Oleh: Kyan | 05/11/2005

Menciptakan Budaya Tandingan

Sabtu, 05 November 2005

Menciptakan Budaya Tandingan

**

Seharian aku mengutak-atik foto tokoh-tokoh legendaris, semacam Muhammad al-Fatih, Sultan Abdul Hamid, Hasan al-Banna dan Siti Nurhaliza. Fotonya diprint menjadi hitam putih seperti lukisan. Maka muncul lagi inginku menjadi pelukis. Waktu kecil aku dikatakan bakat menggambar. Karena gak diasah jadi gak berkembang bakatnya. Bakat hanya baru potensi, yang akhirnya mati bila tak digali. Yakinlah aku ada potensi untuk bisa melukis.

Recana sore mau ke Garut, silaturahim ke rumah kakak. Aku berangkatnya selepas salat Maghrib. Ada rencana mau besok saja tapi aku hari ini gak masak untuk makan sore. Maka malam ini harus sampai rumah kakak. Maka berangkatlah aku menuju jalan raya. Meskipun aku takut apakah masih ada mobil karena hari-hari masih lebaran.

Aku menunggu lama di bunderan Cibiru. Sambil menunggu, sambil melihat bintang-bintang di angkasa raya, aku membayangkan sebuah kejadian. Tiba-tiba ada susara yang memanggil namaku. Vyan lagi ngapain. Dan itu sobatku siapa kek Uly misalnya memanggilku. Tapi tak ada siapa-siapa yang kukenal memanggilku.

Kenapa aku selalu sendirian. Karena aku lebih suka menyendiri. Kemanapun selalu saja sendirian. Kenapa aku lebih nyaman begitu. Namun kadang-kadang membayangkan bagaimana rasa-rasanya kalau pergi dengan seseorang yang kusayangi. Adakah orang yang sayang padaku. Aku tidak tahu.

Namun aku yakin bakal datang suatu ketika seseorang yang mencitntaiku, menyayangiku apa adanya. Suatu saat bakal datang namun itu entah kapan. Sekarang aku hanya bisa membayangkan saja. Berkhayal di tanah renyah kesendirian.

*

Tak lama kemudian ada Carry dari arah Cicahuem tujuan Garut. Inginnya aku naik bus supaya ada asuransinya. Karena ingin cepat-cepat sampai di Garut, kuputuskan naik saja. Dan ternyata kondekturnya wanita. Baru kali ini aku melihat cewek jadi kondektur. Tak apa-apa. Dia mencari nafkah yang halal. Lebih mulia dibandingkan bila melacur atau meminta-minta. Persamaan gender.

Selama ini yang melakukan pekerjaan ini selalu cowok. Memang budaya patriartik dimana-mana bidang pekerjaan didominasi laki-laki. Tapi apakah dulu segala sesuatu memang didominasi cowok? Apakah perlawanan kaum Hawa itu memberontak terhadap kodratnya atau efek positif dari pendidikan terhadap para perempuan?

Islam tidak membeda-bedakan kecuali ketakwaan kepada Tuhan. Laki-laki dan perempuan ibarat Yin dan Yang saling melengkapi membentuk harmoni lingkaran. Tak ada pembenturan atau sengaja membentur-benturkan. Sebuah tradisi bisa dikritisi oleh Islam. Karena Islam datang untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada manusia, tradisi atau apapun untuk kembali menghamba hanya pada Tuhan. Harus berserah diri sepenuh hati, tunduk patuh hanya kepada Tuhan. Kita jangan terjebak oleh kungkungan adat. Oleh penafsiran-penafsiran manusia, yang sebatas hanya pemikiran, buah pikiran manusia.

*

Barusan menonton sinetron Pintu Hidayah yang diperankan Sahrul Gunawan dan Marshanda. Menyentuh sekali jalan ceritanya. Kekuatan cinta memang begitu dalam dapat mengantarkan seseorang pada hidayah. Hubungan dua manusia untuk menuju Tuhan. Orang sombong ada akibatnya. Orang papa akan lebih terhormat di mata Tuhan dibandingkan orang kaya sombong. Jika tayang TV sehari-harinya seperti ini, kupikir damailah dunia. Kasih sayang menjadi terbina ke segala penjuru dunia.

Mensosialisasikan nilai-nilai kebenaran mengintegrasikan segala potensi, niscaya kedamaian merasuk ke setiap jiwa. Masyarakat sudah tidak bisa dihilangkan dari dunia televisi. Sekarang pasti di setiap sudut ruangan rumahnya pasti tergeletak kotak ajaib itu. Masalah sekarang dunia yang diusung oleh setiap program acara lebih banyak unsur mudaratnya.

Supaya kebenaran bisa menang maka harus dibuat acara tandingan dan lambat laun kebatilan akan lenyap. Sekedar mengutuk tidak akan menyelesaikan masalah, hanya dongkol yang ada. Namun kita harus berpikir sudah berbuat apa dan sudah sejauh mana langkah-langkah kita. Mensosialisasikan kebenaran, nilai-nilai kemanusiaan lewat popular cultur akan jauh lebih efektif dibanding cermaah dan hal-hal tradisional lainnya.

Tidak mampukan umat Islam untuk mendirikan stasiun TV. Dari segi modal ada, namun katanya SDM belum ada. Masih minim orang-orang entertainment yang punya komitmen terhadap perjuangan kebenaran. Karena orang-orang yang punya ghirah keislaman kebanyakan masih antipati terhadap dunia Barat dalam segala aspeknya.

Bersikap terhadap dunia asing begitu, karena ia merasa Islam yang ada pada dirinya sudah sempurna. Jadinya kita terkungkung dan tidak ada ide-ide kreatif untuk penyelesaian masalah. Islam itu terbuka bagi peradaban lain. Islam itu hanya mensucikan nilai-nilai yang sudah ada. Tak susah. Kebanyakan orang masih berpikiran sempit. Coba kita perjuangkan agar para musisi, komponis untuk mencipta lagu yang mengusung nilai-nilai kemanusiaan, bukan sekedar cinta dalam pikiran sempit. Tapi cinta universal.

Ternyata orang suka dengan gerakan-gerakkan. Orang Barat kenal dengan dance untuk menghilangkan kegalauan. Betapa indahnya jika gerakan atau tarian bisa mengantar kepada Tuhan seperti tarian Sema, tarian Jalaluddin Rumi.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori