Oleh: Kyan | 03/11/2005

Menjadi Yusuf dan Zulaikha

Kamis, 03 November 2005

Menjadi Yusuf dan Zulaikha

**

Hari ini hari lebaran 1426 H. Biasanya orang-orang pada mudik ke kampung halamannya masing-masing untuk bertemu dan berkumpul dengan keluarga dan saudaranya. Ini tradisi yang biak, karena sudah mengambil substansi silaturahim.

Prosesnya berarti deduktif. Amaliah dari hadits, menjadi kebiasaan tiap-tiap individu. Karena sudah diakui oleh semua masyarakat akan nilai-nilainya, maka jadilah tradisi. Dan nantinya menjadi sebuah kebudayaan.

Namun apakah mudik secara histori memang dilandasi dari hal demikian. Atau diadopsi dari kebudayaan lain. Misalnya dari tradisi Hindu seperti halnya Tahlilan. Aku tidak tahu makanya ingin mencari literaturnya.

Lebaran di pengembaraan memang sedih. Tidak bisa bertemu dengan sanak keluarga. Tapi aku bahagia dan harus bisa membahagiakan diri, meskipun keadaan seperti ini. Karena kosanku adalah rumahku sendiri yang disewa mahal selama setahun seharga sejuta rupiah. Sayang sekali kalau ditinggal begitu saja.

Aku tak punya tempat kembali. Keluargaku tidak punya rumah. Ayah di dunia satu dan ibu di dunia lain. Kakak-kakakku pasti merasakan hal yang sama. Rindu pertemuan seperti keluarga yang lain. Tapi aku harus mensyukuri masih bisa diberi nafas kehidupan.

Aku di sini di ruangan ini yang luas, di ruang yang luasnya dua kali lebih luas dari kosan ibuku di batam. Aku harus banyak bersyukur pada Tuhan. Semuanya berjalan lancar-lancar saja. Ibuku masih memberi bekal hidup dengan lebih dari cukup. Meskipun tubuhku semakin kurus karena mengurangi makan.

Yang lebih aku prioritaskan sekarang adalah makanan rohani seperti buku dan lainnya yang bisa menambah ilmu. Makin tambah ilmu makin merasa dekat pada Allah. Nanti ilmunya diamalkan dan disampaikan kepada orang banyak.

Aku ingin secara kontinyu menulis surat. Terutama pada ibuku dan teman-teman. Pasti mereka sangat merinduan kabar tentangku. Meksipun ini cara konvensional, karena sekarang sudah bisa tergantikan dengan hape dan e-mail. Tapi menulis surat akan lebih mengena ke relung jiwa. Kita bisa bercerita panjang dan detail. Berbeda dengan sms yang cuma bisa menampung secara terbatas. Tapi intinya adalah menyampaikan informasi.

Aku juga ingin mudik ke kampung kelahiranku, ke tempat nenekku. Tempatnya di Tasik perbatasan dengan Ciamis. Tepatnya di kampung Citamiang Desa Tawang Kecamatan Pancatengah Kabupaten Tasikmalaya. Ongkosnya pasti mahal dan bakal menghabiskan uang seratus ribu rupiah. Dengan sejumlah itu mendingan kubelikan buku.

Tapi kedatanganku ke tengah-tengah mereka, mungkin bisa menambah kebahagiaan mereka. Tapi apakah begitu. Karena akulah harapan satu-satunya yang bisa menambah kehormatan keluarga dan kampung halamanku. Akulah harapan mereka. Aku adalah kaum cendekia negeri yang terlahir dari kampung di sebuah pegunungan Tasikmalaya.

*

Tahun 2005 sudah mau berakhir. Puasa sebagai latihan jiwa telah kulakoni sebulan penuh. Namun kemaksiatan pikiran dan kekotoran masih bercokol dalam diriku. Dasar syaitan terkutuk. Aku belum bisa meluluhkan nafsuku. Nafsu amarah, nafsu lawamah masih menguasi diriku.

Kapan aku mampu mencapai nafsu muthminnah. Diperlukan  riyadoh atau latihan spiritual melalui puasa atau menahan lapar. Karena perut berkorelasi dengan nafsu dan nafsu terkait dengan penyakit. Memang kalau sudah kebanyakan makan bawaannya malas dan ingin tidur. Sudah lama aku gak puasa Sunah.

Tapi aku ingin gemuk, makanya sering makan dan tidak puasa. Namun setelah makan banyak pun hasilnya tetap saja kurus. Nanti lebih baik memperbanyak puasa Sunnah lagi dan uangnya lebih baik dipakai buat membeli buku-buku. Agar aku terfokus dengan buku-buku dan pikiran-pikiran kotor tidak muncul.

Kehidupan masa lalu juga sering menghantuiku. Banyak perbuatan-perbuatanku yang tidak senonoh yang maih terbayang sampai saat ini. Sampai sekarang ingin melakukannya kembali. Selalu saja muncul di pikiran dan ingin lagi melakukan dengan lebih. Berpelukan dengan seseorang lalu berciuman. Kenapa masih terbayang masa lalu itu.

Dulu aku berpikir hatiku bergejolak dan tidak tenang setelah melakukannya. Tapi setelah pertemuan lagi ketika perempuan memperlakukannya penuh binal, aku ketakutan dan berjuang tidak ingin melakukannya lagi. Maka aku memutuskan untuk menjaga jarak dengannya, menjarangkan jarak pertemuan, dan lebih baik putus saja. Dan sekarang masih terbayang perbuatan bercumbu itu.

Ya Allah aku bertaubat. Berilah kekuatan untuk tida melakukannya lagi. Meskipun  menurut orang pacaran sekarang itu hal biasa, yang katanya “Kalau cuma sebatas peluk cium itu mah biasa”. Tapi hatiku berdebar ketika melakukannya. Bila berdebar itulah dosa yang tak disetujui hati. Itu hanya boleh untuk suami sitri.

Kapan aku menkah sepertinya masih jauh. Gejolak nafsu masih tinggi. Kisah Yusuf dan Zulaikha, ketika Zulaikha bergejolak nafsunya mencuat dan mengguncang dan Yusuf pun dikatakan Alquran cenderung sama. Hanya datang tanda kenabian dari Tuhan, sehingga dia lari menuju pintu. Sehingga sobeklah pakaian belakangnya.

Dikatakan Nabi Yusuf mendapatkan ilmu laduni. Tapi diperleh ilmu laduni setelah melalui beberapa tahap ujian. Mulai dari dibuang ke sumur, digoda perempuan, dan dipenjara. Begitulah tahap-tahap mendapatkan hikmah yang harus melalui prosesnya. Dan prosesnya sangat alamiah. Berarti orang biasa pun seperti aku ini ada kemugkinan bisa meraih ilmu hikmah. Tentunya setelah melalui beberapa tahap perjuangan dan pengorbanan. Bekerja keras, bekerja cerdas, dan bekerja ikhlas.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori