Oleh: Kyan | 08/11/2005

Merumus Peradaban Islam

Selasa, 8 November 2005

Merumus Peradaban Islam

**

Matahari kira-kira sudah satu meter dari pegunungan yang menjulang. Jam sembilan pagi aku pulang dari Garut dengan dibekali oleh-oleh kue lebaran: ranginang, dan beras kira-kira dua kilo yang cukup dua minggu. Inginnya aku nyelonong saja, tak terbiasa dengan salam-salaman, suka canggung.

Waktu kecil siapa yang mengajarkan aku tatakrama. Meskipun sangat tahu bagaimana beretika, tapi karena tak biasa jadi susah terbiasa kulakukan. Ingin menerapannya merasa canggung. Begitulah kalau tidak terbiasa. Makanya nanti kalau punya anak, harus dibiasakan tatakrama adab pergaulan. Persiapkan!

Sampai di kosan jam sepuluh. Setelah beres-beres aku pergi lagi mau ke Palasari. Kuingin membeli buku tafsir Fi Zhilail Quran duabelas yang sudah tamat kubaca. Ingin melanjutkannya ke jilid tigabelas. Membelinya sekarang untuk bulan Novemer. Berarti selama bulan November aku tidak boleh membeli buku lagi. Setiap bulan minimal hanya disediakan dana seratusribu buat membeli buku.

Tapi begitu sampai di Palasari, belum jadi aku membeli tafsir Fi Zhilalil Quran jilid tigabelas. Karena uang tak cukup untuk membeli buku yang menarik dibaca. Yaitu buku “Kembali ke Masa Depan”-nya Ziauddin Sardar, Tafsir al-Fatihah-nya Rasyid Ridha dan Muhammad Abduh, dan novel Paulo Coelho “Di Tepi Sungai Piedra”. Satu lagi terlewatkan, “Filsafat Untuk Semua” yang ditulis Ekky al-Malaky.

Waktuku lebih didominasi untuk membaca dan menulis. Semalaman kubaca novel Paulo Coehelo. Kisahnya tentang cinta spiritual yang bisa megnantarkannya pada peluk-cium dan kisah ranjang. Membaca novel ini aku jadi tahu ritual umat Katolik, doktrinnya dan sex pranikah diperbolehkan. Diperbolehkan setidaknya menurut novel ini. Karena ada orang alim melakukan hubungan sex tanpa merasa bersalah. Apakah itu dibenarkan dalam ajaran Katolik. Mungkin itulah sekelumit budaya Eropa yang tergambarkan dalam novel tersebut.

Aku juga terkesan dengan kata-kata yang inspiratif, puitis dan menggelora jiwa. Dan kita kadang-kdanang selalu menonjolkan sisi maskulinitas Tuhan dan mengabaikan feminitas Tuhan. Bernarkah agama cinta adalah agama masa depan, love is power. Lantas apakah aku pernah merasakan cinta?

Cinta bisa membawa infpirasi dan kekuatan untuk sebuah perubahan. Menceritakan rasanya cinta ibarat menceritakan rasa apel bagi orang yang belum pernah merasakannya. Aku ingin menikmati cinta. Kapankah datang cinta itu suatu ketika. Aku tidak cukup hanya dengan menunggu. Karena cinta adalah kata kerja.

Cinta itu berbuat. Berbuat sesuatu hal-hal yang disenangi oleh yang dicintainya. Cinta nilai-nilai kemanusiaan sekarang sudah rapuh akibar paradigma kapitalistik. Paradigma moral dan etika yang harus dikedepankan adalah nilai-nilai keadilan dan kehendak yang bertanggung jawab. Itulah yang dianjurkan oleh Islam.

*

Semalam aku tidur jam duabelas larut. Karena ingin terus-terusan membaca. Setelah buku Paulo Coelho, dilanjutkan pada judul “Kembali ke Masa Depan” karya Ziauddin Sardar, seorang ilmuwan  Pakistan yang dibesarkan di Inggris. Karena sudah malam, meski tinggal satu bab lagi kutamatkan, tapi takut kalau tidur malam nanti jerawat muncul, akhirnya kusudahi membaca. Sampai hari ini aku masih khawatir dengan jerawat.

Kesimpulan dari buku Ziauddin Sardar adalah gambaran rekonstruksi peradaban Islam diibaratkan bunga mawar. Intinya berpusat pada pandangan dunia yang holistik, dikelilingi oleh epistimologi Islam dan syariat. Kemudian ada empat bagian utama yaitu tentang sains dan teknologi, politik dan sosial, ekonomi dan lingkungan, dan pandangan dunia Islam. Semuanya harus dielaborasi dalam kerangka Islam.

Langkah pertama yang harus ditempuh adalah perumusan epistimologi Islam. Menyangkut ini aku harus lebih membaca kembali dan mengkaji buku pak Mulyadi Kartanegara. Lalu menurutnya, pintu ijtihad harus benar-benar dibuka. Syariat harus dijadikan metodologi dan jangan terpaku hasil rumusan para fukaha klasik.

Di sini Ziauddin Sardar yang memaparkan sejarah kertas dan ilmu, serta perpustakaan, toko buku terkenal di Baghdad an-Nadim. Dikatakan di pinggiran kota Baghdad ada lebih dari seratus toko buku. Karena begitu mudahnya akses ilmu oleh setiap orang, maka tumbuh suburlah segala pakar ilmu, segala cabang ilmu.

Selanjutnya, kelemahan umat Islam dalam pandangan Kristen adalah kurang perhatiannya terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan adanya simpulan-simpulan fikih yang merugikan nonmuslim pada masa klasik. Etika Muslim-Kristen harus dirumuskan kembali dalam menyikapi permasalahan kontemporer. Sekarang yang harus diusung adalah sebuah multiperadaban, bukan benturan peradaban sebagaimana analisis Huntington.

Setidaknya melalui usaha tersebut, setiap peradaban seperti Islam, Cina, India harus dibiarkan berdampingan tumbuh dan berkembang masing-masing dalam menyelesaikan problematika kulturnya.

Mengingat masa depan peradaban, aku ingin menulis surat keapda teman-teman tentang masa depan kita selaku generasi muslim. Tapi tugas Manajemen Zakat belum aku selesaikan. Hari ini harus tamat baca buku yang kubeli, biar selanjutnya konsentrasi pada kuliah.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori