Oleh: Kyan | 26/10/2005

Di Ujung Satu Pertemuan

Rabu, 26 Oktober 2005

Di Ujung Satu Pertemuan

**

Karena kemarin pulang dari alun-alun kemalaman, aku cape banget. Dan setelah salat tarawih aku langsung tertidur. Tak sempat persiapan UTS Matematika. Tadinya sehabis salat subuh saja aku belajarnya. Namun setelah subuh juga kantukku masih belum kunjung hilang. Aku tertidur lagi.

Aku bangun jam enam pagi. Aku tersontak kaget. Aku langsung mandi dan buka-buka sedikit rumus matematika. Sampai kampus ternyata ujian sudah dimulai. Kalkulator gak bawa lagi. Maksudnya tak sempat pinjam.

Dalam kecanggungan dan kegelisahan, aku mulai mengerjakan soal ujian. Aku berusaha untuk menenangkan diri. Akhirnya kuisi juga semuanya di akhir waktu ujian yang mepet. Meskipun aku gak tahu apakah jawabanku benar atau gak. Nilainya kecil pun aku sudah menyadarinya sedari awal. Karena belajarnya pun tidak optimal. Ini harus jadi pelajaran.

Ketika mau menjelang ujian sehari sebelumnya aku tak boleh kemana-mana. Optimalkan istirahat dan belajar. Kemarin aku mau beli kalkulator, tapi kalkulator tak dapat belajar juga kagak. Meskipun aku ke alun-alun aku mendapatkan ilmu yang banyak, bisa melihat buku-buku tapi belajar utama terbengkalai.

Memang aku tak boleh stagnan. Aku harus bergerak terus. Bersikap dinamis, niscaya akan kuraih makna kehidupan. Ibarat sang air bila ia diam tergenang niscaya terlihat berlumpur. Namun jika air mengalir niscaya akan jernih, karena kotorannya akan mengalir.

Perumpamaan air bisa juga dikiaskan pada uang. Semakin cepat uang beredar di sebuah bangsa, maka semakin baik tingkat perekonomian bangsa tersebut. Dalam firman-nya, segala sesuatu bermula dari air.

Selesai ujian, aku mesti menunggu jam sebelas untuk mengikuti kuliah Asuransi Syariah. Aku mengobrol sama teman membincangkan OPM. Sekedar menyalahkan orang lain begitu mudah. Namun tetap tidak akan menyelesaikan masalah. Biarlah kita bekerja apa yang bia kita kerjakan. Meskipun rasa kesal akan selalu muncul. Masalah bisa ditanggapi dengan sadar kondisi. Kondisi diri dan luar diri.

Dan setelah itu tentukan target. Beriringan dengan sikap sabar dan tawakal. Setelah menentukan target baru menyusun strategi. Secara tidak sadar konsep ini telah aku lakukan, meskipun secara tidak sadar. Ini hakikat kehidupan yang selalu muncul di setiap langkah kehidupan.

*

Hari-hariku masih dihantui dengan pengalaman menyebalkan sekali. Sudah janjian sama Rina dan Liza. Eh, merekanya gak ada. Aku sudah menyempatkan waktu biar bisa datang ke Jatinangor. Sampai sana malah celingak-celingkuk tak tentu arah tujuan. Ternyata benar mereka tak ada disana. Mereka telah ngerjain aku. Dasar anak Unpad.

Mungkin Rina sudah di rumahnya dan begitu juga Liza. Liza bilang di telpon, sudah menungguku dua jam. Aku sudah bilang disana bahwa sampai di Jatinangor sekitar jam lima. Aku bingung, sebenarnya siapa yang salah. Aku merasa berada di pihak yang salah.

Aku bingung apakah Rina dengan Liza, komunikasi gak sih. Aku menyampaikan A disampaikan A gak sih. Baru kali ini aku dikhianati janji. Biasanya kalau janji dengan seseorang pasti tepat janji.

Apakah mereka tidak pede ketemu denganku, atau apa? Aku malas untuk berhubungan lagi dengan mereka. Aku kesel banget. Aku berpikir tak baik memutuskan silaturahim. Buankah Rasulullah bersabda kita harus menyambung komunikasi yang terputus. Benarlah kata Dian, menghadapi perempuan jangan terlalu serius, jangan pula terlalu mengabaikannya. Biasa saja.

Gesekan yang tiak diinginkan akan selalu ada dalam berhubungan dengan siapapun. Meskipun dalam sebuah keluarga terdekat. Ibarat sendok dan piring akan terjadi gesekan sampai berbunyi, “belentrang”.

Pulang tarawih di masjid kompleks Bumi Cibiru Raya. Aku jalan sendirian pulang. Kunikmati gelapnya malam yang diterangi lampu temaram jalan raya. Aku sms lagi Liza. Takut dia mau menemuiku. Kutunggu di depan gang rumah dia. Tak ada jawaban. Mungkin pulsa dia habis atau masih marah padaku. Aku gak tahu.

Memang hidup ini harus banyak bersabar. Kekesalan dan kesedihan serta kebahagiaan akan selalu datang silih berganti. Aku ingin marah tapi marah pada siapa. Sadarlah wahai diriku. Aku tak boleh marah pada siapapun. Aku tak boleh marah pada siapapun.

Karena ini takdir Tuhan. Lebih baik aku menulis tentang hikmah kehidupan. Aku harus lebik banyak menulis akan arti sebuah kehidupan. Hidupku harus bermakna dan memberi arti bagi diriku dan orang lain.

Menjelang tidur kubayangkan perjalanan kehidupanku yang begitu suram. Namun aku sedikit optimis menatap masa depan. Menatap masa depan yang masih samar-samar bentuknya. Meskipun pesimistis dalam setiap langkahku, di kedalaman sukmaku masih ada sinar harapan.

Akankah pesimisku merontokkan segala mimpi-mimpi yang tertanam dalam. Bagaikan api membakar kayu secara pelan. Aku harus optimis dan bergantung hanya pada Tuhan saja.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori