Oleh: Kyan | 18/11/2005

Jadilah Pribadi Tenang dan Humoris

Jum’at, 18 November 2005

Jadilah Pribadi Tenang dan Humoris

**

Ibuku pasti sangat menantikan surat dariku. Aku belum punya waktu untuk membuat surat. Karena sekarang sibuk-sibuknya persiapan OPM dan UTS. Tiap pagi aku harus ke kampus untuk membuka stand pendaftaran OPM dan menagih langsung ke kelas-kelas.

Aku sudah mempersiapkan segala omongan yang mau disampaikan sebagai penegasan. Ketika aku ngomong sedikit yang memberi perhatian, lebih baik aku berhenti bicara, sia-sia jadinya. Habis energi. Omonganku akan lebih baik bermanfaat jika didengarkan, soalnya hasil sintesis dari pengalaman, baca buku-buku dan kehidupanku sampai saat ini. Yang pasti harganya mahal. Emang enak dicuekin.

Bagaimana caranya agar omonganku didengar oleh audien. Aku mesti punya kiat-kiat khusus. Omonganku mesti menarik minat mereka. Menyampaikannya mesti dengan lembah lembut. Anggap saja keilmuan pendengar di bawahku.

Karena kelebihanku suka membaca buku-buku dan informasi terkini. Aku anak gaul, aku berpenampilan keren, apa lagi untuk meyakinkan diriku. Mengungkapkan ini bukan sombong tapi sebagai spirit motivasi diri untuk percaya diri. Aku bisa menjadi pribadi yang tangguh, percaya diri, dan optimis.

Aku ngomong di MKS-A didengarkan juga. Aku berhasil dan omonganku lancar dan tak tersendat-sendat, sampai banyak sekali yang bayar langsung seketika. Semuanya mesti dengan pendekatan dan penegasan. Komunikasi harus berjalan dengan baik agar tidak terjadi kesalahfahaman penafsiran.

Katanya umat Islam khususnya para pemikir yang mengaku Islam tapi wordview-nya bukan Islam. Mereka lebih mengagungkan Kant, Derrida, dan filosof Barat lainnya. Padahal Islam mempunyai wordview-nya sendiri. Karena ilmu adalah produk dari kebudayaannya dan pandangan hidupnya.

Dikatakan setiap kebudayaan mempunyai wordview-nya masing-masing. Kronologisnya. Ketika Allah menyampaikan wahyu kepada Rasul kemudian lahirlah pandangan hidup muslim. Setelah berjalin kelindan wahyu secara konfrehensif, lalu terbentuklah struktur ilmu pengetahuan dari Alquran dan Hadis. Maka lahirlah tradisi keilmuan Islam yang nantinya melahirkan sebagai disiplin ilmu-ilmu Islam.

Sumber untuk mengetahui itu ada empat, yaitu: lewat panca indra, akal, intuisi, dan khabar qadim (wahyu). Ingin sekali aku membaca jurnal pemikiran dan peradaban Islamia yang harganya duabelasribu limaratus yang terbit per triwulan. Aku mau membeli saja di kios-kios kampus saja daripada berlangganan langsung. Soalnya harganya sama saja. Kalau membeli di kios sekalian membantu orang yang masih kecil usahanya.

*

Hari ini aku senang rasanya bisa mengobrol-ngobrol dengan dia lagi. Akupun mengantarnya dia pulang. Saat-saat seperti itu harus membuat kesan yang dalam. Jangan dingin saja, harus diisi canda tawa ceria. Aku orangnya serius terus sih, susah unuk bercanda. Buatlah dia seneng dengan kedatanganku.

Kalau aku bertemu pun jangan pakai lama. Setelah mengantar dia dan bercakap-cakap sedikit, lalu pulanglah segera. Jangan sampai kedatanganku mengganggu agendanya. Kupuji dia sewaktu dia menelpon pihak bank, lancar banget ngomongnya dan bisa meyakinkannya. Ketika mau udahan ditutup dengan ucapan, “Maaf, sudah mengganggu agenda Bapak”.

Tadi waktu pulang ujian PAI, kami pulang bareng dan langsung menelpon bank mau menanyakan follow up proposal OPM. Bersamanya di wartel sekitar satu jam lebih. Lalu pulang bareng ke kosan sekalian dia meminta oleh-oleh Purbalingga. Makanan khas tempat kelahirannya begitu ya, segalanya yang digoreng-goreng. Aku suka dengan getukya, manis dan bentuknya seperti tahu.

Sebenarnya aku suka gak sih sama dia. Kadang suka, kadang benci. Selalu saja muncul pikiran ingin mendapatkan yang lebih. Dia sudah cantik, tingginya standar untuk ukuran Indonesia. Namun aku ingin orang kaya. Aku tetap ingin mendapatan orang kaya.

Sore hari datang ke kosanku perempuan lagi. Nurul. Dia juga bertanya bagaimana teteh orang Pakistan itu. Apakah perempuan khayalan itu baik-baik saja. Kubulang aku ingin orang kaya. Dijawabnya, “Matre banget”. Aku ingin dapat orang kaya harta dan hati.

Ingatanku pada teman SMU-ku, Okke Evriana: Harta bisa dicari, namun hati yang suci kemana harus kucari. Ya, aku harus menjadi pribadi yang suci, bertanggung jawab, penyayang, dan humoris. Kenapa aku gak bisa humor. Selalu saja serius dan apakah ini memang pembawaan.

Tapi menurutku humoris itu bukan sekedar penuh banyolan dan ketawa ketiwi. Tapi dalam keadaan apapun, selalu disikapi dengan tenang dan bisa menenangkan orang lain. Bukan malah kita yang menyebarkan virus ketegangan. Pribadi tenang akan senang dan disenangi orang, dan istri pun sayang. Aku bisa menjadi apapun yang aku pikir bisa. Semua berawal dari wordview, paradigma berpikir katanya. Ditambah lagi sekarang, paradigma berperasaan.

Apakah selama ini kalau aku menjelaskan sesuatu dapat dimengerti oleh pendengar. Kalau aku menjelaskan sesutu kadang kecepetan dan berbelit-belit. Susah sekali merangkai kata yang enak dan dipahami audien. Waktu UTS PAI kalimat-kalimat yang aku tulis, bertele-tele tidak langsung ke sasaran.

Aku selalu begitu, kata temenku sewaktu di Batam. Kalau ditanya sesuatu, selalu pakai latar belakang. Seharusnya aku bertanya dulu mau tahu gak latar belakangnya. Kalau bersedia mendengarkan baru aku berceloteh.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori