Oleh: Kyan | 07/10/2005

Disiplin dan Tanggung Jawab

Jum’at, 07 Oktober 2005

Disiplin dan Tanggung Jawab

**

Sampai jam duabelas belum tidur. Masih mengutak-atik komputer. Aku ingin bisa install windows. Namun sampai jam 12 belum tahu jalan keluarnya. Kompuerku sudah banyak virusnya. Nanti gak bisa lagi menerima disket.

Bila itu terjadi, salah satu pemasukan jadi tutup. Daripada ribet kena virus, komputer sering trouble, kucoba direstart. Ini juga sudah lelet banget. Maklum Pentium satu. Mau beli lagi komputer lebih baru, uang darimana. Lagian masih punya hutang ke Dian Rp. 400.000,-

Apalagi beli hape, itu belum ada rencana dalam pikiranku. Dulu aku sering kesel karena punya hape. Bikin aku boros. Tapi sekarang gak punya hape, jadi sering marah-marah tak mempermudah komunikasi.

Hikmahnya syukurilah apa yang ada. Yang ada jangan terlalu mengharapkannya. Namun tetap berusaha untuk mendapatkannya. Hidup ini jangan dibuat pusing dan kesal. Seharusnya aku bersyukur karena beruntung masih punya sesuatu yang tidak dipunyai orang lain. Aku punya komputer walaupun jelek, punya segalanya yang orang lain belum tentu punya. Yang ini ada harus disyukuiri penuh arti.

Sekarang komputer masih belum bagus. Office-nya gak jalan. Mungkin nanti juga bakal jalan lagi. Sekarang waktunya mungkin harus dipakai buat baca atau belajar materi kuliah. Karena akhir-akhir ini waktuku habis selalu di depan komputer. Waktu belajar untuk kuliah jarang sekali.

Padahal itu bidangku yang harus lebih dikuasai. Yang memungkinkan nanti dapat meniti karir yang menyelamatkan masa depanku. Aku harus bersyukur dengan apa yang ada. Aku harus bersyukur atas apa yang telah ada. Segala puji milik-Mu ya Tuhan.

Hidup dibuat susah ya susah. Hidup dibuat santai bisa santai. Cuma santai disini bukan berarti malas. Harus santai seperti anggapan orang-orang Barat dan Jepang. Jangan santai seperti orang Indonesia.

Aku orang Indonesia tapi kebiasaan-kebiasaanku jangan seperti orang Indonesia pada umumnya. Aku harus berkaca pada orang Barat atas sikap disiplin dan tanggung jawabnya. Tapi jangan lupa tradisi orang Timur juga harus diperhatikan.

Namun sekarang aku begitu malas untuk mengerjakan tugas kuliah. Kenapa aku harus bergadang terus. Bukankah tak baik efeknya nanti jika sudah usiaku empatpuluh tahun. Bakal sering dijangkiti penyakit. Semakin tua semakin rawan penyakit. Aku harus menerapkan pola hidup sehat sejak sekarang. Perilaku sehat seperti makan teratur dan olahraga teratur.

*

Aku rindu saat-saat kecilku. Di bulan Ramadhan waktu kecilku, ketika kelas empat, sudah bisa khatam Alquran dalam sebulan Ramadhan. Rajin puasa sunnah, Tahajud dan ibadah lainnya. Namun sekarang aku begitu berbeda. Sekarang bawaannya malas, pemarah dan sering bergadang.

Akhir-akhir ini aku begitu malas melakukan apa saja, termasuk mengulang pelajaran. Aku ingin memuntahkan amarah dengan situasiku saat ini. Tapi ini Ramadhan harus mampu meredam amarah.

Dulu bisa khatam sekarang mana bisa. Mungkin sekarang aku berpikir banyak umat Islam membaca Alquran, namun tidak mengerit apa yang ia baca. Apalagi mengamalkannya. Memang membaca saja memperoleh pahala, namun jangan sebatas itu. Makanya aku lebih memilih untuk baca tafsirnya.

Tapi dalam Ramadhan ini aku tidak bisa menyempatkan waktu . Aku harus bisa meluangkan waktu untuk baca terjemah dan tafisr Alquran. Meskipun sibuk dengan tugas seorang anak kuliah. Begitu banyak tugasku  yang harus kuselesaikan. Namun aku begitu malas untuk mengerjakannya.

Ya Allah lindungilah hamba dari sifat malas. Karena kupotong rambut, banyak yang memujiku. Segala puji bagi Allah. Hidup terasa damai kalau kita saling menghargai. Memuji atas prestasi seseorang. Aku harus bersyukur. Aku harus semangat. Aku harus ceria dan menebar senyuman. Aku harus membahagiaakn orang lain. Aku mencintai seseorang begitu ikhlas karean Tuhan.

Ya Allah jika sekiranya itu baik buatku maka permudahlah. Namun bila itu bukan untukku maka ganti dengan yang lebih baik. Engkau Maha Tahu apa yang terbaik untukku. Aku serahkan segalanya kepada-Mu ya Tuhanku.

Aku mendengar curhatan Dudi dan Aceng tentang masalah keluarganya. Bukan kita saja yang punya masalah berat. Orang lain pun banyak yang dihadapi masalah yang lebih berat. Bahagia ada di hati. Aku lebih memilih bahagia. Dengan rasa bahagia terasa perjalanan hidup ini begitu menyenangkan.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori