Oleh: Kyan | 16/10/2005

Dalam Memandang Sesuatu

Ahad, 16 Oktober 2005

 Dalam Memandang Sesuatu

**

Kuliah di hari Sabtu, matakuliah Kuliah Bank Komersial Syariah tentang distribusi bagi hasil. Pelajaran dulu waktu semester dua Akuntansi Syariah. Aku bilang ke pak Karsono, dosen BKS kami ingin pinjam VCD ESQ, tapi belum dibawa. Aku malu untuk menanyakannya lagi. Malu bertanya, ya sudah gak bakal jalan.

Dosen Manajemen Keuangan Syariah tak ada, padahal banyak tugas. Aku memperbincangkan masalah OPM saja dengan teman-teman. Aku menggerutu dalam hati bahwa tugasku sudah selesai. Aku tidak ingin lagi terlibat, aku cape.

Aku datang lagi ke pak Syarif untuk konsultasi bagaimana penyebaran proposal ke perusahaan. Proposal gak dikoreksi lagi sama pak Syarif. Masa revisi terus. Dan karena ada beban moral, aku ingin mengkelarkan OPM hinggga punya dana cukup buat pelaksanaannya.

Suatu saat nanti aku tak ingin lagi jadi panitia kalau hasil kerjaku tidak dihargai. Buat apa aku bekerja jika tak ada yang menghargai jerih payahku. Meskipun yang dapat menilainya secara adil hanyalah Tuhan.

Memang manusia mau bagus ataupun jelek dari hasil kerja kita, selalu saja ada orang-orang memberi komentar macam-mcam. Itulah manusia yang tidak mengerti arti sosial. Apakah aku termasuk itu, yang mengerti sosial?

Aku tidak ingin jadi orang-orang seperti mereka. Aku harus menghargai pekerjaan seseorang sekecil apapun pengorbanannya. Jerih payahnya harus dihargai sebagai penghormatan atas kucuran keringatnya. Meskipun banyak alasan mengapa orang tidak menghargai itu katanya karena alasan aturan, demokrasi lah atau apapun.

Mungkin juga benar apa yang mereka sampaikan dengan komentarnya itu. Namun caranya itu kadang tidak tepat cara dan tepat sasaran. Ia sekdar hanya memberi tahu yang salah dan atau kurang tepat.

Kenapa juga aku tidak mampu membuat orang lain senang. Kenapa dan apa yang aku lakukan dan katakan selalu mengundang kemarahan orang lain. Yang namanya pergaulan pasti bakal ada gesekan-gesekan yang tidak diinginkan. Karena setiap orang punya karakternya masing-masing yang berbeda-beda. Jadinya aku ingin marah pada diri sendiri.

Aku ingin, teman-temanku bisa senang berkat berkawan denganku. Aku dapat bermanfaat bagi orang lain. Aku harus memahami diriku dan orang lain. Kemarahan dan kedongkolan harus dapat diredam dengan rapi dibalik jeruji mentalitas diri.

Namun boleh saja marah, tapi terkendali. Rasul juga pernah marah. Marahnya harus karena Allah. Setelah memahami keadaan seperti ini apa aku bisa merealisasikan dalam kehidupan sekarang sejak detik ini. Aku harus bisa dan aku yakin bisa. Meskipun kadang-kadang terperosok.

Terperosoknya jangan terlalu dalam. Jatuh ke dalam lubang yang sama dua kali bukanlah karakter muslim yang ideal. Aku mau melakukannya. Aku lebih banyak diam daripada berkata-kata yang berbisa. Tak ada yang menyesal ketika kita diam dalam memandang sesuatu, begitu kata orang-orang besar.

 

*

Di hari Minggu seharian ini aku gak kemana-mana. Di kosana saja mengutak-atik komputer jelek. Monitor yang tanpa box-nya aku ambil dari tukang service. Sudah beberapa bulan disimpan di sana, lebih baik aku ambil saja. Toh tanpa box masih bisa menyala untuk dapat kugunakan kembali.

Berarti sekarang tinggal beli CPU-nya. Kalau tidak Pentium Empat, Pentium Tiga atau Dua juga lumayan. Kapan aku mampu kubeli komputer layak. Malah sekarang ingin membeli speaker dulu. Tapi bila dipikir-pikir, untuk speaker masih ada alternatifnya. Ingin lagi punya tape recorder. Terus saja bermunculan banyak keinginan.

Sekarang mah harus dilunasi dulu hutangku. Hutangku sudah segini besar. Tersisa hutang Rp. 250.000,- ke Dian dan Rp. 200.000,- ke Dudi. Gak enak hidup bergelimang dalam hutang. Tak nyenyak tidur bila terus memikirkan hutang.

Biasanya kalau orang berhutang itu untuk hal-hal produktif. Tapi aku berhutang untuk kebutuhan vital, yaitu tempat tinggal. Pangan, sandang dan papan adalah kebutuhan primer. Tambah lagi satu kebutuhan primer yang yang tidak boleh dilupakan, yakin sarana ilmu. Seperti pendidikan dan segala tetek bengeknya. Kebutuhan primerku belum terpenuhi semuanya. Berarti aku masih tergolong miskin.

Sampai kapan aku terjerat dalam kemiskinan. Aku harus berusaha dan merubah kemiskinanku menjadi pemacu semangat. Setidaknya aku harus lebih baik dari keadaan keluargaku yang berantakan.

Makanya aku mau cari istri orang atau anak orang kaya saja. Kalau aku kawin dengan orang miskin lagi makin tambah saja penderitaanku. Meskipun harta bukan segalanya tapi ia bisa jadi sarana untuk beribadah pada Allah. Sekuat tenaga kugunakan segala kreativitasku agar kenal dengan perempuan kaya. Aku yakin aku bisa mendapatkan perempuan kaya. Kalau aku ‘keyeng tangtu pareng’, Man Jadda wa Jadda.

Aku harus memulai dari diri sendiri. Aku harus berjiwa kreatif inovatif. Berparadigma integralistik membangun jaringan Islam internasional. Era informasi dengan internet sebagai medianya harus dioptimalkan untuk membangun peradaban Islam yang ketiga kalinya. Menyambut kedatangan Imam Mahdi kita gak boleh pasif.  Tapi kita harus menyambut kedatangannya dengan menyiapkan segalanya.

Di sisi lain masalah Islam secara global. Dan disisi lain aku sebagai individu yang butuh kasih sayang sebagai anak manusia, sebagai anak muda. Aku ingin mencintai dan dicintai oleh seorang perempuan. Tapi kemana dia perginya itu.

Omong-omong, ada Sani main ke kosanku. Dia miscall Uly. Dia balas miscall. Mungkin karena penasaran, Uly mengirim sms. Lalu dibalas oleh Sani dengan jawabn: I love u. Apakah dia tahu itu pesan dari siapa.

Meskipun basi, biasanya perempuan senang digombalin. Katanya setiap orang butuh pujian dan penghargaan. Asalkan jangan berlebihan saja sampai lupa segalanya. Ingat: setiap orang membutuhkan pujian dan penghargaan. Dan yang lebih penting siapapun tak ingin direndahkan.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori