Oleh: Kyan | 22/10/2005

Temu Warga MKS dan Keuanganku

Sabtu, 22 Oktober 2005

 Temu Warga MKS dan Keuanganku

**

Goenawan Mohamad, sang eseis kondang itu mengatakan bahwa menulis itu ibarat naik sepeda, perlu latihan terus-menerus supaya menjadi mahir. Begitupun aku yang ingin pandai menulis supaya terus saja latihan membuat catatan sebagai dokumen perjalanan atau untuk menyampaikan ide-ideku ke khalayak.

Sebab dalam membangun masyarakat madani, anggota masyarakatnya harus berjiwa progresif terhadap realita. Setiap anggota masyarakat harus proaktif dan kritis terhadap dinamika kehidupannya. Tentunya disini perlu pengarah yang menjadi tauladan tentang bagaimana sebagai pribadi yang bukan sekedar benar, tapi baik.

Aku harus jadi pribadi tauladan. Aku mesti perfeksonis dan punya potensi yang diperhitungkan. Kalau sudah punya prestasi, nanti suaranya akan didengar. Aku bisa menghasilkan sebuah karya yang bermanfaat bagi umat. Memang diperlukan kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas. Berkorban apa saja untuk kemajuan umat. Hidup adalah perjuangan mencari eksistensi diri, mencari belahan jiwa yang hilang. Setelah itu ditemukan niscaya aku akan menjadi pribadi yang utuh, semurna akal dan pikirannya.

Aku mendapat undangan pernikahan dari Kang Jojo. Aku kenal beliau karena beliau sering pinjam buku ke taman bacaanku. Dia juga pernah memberi buku dengan judul ’Tuhan Dimata Kaum Filosof, sebagai pengganti bukuku yang hilang yang ia pinjam.

Aku harus berusaha untuk menghadirinya. Berbahagialah bagi orang yang sudah menemukan belahan jiwanya. Berbahagialah bagi orang yang melaksanakan kewajiban dirinya. Aku turut berbahagia. Dan berbahagialah.

Hari libur, aku gak keman-mana. Aku harus menghemat keuangan. Hari Rabu aku mau mengambil uang Rp. 100.000,- Sekarang keuanganku dua hari ini sudah tinggal Rp. 20.000,- lagi. Inginku uang itu utuh, namun fungsi uang adalah buat dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Nanti di akhirat kelak, dalam masalah harta darimana mendapatkannya dan kemana menyalurkannya. Akan kujawab aku mendapatkannya pemberian dari ibu. Dan kugunakan untuk makan, beli buku dan sebagian untuk kesenanganku. Tentunya kesenangan yang positif. Aku tidak pernah menggunakannya untuk beli rokok, narkoba atau hal-hal terlarang. Aku pasti menggunakannya untuk hal-hal bermanfaat.

Kapan aku mendapatkan penghasilan sendiri. Tidak minta terus ke orang tua. Orang tua tunggal lagi, hanya ibu. Aku harus bekerja keras apa saja. Kucoba untuk melamar ke lembaga keuangan. Jalan terbaik menurutku adalah menjadi penulis. Waktu kuliah tidak terganggu, komputer untuk sekedar mengetik sudah tersedia. Tinggal konsep. Yang sedikit paling menulis cerpen atau puisi.

*

Hari Sabtu ini MKS mengadakan temu warga MKS dan acara buka bersama. Ketua jurusan cakap mencari hal-hal yang bisa memotivasi mahasiswanya. Ada saja hal-hal kecil yang bisa diungkap dan menjadi hikmah. Kata beliau mengambil nama “Temu Warga” adalah kata unik bagi mahasiswa. Aku sedikit banyak sudah mengenal mahasiswa baru MKS. Banyak bidadarinya. Perempuan pasti cantiklah.

Karena tercegat hujan, gak bisa pulang segera dari acara Buka Bersama. Padahal sudah melenggang jauh dari adzan maghrib. Akhirnya gak bisa salat Maghrib, terpaksa digabung dengan Isya. Aku sudah lalai dalam ibadah salat. Tapi sampai saat ini belum meninggalkan salat tarawih. Meskipun malas karena tarawaih sendirian. Dan kurasakan lebih tenang

Tapi tidak tenang juga dengan wajahku. Kupakai obat jerawat secara berlebihan, malah menumbuhkan jerawat, membikin subur jerawat. Aku mencuci muka pakai biore. Bagusnya pas malam saja. Kalau pagi justru itu yang bikin subur jerawat. Truz kalau malam gak boleh lupa cuci muka. Aku sudah beberapa kali gak cuci muka pas mau tidur. Paginya saat bercermin, pelenung jerawat disana-sini. Kulitku sensisitf banget. Harus sering-sering cuci muka. Tapi alhamdulillah wajahku gak parah-parah amat.

Kemudian temanku bilang kalau mukamu sedikit berisi daging, bakal lebih cakep dengan sedikit tembem. Tidak tembem sih, tapi berisi yang kemong-nya itu. Duh, emang aku kurus banget.

Aku gak tahu apakah bawaannya atau karena sering mikir atau karena jarang makan. Ya karena semuanya. Namun alhamdulillah aku masih diberi fisik sempurna, tingginya standar 168 cm. Aku cakep, seperti orang-orang bilang. Pede dikit tak apa.

Aku tak boleh menyia-nyiakan pemberian Tuhan. Aku harus mensyukurinya dan tak boleh mengkhianati pemberian-Nya. Berpikir harus karena diberi akal, aku punya otak. Yang tidak boleh itu stress, ketakutan dalam segala hal. Serahkan sepenuhnya pada Tuhan.

 Jangan diperbudak oleh unsur-unsur materi. Tidak terikat dengan unsur materi. Tapi tidak meninggalkannya. Aku harus melakukan riyado, latihan-latihan spiritual. Mengekang jiwa atau menahan hawa nafsu. Permainan dunia hanyalah senda gurau belaka.

Selama ini dalam menghadapi sesuatu selalu disikapi dengan ketakutan dan ketegangan. Aku bawaannya serius melulu, kata orang. Aku gak bisa humor. Tapi aku bisa jadi pribadi yang humoris. Memang aku selalu tersenyum kalau bertegur sapa. Namun akhirnya aku suka tegang kalau berhadapan dengan orang-orang yang baru kukenal. Aku selalu begitu. Ya, beginilah aku.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori