Oleh: Kyan | 12/10/2005

Tentang Teman dan Masa Kecilku

Rabu, 12 Oktober 2005

Tentang Teman dan Masa Kecilku

**

Hari-hariku sibuk dengan mengutak-atik proposal. Kemarin sudah membuat format baligo dan spanduk. Eh gak disave, akhirnya hari ini harus kubuat lagi desainnya. Tapi kekesalanku terobati oleh kedatangan Reza ke kosanku. Dia mengajakku main ke depan kampus untuk ngabuburit. Gerbang kampus sangat ramai bila menjelang waktu buka puasa.

Memang sangat mengasyikan menunggu buka puasa di sana. Timbul keinginan bila aku menunggu buka puasa bersama orang-orang tersayang. Tapi hari ini aku senang banget bisa buka bareng dengan teman-temen MKS.

Siapa yang tidak senang bila ada yang traktir. Biaya akomodasi buka bareng semua ditanggung oleh salah satu temanku, Reza. Dia sekarang katanya sudah kerja jadi Panwaslu Pilkada Kabupaten Bandung. Teman satuku ini mungkin dibilang paling royal. Tapi sangat menguntungkan buatku yang keuangannya pas-pasan.

Selain baik, dia juga hebat segi otaknya. Kalau ada peer kuliah, dia selalu berusaha untuk mengerjakan sendiri. Bahkan punya orang lain pun dia kerjakan sendiri. Maksudnya punya perempuan yang katanya dia suka padanya. Rupanya teman satuku ini sedang ‘fall in love’ pada teman sekelasnya.

Waktu aku main ke rumahnya, aku diajak jalan-jalan ke Gardu, tempat santai atau katakanlah villa-nya keluarga dia. Kami makan–makan yang katanya menghabiskan Rp. 200.000,- kami membakar daging ayam berlima. Bergadang sampai jam dua pagi.

Sebenarnya aku tidak biasa begini. Begadang sampai subuh hari. Tapi mungkin begitulah kehidupan teman satuku ini bersama teman-temannya. Tapi kukira dia bisa membagi waktu.

Berkumpulkan bersama teman memberiku sebuah perenaungan. Ini memberikan kesadaran bahwa suatu saat nanti orang-orang yang aku sayangi lambat laun akan meninggalkanku satu per satu. Maka setiap moment kebersamaan dengan mereka haruslah sangat bermakna. Meksi mungkin suatu saat bakal bertemu lagi, tapi pasti kedatangannya bahwa akan datang suatu masa antara aku dan orang-orang tersayang itu tidak akan bertemu lagi. Selamanya.

Maka tidak boleh bahagia berlebihan dan bersedih berlebihan dalam kebersamaan itu. Sewajarnya saja menikmati hari-hari. Sudah aku alami dalam hidupku, beberapa kali aku meninggalkan dan ditinggalkan oleh orang-orang yang aku sayangi. Tapi begitulah kehidupan yang sementara ini.

Sewaktu kecilku di kampungku di Tasik Selatan, teman-teman main dan sekolah SD dan SMP yang akrab denganku adalah Hasyim, Dede, Euis, Lusi, Mu’lin, dll. Wajah-wajah mereka masih jelas terbayang dan tergambar di benakku. Banyak penggalan-penggalan kenangan yang terukir di benakku. Teman sebangku, teman yang sempat berkelahi, teman perempuan yang kusuka. Pokoknya masih banyak teman-temanku yang entah kapan aku bisa bertemu lagi dengannya.

Kudengar kabar Hasyim sekarang sudah jadi seorang ustadz. Dia adalah teman main dan sepengajianku di Kang Yusuf Taziri. Bagaimana kabar guru-guru kecilku disana. Mereka sangat berjasa bagi pembentukan pola pikirku sekarang ini.

Dede, teman sekelasku katanya sekarang kuliah di Yogya. Lusi sudah menikah dan sudah punya anak. Apakah dia sempat tahu bahwa aku pernah suka padanya, mencintainya? Biarlah ini jadi kenangan dan realitasnya sekarang dia sudah menjadi milik orang. Tak boleh diganggu rumah tangga orang dengan ungkapan perasaanku. Toh itu hanya perasaan sesaat remaja saja.

Begitu pun Euis Marlina. Temanku bilang bahwa dia pernah suka padaku. Mungkin begitupun aku suka padanya. Tapi entah sekarang dimana keberadaannya. Aku rindu sekali pada mereka teman sepermainanku di masa kecilku dulu.

Satu lagi perempuan cantik dimataku adalah Ryan Haeryan. Diapun sudah menikah dengan lelaki yang orang tuanya kaya dan terpandang di desaku. Meskipun kehidupan si lelaki itu bandel tukang mabuk-mabukan, karena orang tuanya terpandang siapa yang tidak menginginkan dapat berbesan dengan orang terpandang.

Suatu saat nanti apakah aku bakal mendapat jodoh orang kampung lagi sepertiku? Tak tahu yang penting belahan jiwaku adalah satu karakter. Dia mau menerimaku apa adanya. Aku yakin perempuan yang menjadi jodohku itu adalah perempuan yang aku sukai sepanjang hayatku. Sebenarnya masih panjang ceritaku tentang masa kecilku.

*

Setelah salat subuh aku mulai mengerjakan tugas Matematika. Harus sudah selesai sampai jam masuk kuliah Matematika, jam 08.00. Selesai juga akhirnya dan langsung melanjutkan mengurusi surat-menyurat OPM. Tapi kenapa aku harus marah-marah.

Mungkin seminggu ini bisanya aku marah-marah yang tersirat, marah yang tak kumuntahkan, yang sejak hari-hari kemarin masih bisa kubendung. Karena tadinya aku akan lebih banyak diam. Tapi ketika banyak orang yang berkomentar, termuntahkan juga segala unek-unek dan kekesalanku. Ingin saja bicara, memberi komentar.

Aku meminta Wati supaya mau menemani aku ke Pak Syarif. Aku ingin tahu bagaimana caranya mengajukan proposal. Sekalian minta koreksi rancangan proposal. Ia menyarankan harus ada yang dikoreksi lagi. Sebelumnya sudah dikoreksi sama pak Anton.

Jadi sudah dua orang yang diminta untuk menanggapinya dan sudah dua kali merevisinya. Berarti kalau minta tanggapan 10 orang buat menanggapinya, pasti bakal ada 10 kali revisi. Memang dengan banyak masukan dari orang-orang akhirnya bakal lebih sempurna. Begitulah proses menuju sempurna, harus ada learning process. Kalau tidak ingin cape yaa sudah. Lakukan saja segala hal yang kita yakini benar.

Pulang dari pak Syarif, aku, Ully, Veri dan Wati jalan bareng ke depan kampus. Tapi di depan gerbang kampus, kami berpisah. Aku dan Veri pulang menuju kosanku sedangkan Ully dan Wati pulang ke kosan Wati.

Sampailah aku di kosan dan langsung kutunaikan salat Duhur. setelah salat Duhur langsung merevisi proposal lagi. Lalu jam dua lebih, Ully dan Wati tiba di kosanku. Mereka mau ikut membantu mengedit proposal. Soalnya lebih banyak otak bakal lebih baik.

Sebelumnya, kemarin hari Senin proposal sudah dibaca Aceng dan Siti Nuraeni. Masih saja ada kesalahan disana sini. Itulah manusia tidak luput dari kesalahan. Dan wajar pula orang kan punya mulut, pasti ingin memberi komentar kalau di sekitarnya ada sesuatu yang tidak sesuai dengan nalurinya. Itu bagus sebagai bukti kepekaan dirinya. Kalu sudah tidak peka berarti nuraninya sudah tumpul.

Bukan tumpul mungkin, tapi terhalangi, terhijabi, terendam dalam lumpur kemunafikan. Karena sifat-sifat ilahi akan tetap ada pada dirinya. Masalahnya seberapa jauh dia dapat mengasah hatinya. Sehingga ketika sedikit melenceng dari orbit ke-Tuhan-annya, muncul alarm God Spot. Semakin jauh ia melenceng semakin keras bunyi alarm itu mengingatkan atau memberikan kesadaran. Kalau tingkat spiritualitasnya tinggi, maka secara refleks ia mampu kembali ke titik Ilahi.

Tentang God Spot, anggukan universal kuperoleh dari buku ESQ. Pak Karsono, dosenku belum juga bawa VCD ESQ. Ingin sekali aku menontonnya. Mengandalkan orang lain memang susah. Lebih baik beli sendiri kalau ada uangnya. Tapi harganya terlalu mahal buat mahasiswa kere seperti aku ini…[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori