Oleh: Kyan | 18/10/2005

Malu Mengatakan Menikah

Selasa, 18 Oktober 2005

Malu Mengatakan Menikah

**

Sebenarnya aku malas sekali menulis catatan harian. Apakah karena sibuk sebagai alasannya, aku tidak tahu. Padahal kesibukanku mulai berkurang sekarang. Mungkin karena aku kurang tidur, jadi waktuku ingin mengganti jam tidur minggu-minggu lalu. Kalau istirahat cukup terasa badanku nyaman, jerawat pada sembuh. Pake Biore Antiacne System Facial and Moustruizer.

Mungkin makan juga sedikit diperhatikan kandungan gizinya. Untuk merawat tubuh dan rohani memang perlu modal. Terutama uang yang notabene berupa materi. Dunia materi selalu berkaitan dengan dunia idea. Semuanya saling berkaitan[1] semuanya diciptakan tidak dalam kesia-siaan. Semuanya harus seimbang antara unsur materi dan rohani.

Aku ingin giat lagi menulis catatan, akibat baca buku 100 Muslim Terkemuka yang diterbitkan Pustaka Firdaus. Katanya Ibnu Sina diusia 17 tahun sudah bisa mengobati penyakit sang Sultan, yang tak ada satupun dokter istana yang mampu mengobati penyakitnya. Al-Farabi juga mampu berbahasa puluhan bahasa, bisa mengetahui percakapan isyarat kalangan raja. Ilmuwan-ilmuwan Islam pada pinter semua. Jikalau mereka itu bisa, aku juga mampu.

Terlepas apakah sarana dan prasarana yang tersedia lengkap atau tidak. Setidaknya aku sudah mempersiapkan pondasinya. Aku ingin membuat perpustakaan terlengkap secara pribadi. Nanti bisa dimanfaatkan khususnya untuk anak-anakku, cucu-cucuku dan generasi penerusku. Supaya mereka menjadi ilmuwan-ilmuwan yang dibutuhkan umat. Untuk mengembalikan kegemilangan Islam. Sampai semuanya, tiada ketundukan selain kepada dan milik Allah sebagai pemilik mutlak semesta raya.

Selepas Duhur aku dan Dian muter-muter Bandung masukin proposal kegiatan. Baru pertama kali pengalamanku mengedarkan prospoal ke perusahaan-perusahaan. Sambil hujan-hujanan kami ke Bank Muamalat, BRI Syariah, Takaful dan Bank Jabar Syariah. Kalau ke BNI kami ditolak. Katanya sudah mau ditutup pembukuannya, tanggung akhir tahun. Ya aku pasrah saja.

Seharusnya kami selaku kaum cendekia ekonomi syariah bisa memberi sesuatu pada LKS, ini malah meminta-meminta dana. LKS baru berdiri sudah diporotin. Seharusnya kami mengerti dan memahami. Lain kali kalau mengadakan kegiatan harus swadaya sendiri, ndak boleh meminta-minta. Nanti jadi kebiasaan. Harus berdikari, berdiri dengan kaki sendiri, jangan pakai kaki orang lain untuk dapat berdiri.

*

Aku bawaannya pingin tidur mulu. Aku begitu malas sekali. Mungkin karena gak ada tugas, baik tugas kuliah maupun tugas organisasi. Namun hari ini kucoba untuk jualan stiker, aku sudah tawarin ke temen-temen, baru laku lima lembar.

Harganya cuma limaratus perak. Kalau dilihat dari finansial, sedikit. Tapi dari sisi pengalaman aku banyak mendapat pengalaman bagaimana susahnya mencari uang. Susahnya supaya konsumen tertarik dengan barang-barang yang kita tawarkan. Belum sempat aku tawarin ke semuanya. Baru beberapa orang.

Kuliah Matematika tentang turunan. Aku mencoba ke depan kelas untuk mengisi jawaban. Eh salah, malu-maluin. Tapi aku sudah mencoba dan berani ke depan kelas. Itu sebuah prestasi. Kalau dulu aku begitu malunya untuk dapat tampil ke depan.

Dalam diriku, sejak dulu ada potensi sebagai orang yang berani. Dalam suasana kelas kalau dikasih kesempatan maju ke depan selalu muncul dorongan ingin ke depan, tapi banyaknya terkalahkan oleh  rasa malu. Suka takut malu-maluin. Tapi kan dalam tahap belajar, tidak apa-apa salah, yang penting di sini ada pembentukan watak kepribadian atau mental.

Ada satu lagi kelemahanku yaitu kalau ngomong selalu cepet. Ingin kalau bicara tuh tenang, kalem, gak gurung-gusuh. Aku harus menyadari dan mengkonsentrasikan pikiran kalau aku ngomong. Aku ingin pandai beretorika. Seperti lagu Bang Iwan Fals, “Latihlah bibirmu agar pandai berkicau. Sekolah hanya untuk gengsi”.

Ada kuliah lagi jam 3.30 sore, Asuransi Syariah. Aku telat masuk. Waktunya dimajukan ke jam 3, pantesan aku bisa telat. Kenapa ya setiap mata kuliah pak Yudi, dosennya selalu menanyakan kami kapan menikah? Mentang-mentang dia orang Asuransi Takaful Keluarga. Beliau Finansial Planner keluarga. Ketika aku ditanya, aku jawab 28 tahun. Dia bilang padaku dijamin dalam usia 28 tahun masih miskin.

Emang sih biasanya kalau menata keuangan sejak menikah saja, oleh istrinya. Jarang kalau masih lajang bisa mengumpulkan kekayaan. Inginnya hura-hura mulu. Tapi sejak sekarang aku mulai mengumpulkan aset untuk menikah. Ilmunya terutama.

Pulang kuliah aku main ke kosan Uly. Sudah lama gak kesana. Sekalian mau minta tolong suruh menelepon LKS. Dia pandai ngomong, beretorika, berargumen di depan publik. Aku ingin seperti dia, pinter ngomong.

Sedangkan aku bawaannya selalu kalem dan pendiam. Bagusnya tak apa pendiam, tapi ketika disuruh berargumen setiap kata yang terucap harus mengandung makna yang dalam, padat dan jelas, bisa dimengerti. Hal yang ingin disampaikan dimengerti oleh forum. Semuanya memang memerlukan latihan dan pembiasaan (Habit)…[]

**


[1] berdialektis


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori