Oleh: Kyan | 28/10/2005

Setengah Dari Penyelesaian Masalah

Jum’at, 28 Oktober 2005

Setengah Dari Penyelesaian Masalah

**

Aku belum tahu apakah ibuku sudah pulang atau belum dari Batam. Aku tidak tahu keberadaan ibuku. Dalam surat terakhirnya beliau bilang mau pulang menjelang Ramadhan. Kalau ibuku pulang, berarti ibuku tak kerja dan pasti tak menghasilkan uang. Dan otomatis akan berhenti memberi uang padaku.

Begitu khawatirnya aku dengan ketidakpastian makan pagi dan sorenya. Aku memang masih  masih bergantung pada ibuku secara finansial. Sampai kapan aku begini terus. Aku harus mendapatkan penghasilan sendiri.

Jalan terbaik yang tak bakal mengganggu kuliahku adalah menulis. Menulis artikel atau apa saja yang bisa dimuat di media. Dan aku bakal mendapatkan kompensasi. Aku harus mulai dari mana? Aku rasa aku sudah memulainya dari menulis catatan harian.

Aku harus konsultasi pada siapa. Sama pak Hernowo, pemimpin redaksi Mizan. Aku haus ikutan kursus menulis di Mizan Learning Center (MLC). Selain jalan jadi penulis, mesti jadi apa lagi agar aku punya penghasilan. Jadi artis kali bisa cepat kaya.

Sampai kapan aku berlepas dari ibu dalam finansial. Segi kemandirian yang lain aku sudah menempuhnya dan aku sudah merasakan getir pahit, haru, bahagia hidup hanya seorang diri. Sejak SMU aku sudah jauh-jauh dari siapa-siapa. Aku hanya sebatang kara. Sejak kecil pun aku selalu senang menyendiri, menikmati hari-hariku. Sampai sekarang pun demikian.

Terkadang timbul niat ingin menikah. Namun finansial sangat jauh dari kemandirian. Lagian kakak-kakaku yang sudah pada tua itu belum pada menikah. Hasrat menikahku bukan sekedar karena dorongan seksual. Aku menyadari manfaat pernikahan bila dipandang dari segi manapun. Tapi calonnya pun aku belum menemukannya.

Ada seseorang teman sekelasku yang ada kriteria pada dirinya yang aku harapkan. Aku ingin mendapatkan perempuan yang orang tuanya kaya dan dirinya bisa mencari uang. Aku memang bisa dibilang cowok komersil. Aku tak bisa memungkirinya. Masa aku orang miskin, menikah dengan orang miskin lagi.

*

Aku memang butuh uang. Uang untuk membeli buku-buku. Mulai tanggal satu November harga buku Mizan bakal naik. Mumpung belum naik aku mesti beli buku yang harus kubeli. Aku ingn beli buku “Berderma Untuk Semua” yaitu kumpulan artikel tentang filantropi Islam, sebuah kajian profesionalku. Aku juga ingin beli novel “Manifesto Khalifatulla”h, kispan religius karya sastrawan angkatan 66, Achdiat K.Mihardja. Ingin juga buku Gadis Jeruk-nya Jostein Gaardner. Banyak sekali keinginanku.

Yang selalu terngiang di pikiranku adalah buku dan buku. Kenapa aku begitu doyan banget ingin beli buku. Apakah ini hedonisme juga, budaya konsumtif. Tapi ini kan jalannya ilmu dibandingkan kalau beli baju atau aksesoris lainnya. Kunggap ini budaya positif yang ingin aku usung. Meski mungkin ada sisi negatifnya. Buku yang kubeli gak sempat dibaca sekarang, nanti sebulan kemudian, setahun kemudian, atau tidak sempat pula dapat dibaca oleh orang lain. Kukira akan selalu bermanfaat.

Hari Raya Idul Fitri, apakah aku pulang ke kakakku? Mungkin mereka menunggu-nunggu kedatanganku. Mungkin nanti sudah lebaran aku baru bisa kesana. Masih banyak tugas kuliah yang harus aku selesaikan. Manajemen zakat dan persiapan UTS.

 Aku mau mengucapkan Hari Raya Idul Fitri dengan teman-temanku. Kalau pakai kartu lebaran anggarannya bakal gede. Kalau lewat kantor pusat juga mahal. Lebih murah pake sms sih. Namun itu yang lumrah.

Aku ingin yang lebih berkesan, beda dari yang lain. Lewat e-mail juga menurutku apakah bakal dibaca saat-saat lebaran gitu? Sangat penting saling memberi perhatian, untuk membina persahabatan. Suatu saat mereka bakal dibutuhkan ketika kita susah. Ketika bahagia mesti kita bagi juga.

Aku gak boleh menanti-nanti mengerjakan tugas kuliah. Lebih cepat lebih baik. kalau bisa dikerjakan hari ini. Kenapa mesti ditunda sampai hari esok. Budaya disiplin harus aku bangun. Siapa lagi kalau gak dimulai dari diriku.

Hari ini yang datang ke kosan, Diah Dwi Lestari. Temenku MKS-A. selain cantik dia juga pinter bahasa Arab dan Inggris. Dia lulusan pesantren al-Mawaddah Gontor. Aku, dia dan Aceng saling bagi cerita. Mereka akhirnya tahu tentang kehidupanku. Mereka gak menyangka kalau kehidupanku yang sebenarnya jauh dari bayangan mereka.

Aku menceritakan kisah hidupku karena mereka ingn tahu dan bukan berarti aku cengeng. Karena menurut Aa Gym cukuplah masalah sendiri hanya sendiri dan Allah yang tahu. Jangan membagi penderitaan. Tapi menurut ust. Amri bahwa menceritakan masalah ke orang lain adalah setengah dari penyelesaian masalah.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori