Oleh: Kyan | 14/11/2005

[Sinta] Perempuan Khayali dan Tidak Punya Handpone

Senin, 14 November 2005

[Sinta] Perempuan Khayali dan Tidak Punya Handpone

**

Bila engkau mampir ke Cibiru, cobalah mampir makan di Warung Pelangi. Tempatnya dari jalan raya susuri saja jalan Desa Cipadung dan tanyakan dimana menuju perumahan Permai Cipadung. Begitu belok kiri menuju Perumahan Permai, disitulah persisnya Warung Pelangi di sebelah kanan jalan.

Barusan aku makan pakai sambal buatan Warung Pelangi. Terasa enak sekali setelah seharian aku tidak sempat makan. Pokoknya hasil racikan masakannya enak banget. Apalagi sambalnya itu membikin kepala segar.

Kali ini aku makan bareng dengan Amy. Dia anak jurusan Psikologi seangkatan denganku, yang mau sekosan denganku. Baru malam ini mulainya. Katanya dia mau membayar enampuluh ribu dulu, sekalian dengan listriknya. Mudah-mudahan dia betah sekamar denganku. Biar aku punya teman dan ada pemasukan buatku.

Dengan teman-teman MKS setelah dua minggu liburan lebaran, kami bertemu lagi dan saling memaafkan. Aku harus lebih berhati-hati lagi ketika berceloteh. Takut malah menyakiti orang dengan segala perkataanku. Lidah itu lebih tajam daripada pedang. Dengan kata bisa berkuasa dan membunuh jiwa tak berdosa. Dan dengan kata pula kita bisa hidup damai bahagia bersama.

Pertama kuliah Matematika syukur alhamdulillah hasil UTS Matematika aku meraih nilai tertinggi di kelas. Padahal waktu ujiannya aku sudah telat kesiangan dan gak membawa kalkulator. Miskin banget gak punya kalkulator.

Aku pun mengisinya dengan penuh ketegangan. Namun aku mampu mendapat nilai delapanpuluh. Ini membuktikan aku bisa lebih optimal lagi kalau belajar dengan sungguh-sunguh dan mempersiapkan prasarananya.

Di hari sebelumnya sempat aku main ke Bandung untuk membeli kalkulator. Tapi begitu mengecek ATM, uangnya gak bisa diambil. Mungkin salodnya tidak mencukupi dan ibuku belum mengirim lagi. Akhirnya aku jalan-jalan saja di Kurnia Agung. Begitu berjejalnya manusia memenuhi alun-alun Bandung.

Menjelang Idul Fitri biasanya orang lebih banyak di pasar dibanding I’tikap di masjid. Lebih banyak berjejalan di mall dan terminal, stasiun dan bandara. Tradisi yang biak jika dilandasi dengan pemikiran yang baik dan benar. Tradisi mudik di waktu lebaran katanya hanya ada di Indonesia. Baik-baik saja kalau landasannya amalaiah dari keutamaan silaturahim.

Begitupun ulang tahun, itu baik asalkan bukan hura-hura dan pesta. Tapi sebagai moment evaluasi diri. Tradisi Maulid sebagai momen langkah awal meneladani hidup Rasulullah. Memperingati Maulid bukan untuk memujanya. Pengkritik kurang bijak dan yang dikritik tak tahu diri selama ini. Akhirnya muncul saling bermusuhan satu sama lain.

Kini saatnya umat Islam bersatu untuk menghadapi segala persoalan besar. Seperti kebodohan dan kemiskinan, kekumuhan, kediktatoran dan lain-lain. Aku harus menjadi pioner perubahan bangsa. Aku harus faham bangunan Islam itu seperti apa. Peradaban Islam harus dibangun bermula dari penemuan epistimologi Islam.

Epistimologi itu bangunan ilmu pengetahuan, seperti sumbernya, objeknya, dan sasarannya. Dalam Islam ada pula ilmu ushul fiqh, kasf, intuisi kabar mutawatir, kabar qadim yang tidak didapat dalam epistimologi Barat. Dulu peradaban Islam dibangun dari itu. Sekarang harus dikaji kembali dan dikembangkan dengan memerlukan pemikiran-pemikiran kreatif dan inovatif.

Siang hari aku ke Kandaga mengantar Aa Usman, suaminya Teh Erna untuk membeli komputer. Aku jadi ingin membeli komputer lagi. Tapi bisakah dicicil. Casing dan motherboard-nya dulu. Baru RAM, soundcard, VGA, dan Hardisk. Kalau aku ‘keyeng tangtu pareng’. Aku harus berkemauan keras dan tangguh.

Lalu Dudi tiba di kosanku, dia membawa handphone yang mau dijual. Katanya cukup limapuluh ribu rupiah. Dulu membelinya duaratus ribu rupiah. Ingin juga sih tapi masih berpikir-pikir.

Bagaimana tidak malu dengan ketidakpunyaan handphone. Tempo hari di kelas bertemu dan mengobrol dengan Sinta Fujiyanti. Dia Mahasiswi baru MKS yang sudah cukup akrab kukenal. Akrab dalam pengertian baru sebatas namanya yang sering dibicarakan orang-orang seniornya.

Masih ingat ketika pertama kali aku melihatnya. Saat itu dia entah datang kesiangan atau darimana ia masuk kelas. Sementara kami pengurus himpunan sedang menjelaskan agenda OPM. Begitu dia muncul dari balik pintu, aduhai siapakah dia. Dia berbaju kurung dengan kerudung panjang. Aku hanya bisa menatapnya sekilas, dan langsung membenak wajahnya dan kuingin tahu namanya.

Beberapa hari kemudian setelah kuketahui dialah yang bernama Sinta. Memang benarlah dia berparas cantik, putih dan muslimah dengan pakaiannya. Kuketahui kosannya di pondok An-Nuur dan rumahnya di Cililin. Terpanakah aku melihat kecantikannya. Adakah hasrat di hati dan membayangkan bagaimana jika dia menjadi pacarku? Akh, aku setiap kali melihat perempuan selalu saja menyukainya.

Hanya tadi dia meminta nomor handphone. Aku gak punya handphone. Hari gini gak punya handphone. Kubilang saja aku tak punya handphone. Malunya aku mengatakan itu. Mau bagaimana lagi lebih baik berterus terang apa-adanya diriku.

Tahun ajaran mahasiswa baru telah membawaku pada perkenalan dengan beberapa perempuan. Kemarain dengan Ayu yang kini sudah jarang bertemu lagi. Mungkin karena kejadian tempo lalu, tak ingin lagi hubungan dengan pacarnya menjadi rusak. Mungkin pula dia sedang sibuk dengan pengenalan jurusan baru dan kawan-kawan baru.

Tadi di kampus bertemu Nurul dan dikenalkan pada temannya. Julis namanya, anak jurusan PAI yang asalnya dari Lampung. Karena pergaulan kampus dimana berkumpul orang-orang dari berbagai wilayah yang bukan hanya dari Jawa Barat, tapi dari luar Sunda. Termasuk dari Sumatera dan kampung Patani, di Thailand.

Mumpung belum begitu sibuk kuliah, kuingin menonton film lagi. Akhir-akhir ini ingin banyak menonton film. Mungkin karena rental film tempatnya dekat. Hari ini kutonton “I-Robot” yang dibintangi Will Smith. Sebuah film fantasi ilmiah. Dikatakan tahun 2035 telah dihasilkan robot secerdas manusia.

Otak manusia bisa dichipkan dan disimpan menjadi file komputer. Bahkan selanjutnya bakal menghasilkan robot lebih cerdas dari manusia. Robot super. Emosi bisa dirasionalkan. Lantas apakah ruh bisa dirasionalkan. Robot bisa bermimpi dan menyimpan rahasia juga. Apakah nantinya robot bisa memperbudak manusia? Senjata makan tuan?

Tadi pagi aku menonton film “Son of The Mask”. Sebelumnya aku mengerjakan tugas Matematika dulu. Kudapat dari film ini tentang sebuah keluarga dengan satu anak yang begitu bahagia. Ketidakhadiran anak membuat tidak lengkap arti sebuah keluarga.

Nanti kalau aku jadi ayah, pasti bakal merasakan bagaimana ribetnya mengurus bayi atau anak. Karena mengurus anak bukan tugas istri saja. Aku harus selalu sedia membantu istri merawat anak sebagai buah hati perkawinan. Jadilah ayah yang bijaksana.

Tapi keasyikanku terpotong oleh datangnya Yatni dan Liza yang memintaku mengantar ke kelas mahasiswa baru MKS buat menagih janji membayar OPM.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori