Oleh: Kyan | 19/10/2005

Rina: Sudah Empat Tahun Lebih

Rabu, 19 Oktober 2005

 Rina: Sudah Empat Tahun Lebih

**

Meskipun hujan-hujanan, tapi aku memaksakan datang ke Unpad karena sebuah janji. Aku merasa senang bahagia bisa ketemu sobat lamaku. Ketemu dengan orang yang mungkin pernah aku suka ketika SMU-ku dulu. Namanya Rina Anggraeni. Orangnya pintar dan kalem. Aku suka padanya, karena aku melihat dia ada perubahan pada dirinya.

Awalnya dia gak berkerudung ketika kelas satu dan dua, tapi perempatan kelas tiga dia memutuskan merubah penampilannya dengan berkerudung. Dia cantik, meski cantik itu relatif. Masih ada sih yang lebih cantik dari segi fisik, tapi buat apa kecantikan fisik kalau tidak disertai dengan kecantikan hati.

Aku butuh seseorang yang cerdas dan berpandangan luas. Pokoknya aku bahagia banget jika bisa bertemu dia. Dan sekarangpun aku seneng. Akhirnya aku bisa bertemu dia lagi dengannya. Rina Anggraeni yang mengingatkan aku pada satu nama hotel di Batam. Ketika aku berangkat ke tempat kerjaku, angkot yang kutumpangi selalu saja melewati satu hotel dengan namanya. Jadinya selalu kuingat dia.

Aku tak bertemu dia sudah empat tahun lamanya. Dan ketika bertemu lagi sekarang, aku bisa melihat sisi-sisi yang berubah dan tak berubah dari dirinya. Kalau dari sisi fisik, dia tak ada perubahan yang yang signifikan meskipun pada dasarnya wajah seseorang setiap detiknya selalu berubah terus. Ya, aku melihat Rina yang dulu dengan yang sekarang berubah itu sudah pasti. Rina yang detik ini aku lihat dengan detik sebelumnya pasti sudah berubah.

Namun yang pasti wawasannya sudah semakin luas. Dia memang paling pintar di kelas. Jika tidak pintar mana bisa masuk Farmasi UNPAD. Dan sekarang dia sudah mau menyusun skripsi. Satu kata yang melingkup semuanya: Hebat. Sedangkan aku baru setahun ini saja masuk kuliah. Aku harus segera selesai untuk mengejar ketertinggalanku dari teman-teman seangkatanku tahun 2002.

Selain ingin ketemu dia, aku juga mau ketemuan sama temennya dia. Namanya Siti Fauziyah Zida Sutisna. Tapi aku sering memanggilnya Liza. Emang dia ingin dipanggil dengan nama itu. Aku kenal Liza sudah dua tahun lebih. Sejak di Batam aku sudah kenal begitu dekat dengan dia.

Mungkin sedikit tahu karakternya. Karena sering bertukar pandangan. Meskipun secara rasa sudah dekat, tapi sampai saat ini aku belum melihat tampangnya. Aku belum tahu cantik apa biasa saja. Kaya apa atau bagaimana. Mungkin bisa diibaratkan aku dengan dia seperti Kahlil Gibran dan May Ziyadah yang terpaut hati cuma dengan saling berkirim surat.

Kupikir rasa penasaranku bisa terobati. Ternyata Rina bilang hari ini dia gak bisa datang bertemu. Akh, memang belum jodohnya bertemu. Suatu saat nanti juga bakal ketemu.

Setelah ketemuan sama Rina, aku telpon dia. Dia jawab sudah ada di rumahnya. Rina bilang sama ortunya dikasih rumah sendiri. Enak banget. Aku paksa dia supaya aku bisa bertemu hari ini. Dia gak mau dengan alasan takut melihat tampang kusutnya. Karena hari ini dia habis kehujianan. Tak jadi aku bertemu orang yang selama ini kunanti-nanti.[]

**

Gila nelpon ke hapenya habis Rp. 21.000,- padahal bentar banget. Hanya demi seorang perempuan biasanya siapapun lelaki selalu mengorbankan apa saja. Dan kenapa juga waktu itu aku tidak sms saja. Ini malah inginnya telepon.

Apakah ini bukti bahwa aku suka tergesa-gesa, rusuh. Handphone ada mendingan sms yang tak mengeluarkan uang banyak. Pemborosan. Uang segitu lebih baik dipakai buat membeli buku. Sudah terjadi kenapa juga mesti disesali. Ini harus menjadi hikmah. Jangan semata-mata demi perempuan yang belum jelas sudah mau mengorbankan apa saja.

*

Janji bertemu dengan Liza, tak jadi terus. Belum jodohnya mungkin. Orang bilang, segala sesuatu ada saatnya. Dia anak Farmasi Unpad, orang Purwakarta. Aku kenal dia sudah lama banget. Sudah dua tahun lebih. Namun aku belum melihat mukanya.

Tapi liciknya dia sudah melihat mukaku. Semakin hari semakin penasaran saja aku. Ibaratkan sebuah permainan hidup. Pertemuan dan perpisahan, itulah siklus kehidupan. Pertemuan biasa diiringi dengan kebahagiaan dan perpisahan biasa diiringi tangis derita. Bagi orang yang tidak sabaran, yang tak mengerti sebuah kehidupan, pertemuan adalah bahagia dan perisahan adalah siksa.

Setelah kutunaikan salat subuh, dilanjutkan dengan mengutak-atik komputer, hingga lupa mandi pagi. Tak tahunya sudah jam tujuh. Aku tidak mau kesiangan lagi mata kuliah PAI. Sudah beberapa pertemuan aku kesiangan terus. Karena harus menyelesaikan tugas dulu yang belum kelar. Dan hari ini gak ada tugas, masa mau kesiangan lagi. Kalau berpikir kesiangan aku bakal kesiangan. Tapi kalau aku mampu tidak bakal kesiangan, gak bakalan kesiangan.

Sampai di kampus, ternyata dosennya gak ada. Namun ada sesuatu yang membuatku kesal dibuatnya. Begitu aku masuk ruangan kuliah, aku langsung mendapat sambutan kata-kata yang aku tidak ingat lagi mereka mengatakan apa. Namun yang pasti sangat menyakitkan hatiku. Mereka para reaksioner yang ketika bicara sering tanpa mengedepankan etika. Mereka langsung mengeluarkan kata-kata yang tanpa dipikirkan dahulu bakal menyinggung atau tidak.

Aku harus menyadari bahwa setiap kata-kata yang keluar dari mulutku akan menjadi paduka atau bisa. Akhirnya aku lebih baik banyak diam seribu bahasa, daripada berkata-kata yang terucapkan bisa menusuk jantung, lebih menyayat hati mereka.

Mungkin aku salah, yang sudah beraninya menandatangani atas nama ketua Pengurus KBMP. Tapi bukankah aku adalah sekretaris-nya. Aku memang merasa bersalah, kenapa sewaktu menandatangi surat itu tanpa dipikirkan dahulu. Kenapa aku tidak berpikir, dengan menandatangai itu surat, bahwa aku telah mendahului pak Ketua. Salahnya ketua pengurus suka jarang di kampus.

Menjadi permenungan kejadian tadi. Kenapa setiap kata-kata yang keluar dari mulut kita jarang kita sadari. Sadarkah itu bakal melukai hati seseorang atau tidak. Dulu aku pendiam, sekarang aku banyak bicara karena takut dianggap bisu. Tapi ketika bicara malah membikin luka hati mereka.

Bahkan aku pernah dibilang, percuma banyak baca, namun kosong. Ini kata-kata yang sangat menyakitkan. Kata-katanya begitu menusuk. Kenapa aku tidak tetap berpegang pada pepatah lama“tong kosong nyaring bunyinya”.

Kenapa aku tidak menyadarinya. Kenapa juga ketika menyuruh seseorang atau mendelegasikan sesuatu dan ketika hasil pekerjaan orang yang ditugasi itu tidak sesuai dengan keinginan kita, kita susah untuk mengapresiasi dengan menghargai jerih payahnya.

Memang hidup harus disertai kesabaran. Sejauh mana kita sabar ketika ada sesuatu yang tidak sesuai kehendak kita. Syukur dan sabar hanya itu bekal hidup yang membuat kita bahagia.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori