Oleh: Kyan | 04/10/2005

Detak Cemburu Dalam Merayu

Selasa, 04 Oktober 2005

Detak Cemburu Dalam Merayu

**

Akhirnya kuberanikan menulis surat untuknya. Aku ingin minta maaf tentang sapaan yang tak lagi hangat karena kesalahpahaman. Termasuk berkenaan akan memasuki bulan Ramadhan. Ingin aku menunjukkan perhatianku padanya. Aku ingin dia tahu bahwa aku begitu respek, bila bukan cinta disebutnya.

Meskipun sering ada saat-saat dimana kesalku begitu akut. Sehingga tiba-tiba rasa itu menjadi surut dan hilang. Tapi setelah beberapa hempas nafas, rasa itu muncul lagi kembali lagi. Cinta paripurna terus saja mengalami proses inkubasi. Mungkin benar cinta itu seperti air laut, dimana pasang dan surut silih berganti.

Ingin segera kubicarakan dengannya. Supaya persoalannya menjadi gamblang. Sehingga tak ada lagi beban yang berat kutanggung. Namun, mungkin karena aku merasa ketakutan: dia jadi milik orang lain, akhirnya tak jadi kusampaikan.

Aku tahu bahwa dia mengetahui akan sebuah pesonaku. Tapi aku ingin tahu bagaimana perasaannya terhadapku. Apakah dia merasakan apa yang kurasakan ataukah bertepuk sebelah tangan. Sering muncul pertanyaan, kenapa sih aku mencintai dia. Apa sih kelebihan dia. Bukankah tekadku aku sanggup mendapatkan yang lebih darinya, yang lebih cantik dari dia.

Mungkin aku belum menemukan seorang perempuan yang bertanggung jawab, yang punya semangat tinggi seperti dia, jadinya hatiku terus terpaut padanya. Ia begitu bersemangat dalam wirausaha.

Tapi bukankah aku ingin mendapatkan orang kaya? Tentu selain dia yang cantik juga satu hati dalam hobi, minat dan sebagainya. Bagusnya setiap pasangan harus saling melengkapi dan bisa saling menghargai akan perbedaan.  Kuinginkan dia yang berwawasan luas.

Kenapa hari-hari ini aku selalu memikirkan itu. Apakah karena aku kesepian. Seolah-olah tak ada yang peduli padaku. Aku harus sebaliknya memberi. Aku harus memberi perhatian pada siapapun. Jangan sekali-kali menyakiti perasaan perempuan bila aku tak mau disakiti lagi.

Selama ini aku selalu dekat dengan perempuan. kalau aku duduk di kelas sering mengobrol terlalu dekat. Yang paling sering itu duduk terlalu dekat dengan perempuan. Kalau dia suka padaku, pasti dia merasa cemburu. Tapi kok dia seakan tenang dan adem ayem saja.

Malah sebaliknya aku yang dibikin cemburu stadium empat. Kemarin dia di depanku malah menelepon cowok. Malam-malam lagi waktunya. Kontan saja aku seperti dijilati api, darah naik ke ubun-ubun tak terkendali, terbakar rasa cemburu. Panasnya bukan main. Aku tak ingin diperlakukan begitu. Makanya mulai saat ini aku harus menjaga jarak dan hati-hati kalau bertindak di hadapan perempuan. Tapi kalau duduk di perkuliahan atau di sebuah forum, ingin aku selalu duduk paling depan. Sebagai tanda berjiwa besar.

*

Menghilangkan kepusingan dan kepenatan hendak main ke kosan Sugabri. Sampailah aku di kosan Sugabri. Di sana ada Oman dan Amun, dua sejoli yang lengket kemanapun pergi. Namun disana malah kudapatkan detak cemburu dalam merayu.

Di kosan Robbi aku sekedar menonton TV, maklum di kosanku tak ada TV.

“Yan, ne gua telpon nih” tiba-tiba ia bicara begitu padaku. “Tak diangkat,” keluhnya. Namun tiba-tiba handphonenya berdering. Secepat kilat ia menyambar handphonenya. “Hah… nih, nelpon,” seperti bergaya belagu padaku.

Oman terus saja bicara. Sementara detak jantungku berdegup kencang, sekujur tubuhku serasa dijilat api. Aku bertanya-tanya kenapa kok dia mau nelpon seorang Oman. Aku merasa disaingi olehnya.

“Yan, ne Lia juga nelpon.” Dia mencoba menghubungi berulang kali. Kenapa aku merasa tak enak. Mungkin sekedar basa-basi, tegasku dalam hati. Teleponan antara Lia dan Oman, kenapa aku mesti merasa panas kuping. Apakah harus menggubris perasaan itu. Ah aku tak mau mengungkapkannya. Kenapa takut mengungkapkan? Apakah karena takut ditolak atau memang karena tak mau pacaran?

Jika pacaran, kupikir memang setelah jadian mau gimana? Kenapa harus pacaran. Sejak dulu juga sudah ada rasa saling memiliki, saling memberi dan menerima. Sekarang yang aku ingin tahu, dan segera ingin mengeceknya, tumben malam-malam dia nelpon cowok, pake handphone sendiri atau nelpon wartel.

“Man, kenapa mereka bisa nempel” tanya Amun. “Pake ilmu pelet kale” timpal Oman. “Anak Tasik buat simpati cewek ya pakai pelet lah”, tambahnya.

Menurutku kalau orang bisa terkena godaan syaitan, berarti lemah imannya. Atau Oman sengaja biar aku cemburu. Tapi bener yang dia sampaikan, kita gak boleh merasa ganteng, pintar, atau punya kelebihan lainnya. Aku harus mengevaluasi diri. Apakah aku selama ini merasa paling pintar.

Kenapa aku merasa cemburu. Padahal wajar dia memberi perhatian pada temannya. Aku posesive banget. Kenapa timbul perasaan ingin mencintai dan dicintai. Itu anugerah Tuhan bila aku mencintai dia. Itu fitrah anak manusia. Tapi permasalahannya mau diarahkan kemana hubungan selanjutnya. Positif atau negatif.

Mungkin Oman tuh mau mengujiku sudah seberapa jauh rasa cemburuku, menguji kecintaan dan kesabaranku. Sifat cemburu itu wajar, cuma jangan sampai berlebihan saja. Yang penting aku akan tetap memberi perhatian terhadap keluh kesah orang.

Aku harus menghilangkan rasa iri dengki dan dongkol cinta yang menodai, atau cemburu yang berlebihan. Aku harus yakin jika dia itu milikku dia tak akan kemana-mana. Aku yakin perempuan yang bakal menjadi pendampingku adalah perempuan yang bisa menjaga dirinya. Aku mencintai atas nama Tuhan.

Ya Allah, berilah hamba ketenangan batin. Hanya kepasrahan yang bisa kulakukan terhadap-Mu…[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori