Oleh: Kyan | 02/11/2005

Dulu dan Sekarang dan Kesadaran

Rabu, 02 November 2005

Dulu dan Sekarang dan Kesadaran

**

Pikiran kalut menghantui dalam setiap belaian kemesraan duka lara. Impian hasrat hati telah menyayat bak sembilu. Tapi aku akan terus melangkah bersama sang waktu. Aku akan terus membaca dan membaca selagi ada waktu bersamamu. Mengeja namamu yang melekat penuh hasrat.

Aku ingin jadi orang besar. Namun siapakah yang bisa menemani hari-hariku bahwa ia percaya padaku sepenuhnya. Bahwa aku bisa menuju taman impian itu. Sekarang hidupku masih hanya seorang diri. Hari-hariku hanya ditemani kesenyapan.

Akankah datang suatu ketika yang telah kulalui, suatu hari yang tiada biasa, yang dapat membawa kenangan dan harapan. Ingin kukatakan padanya bahwa akan kuraih segala impian untuk kuhidangkan, meskipun jiwa kelelahan. Kuingin terbang tinggi dengan sayap namamu. Duhai kekasihku.

Hari-hariku penuh liku dan sunyi. Kekalutan dan kesenyapan merasuk kalbuku. Kehidupanku hanya dalam kesendirian. Aku datang sendiri, menunggu yang tidak pasti sendiri, dan pergipun sendiri. Aku hanya bisa sendiri dalam keraguan ini.

Bahasa kehidupanku mungkinkah atau pastikah bisa dimengerti oleh setiap hati. Pengembaraanku berputar menjelajahi sekeliling dunia mencari kebahagiaan. Namun ketika melihat ke dalam diri, katanya mereka menemukan sesuatu yang selama ini dicari. Meskipun begitu, mengembaralah menuju impian didalam dan diluar. Segala mimpimu harus kamu perjuangkan. Bermimpilah sebelum mimpi itu dilarang.

Aku sudah menemukan mimpi itu. Meski hanya sepenggal dari mimpi-mimpi. Sekarag sedang kusibukkan dengan banyak membaca buku narasi. Novel Paulo Coelho sangat menarik bagiku. Selain “Sang Alkemis”, bukunya yang lain adalah “Di Tepi Sungai Piedra”.

Ingin aku membaca buku “Menerobos Kegelapan”-nya Karen Armstrong, Catatan Harian Ahmad Wahib, Catatan Harian Sultan Abdul Hamid 2, Catatan Harian Anne Frank, dan catatan harian terkenal lainnya.

Ternyata sejak dulu kebiasaan menulis catatan harian sudah ada. Masa di era posmodern ini tradisi itu malah belum memasyarakat. Aku juga nulis catatan harian cuma baru setahun lebih, sudah terasa manfaatnya. Namun temanku bilang padaku bahwa, “Ada efek negatif lho dari nulis diary”, begitu katanya.

Menurutku menulis catatan harian ada dalilnya di Alquran, yakni bacalah dan renungkanlah, rencanakanlah untuk hari esok. Bukan berarti ini sekedar mencari-cari landasan, tapi begitulah. Tapi biarkan mereka bicara tentang apa yang kulakukan, namun biarkan pula kami tetap bekerja. Segala tindakan baik atau buruk, pasti ada saja yang memberi komentar, baik pedas ataupun hambar.

Buku yang kubeli Sabtu kemarin sudah aku lahap. Judulnya “Renungan Seorang Pemuda Muslim” yang ditulis Ismail F. Alatas. Usianya dua tahun di atasku, tapi sudah menuliskan sesuatu meski di tengah kemurungannya. Dan satu lagi buku “Menuju Hadirat Ilahi-nya Al-Muhasibi.

Sang penulis Renungan seorang pemuda, meski usianya hampir sama denganku, tapi sejak SMU, bacaan dia sudah menjelajah ke ranah filsafat, teologi dan tasawuf. Dari beliau aku  mengenal tokoh Edward Said, seorang tokoh penghubung Barat dan Timur. Nama ‘Edward’ yang yang Barat dan ‘Said’ identik nama Arab. Terwujudlah doa nama dari orang tuanya, bahwa sang diberinama telah menjadi penghubung Timur dan Barat.

Benar kata sang penulis bahwa kita sebagai anak Indonesia sudah didoktrin bahwa PKI itu sesat, anti Tuhan. Tapi tanpa diberi tahu apakah itu sosialis dan komunis yang sebenarnya. Buku-buku tentang sosialis dan komunis diberangus. Dia mengenal Pramoedya Ananta Toer setelah di negeri orang. Padahal katanya dia adalah tokoh Indonesia, tapi tak dikenalkan pada anak-anak Indonesia. Ternyata aku lebih banyak yang tidak tahu.

*

Kubaca peta kehidupan yang begitu baru, untuk membuka lembaran kisah silam. Kutatap masa depan kemenangan ketika sang penari memoleskan cahaya. Aku tak bisa menulis, tapi hanya bisa meringis. Aku tidak bisa melakukan apapun.

Sulit untuk kucurahkan segala-segalanya. Karena sudah tercampur antara suka dan duka. Tapi meski aku begitu kesepian, namun kebahagiaan tetap ada. Hari lebaran ditemani bayang-bayang harapan.

Lebaranku tahun ini masih seperti dulu. Tetap penuh dengan angan kesejatian. Di kosan hanya aku yang tidak pulang kampung. Se-asrama hanya aku dan keluarga penjaga asrama yang tinggal. Ingin hidupku tak membebani orang lain. Aku pun tak ingin mengganggu masa-masa bahagia orang lain. Aku tidak ingin jadi benalu.

Tapi tetap saja aku jadi benalu. Akupun belum bisa hidup bermasyarakat. Apakah social skill-ku rendah. Masa kecil dan masa sekarang pun sering mengurung diri di kamar. Memang aku sudah terbiasa dengan kesendirian sejak kecil. Sampai saat ini rasanya aku belum bisa jadi aku yang diharuskan. Pula aku yang diinginkan

Aku lebih suka menyendiri. Aku membayangkan bagaimana nanti kalau sudah hidup berkeluarga. Pasti akan hidup dalam sebuah lingkungan mertua. Apakah aku bisa bersosialisasi dengan orang-orang sekitar. Kenapa aku lebih suka menelaah literatur.

Kusadari sekarang ketika baru menempati satu lingkungan, pertama sekali aku harus silaturahim ke setiap anggota keluarga. Aku harus bisa menyempatkan waktuku untuk mereka. Setiap salat fardu dilakukan berjamaah di masjid, sekalian silaturahim dengan orang-orang. Mengobrol-obrol tentang keadaan keluarga. Meski itu berbasa-basi, itu penting untuk mengakrabkan diri. Kenapa aku hanya berpuas diri dengan kesendirian. Masa kecil dengan masa sekarang sama saja. Aku harus bisa berubah dan aku bisa berubah.

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori