dirinya.

Termasuk aku yang kesehariannya sebagai mahasiswa yang harus menjadi agen perubahan bagi lingkungannya, aku terlenakan dengan persoalan cinta yang tak pernah bosan dan habisnya memikirkan yang itu dan itu-itu saja. Kenikmatan yang begitu-begitu saja yang memenuhi otakku.

Tulisanku tak pernah menyinggung soal kondisi perpolitikan kampus, apalagi negara. Aku harus berpikir dalam memberi solusi untuk setiap permasalahan kampus dan negara. Aku pun tak terlibat aktif dalam organisasi pergerakan mahasiswa. Makanya aku dibilang oleh teman yang terlibat langsung, aktifis HMI, “Akh, kau janganlah hanya jadi pengamat saja, masuklah!”.

Bukan kenapa, aku hanya ingin jadi orang independen. Tak ingin langsung terjun  ke politik praktis. Aku ingin mengambil jarak dengan mereka. Aku hanya ingin dengan caraku sendiri dalam memberikan pembelajaran atau penyadaran kepada setiap mahasiswa.

Makanya untuk konsep OPM, aku ingin mempertemukan tiga organisasi ektra kampus, organisasi pergerakan kampus, HMI, PMII dan KAMMI. Mereka supaya duduk bersama dalam satu forum untuk memberikan pernyataan dalam membangun tatanan kampus yang ilmiah dan religius. Menuju pembebasan dari keterkungkungannya.

Semoga teman-teman bisa melihat itikad baik dari gagasan yang aku lontarkan. Pertarungan politik sudah menjadi realitas yang tak perlu ditutupi lagi. Ia harus ditampilkan ke muka supaya semua orang tahu dan pertentangan itu bisa dipandang secara positif, dalam rangka Fastabiqul Khairat.

*

Sekarang masih merumuskan landasan pemikiran proposal seharian penuh. Susah juga merangkai kata dengan baik dan runtut. Namun akhirnya kelar juga barusan jam setengah duabelas malam. Besok ada tugas kuliah yang belum aku kerjakan. Bagaimana ini aku belum menyelesaikannya. Ya Allah bangunkan aku subuh biar sempat mengerjakan tugas laporan keuangan yang harus kuselesaikan.

Konsentrasi pada proposal, tugas menganalisis UU No.10 tahun 1998 tak sempat pula. Kenapa aku gak bisa membagi waktu. Terasa begitu banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. Kadang aku berpikir dalam setiap even jurusan rasanya aku yang jadi tulas-tulis. Aku jadi merasa capai sendirian, sementara imbalannya nol. Apalagi sekarang aku jarang makan. Aku makin kurus saja.

Mau menghadapi bulan Ramadhan aku sudah mempersiapkan apa. ternyata aku belum siap apa-apa. Aku merasa semakin jauh dari Allah meski setiap hari ibadah salat. Apa karena jalan hidayah belum aku tempuh. Aku sudah tak sempat lagi menjadi pendengar setia MQFM, ngaji al-Matsurat dll. Waktuku terasa tidak cukup untuk melakukan segala kewajibanku. Kewajiban lebih banyak daripada waktu yang ada.

Untuk melepas lelah menulis proposal, barusan kutonton film “What a Girl Want”. Film ini bagus juga. Tentang sistem feodalisme di Inggris yang masih ada. Demi kedudukan, banyak orang yang mengorbankan hati nuraninya. Seorang Henry, sang ayah dari seorang anak perempuan adalah kandidat Perdana Menteri.

Henry yang di ruang kerjanya dipenuhi dengan buku-buku mengalami dilema apakah terus maju menuju kursi Perdana Menteri atau memilih keluarga. Namun ketika akan dicalonkan oleh kongres, ia akhirnya mengundurkan diri demi sebuah keluarga. Demi anaknya yang selama ini besar tanpa kasih sayangnya. Akhirnya ia bertemu lagi istrinya yang selama ini ditinggalkannya.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori