Oleh: Kyan | 29/10/2005

Mengikut Jejak Ziauddin Sardar

Sabtu, 29 Oktober 2005

Mengikut Jejak Ziauddin Sardar

**

Dalam buku “Kembali ke Masa Depan” karya Ziauddin Sardar, seorang muslim (liberal?), pemikirannya radikal, ahli futurologi Islam berkebangsaan Inggris mengatakan bahwa agar peradaban Islam di masa depan minimal dapat sejajar dengan peradaban lain harus dimulainya rekonstruksi ide-ide pemikiran ke-Islaman dan keharmonisan hubungan Islam-Kristen.

Dalam buku lain dia mengatakan bahwa kita perlu membentuk sebuah jaringan Islam Internasional. Tersedia pula literatur/perpustakaan di setiap permukiman penduduk. Jihad intelektual adalah hal yang harus dioptimalkan. Gerakan Nahdah atau renaisans Islam yang sempat padam di era abad 19 perlu dihidupkan kembali. Gagasan-gagasan al-Afghani dan Abduh perlu dilanjutkan kembali. Ketidakjelasan masa depan Islam terletak pada ketiadaan visi yang jelas.

Untuk itu, saksikanlah ya Rabb aku ingin masuk kepada golongan para kafilah-kafilah gerakan Nahdah. Aku ingin jadi pioner estapet perjuangan Rasul sahabat tabiin ulama cendekia sampai akhir zaman. Semoga aku tidak mati muda, biar aku dapat menyaksikan evolusi dakwah Islam di muka bumi ini. Begitu banyak dan kompleksnya permasalahan umat Islam di era globalisasi ini.

Aku bersyukur dapat hidup di era ketika bangsa-bangsa muslim telah mendapatkan kemerdekaan, meskipun belum sepenuhnya merdeka. Karena negeri kami masih dijajah neo-kolonialisme, oleh bangsa bermental imprealisme.

Memang begitu gatal akibat filsafat Newtonian. Katanya alam semesta ini ibarat mesin raksasa dunia dimana di dalamnya ada akibat-sebab secara penuh. Tuhan menurut Newtonian hanyalah gejala psikologis manusia bagi mereka yang tidak mampu menghadapi tantangan hidup. Bukan Tuhan pencipta manusia, namun manusialah menciptakan Tuhan, begitu kata mereka.

Apalagi Karl Max bilang bahwa pada dasarnya eksistensi manusia diakibatkan oleh adanya pertentangan antar kelas sosial, dimana yang kuatlah yang menang. Adam Smith mengatakan tiga hal yang membuat kita menang, yaitu self interest, kompetensi dan yang kuat adalah yang menang. Sungguh dampaknya menggetirkan akan kelangsungan hidup manusia akibat dari pemikiran-pemikiran orang yang hidup di era abad duapuluh ini.

*

Aku ingin lebih menguak lagi pemikiran-pemikiran para pemikir. Kalau aku banyak uang, ingin sekali aku beli buku-buku yang menarik minatku. Begitu menggebu-gebu aku ingin menelaah literatur keilmuan Islam. Namun apalah daya finansialku sangat teramat pas-pasan.

Kadang ragu apakah besok lusa bakal dapat sesuap nasi ataukah diteruskan saja dengan berpuasa. Jika aku punya uang, inginnya aku beli buku, terutama buku-buku terbitan baru atau buku yang tidak ada di perpustakaan umum. Buku yang di perpustakaan hanya tumpukan buku yang sudah usang, bukan potret zaman kekinian, sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman.

Karena bukunya sudah teramat kumuh. Buku yang sudah kumal malas aku bacanya. Apalagi susunan buku di perpustakaan kampus sungguh berantakan. Aku ingin pemerintah menggalakan adanya perpustakaan di setiap pemukiman penduduk, dimana disana tersedia literatur berupa buku, video audio yang lengkap, sehingga memudahkan dan menggugah minat baca masyarakat.

Kemanakah anggaran belanja pemerintah. Hai para koruptor, berhentilah untuk mengganyang dana hasil keringat rakyat kecil. Engkau adalah pengabdi rakyat, bukan pemeras rakyat. Engkau tidak pedulikah dengan kedaan bangsa yang sedang amburadul, krisis multidimensi yang tak kunjung sembuh ini?

Aku menginginkah solusi terbaik. Dan bagiku mulailah dari dunia pendidikan yang mengedepankan moralitas bangsa. Kebejatan bangsa kita sudah hina dina di mata bangsa-bangsa lain, apalagi dimata Tuhan. Kalian memperebutkan legalitas Tuhan, namun sebenarnya kalian sudah ditinggalkan Tuhan. Kau memperjuangkan atas nama Tuhan namun nyatanya Tuhan telah meninggalkan engkau. Karena kalian adalah pemeras rakyat.

Kau tidak tahu atau memang sengaja tidak peduli dengan keadilan sosial. Kemanakah hati nurani kalian sehingga kalian begitu buta terhadap permasalahan dunia  ketiga yang notabene negara-negara Islam. Dimana-mana sama rakyatnya masih diliputi oleh kebodohan dan kemiskinan. Sementara para birokratornya malah memeras dan menjadi antek-antek neo-kolonialisme dan neo-imperealisme. Apakah karena kalian  takut oleh para mentalitas penjajah itu? Tidakkah takut oleh Tuhan.

Takut hanya oleh Tuhan. Kalian begitu takut oleh manusia, makhluk Tuhan sementara oleh pencipta manusia tidak takut. Sadarlah kalian, tipuan dunia sangat melenakan manusia. Apakah kalian tidak tahu akan aibnya dunia, cacatnya dunia. Dan  kehidupan akhiratlah yang kekal sejati.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori