Oleh: Kyan | 20/11/2005

[Sinta vs Angel] Kemesraan Dalam Temaram

Ahad, 20 November 2005

[Sinta vs Angel] Kemesraan Dalam Temaram

**

Matahari akan segera masuk ke peraduannya. Raung suara kendaraan bermotor roda dua dan empat berseliweran, menuju kemacetan di bunderan Cibiru. Selepas kuliah diakhiri, lalu aku dan dia pulang bersama menuju kosannya. Masih ingat waktu hari Kamis aku berkunjung, di hari Sabtu  sudah kesana lagi. kenapa terlalu sering akhir-akhir ini.

Aku makan bakso dengannya, saling membagi cerita. Ia banyak cerita tentang segala masalah yang dihadapinya. Mulai soal pekerjaannya di Mihdan yang belum kelar membuat laporan keuangan bulan kemarin dan sekarang. Sampai-sampai ketika mengerjakan satu bidang, selalu terngiang-ngiang masalah lain. Tentang bagaimana UTS dan OPM. Bagimana sekarang kepalaku tidak nyeri. Sekarang pun mesti ke Maleer. Dia seperti mengeluh padaku.

Begitu sibuknya dia. Aku hanya bisa menjadi pendengar setianya. Karena apa yang bisa kubantu. Mungkin hanya soal kuliahnya paling yang kubisa bantu. Nanti UTS Matematika dia mau ke kosanku hari Senin. Mungkin aku mesti memberi dia perhatian lebih untuk sekedar menghiburnya. Supaya gak stress.

Dia juga bercerita tentang keluarganya di Purbalingga. Waktu Idul Fitri, ramai banget di keluarga besarnya. Saling kunjung-mengunjungi diantara keluarga Bani Usmani. Cucu-cucunya bangak banget. Keluarga dia seperti apa sih. Aku penasaran dan bisakah nanti dapat merasakannya. Yang pasti daerahnya penduduknya dominn sebagai petani. Aku mesti menawarkan diri untuk membantu menyelesaikan pekerjaannya.

Kadang aku suka cemburu kalau dia dekat dengan cowok lain. Aku suka membayangkan pasti yang namanya dunia kerja pasti baka berinteraksi banyak dengan lawan jenis. Aku mesti bisa menghargai pekerjaannya dan mendukungnya.

Dia juga kalau mengobrol kadang menyinggung tentang hubunganku dengan dia. Selama ini aku menanggapinya dengan dingin. Karena dulu pernah bilang aku tak sempat untuk membicarakan hal begituan. Suatu hari aku mesti bilang mungkin begitulah caraku untuk mengekspresikan cintaku sama kamu. Lantas kalau sudah tahu, sok aza kamu marah.

Kadang aku bingung, untuk mengendalikan segala perasaan yang bercokol dalam dada. Diungkapkan juga pasti kamu sudah tahu. Tapi katanya perempuan itu butuh kepastian. Aku seneng saja seperti begini. Hubunganmu denganku begini sudah cukup membuat aku bahagia. Tapi yang pasti bagaimana dengan kamu. Karena perasaan ini tidak begitu datang secara tiba-tiba. Tapi seiring dengan waktu. Gombal banget sih.

Begitulah tumpukkan air kesenyapan jiwa yang terus memanggil nama yang terukir mesra. Aku sekarang harus menyelesaikan segala pekerjaanku. Persiapan untuk OPM yang tinggal seminggu lagi. Aku harus menikmati kehidupanku hari ini.

Aku sudah mendapatkan cinta dan kasih sayang, meskipun itu masih kurang. Begitulah sifat manusia yang selalu ingin lebih dan lebih. Aku bersyukur pada Allah karena masih memberi nikmat hidup dan kehidupan. Tentunya dengan jalan menjalani segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.

 

*

Tadi pagi-pagi kubuat surat permohonan buat RT/RW di Alam Sejuk. Lalu membuat permohonan jadi moderator. Setelah selesai aku segera mandi dan berangkat ke kosan An-Niza. Sampai di sana Pipih sudah menunggu lama. Dian gak datang, padahal janjinya jam delapan.

Namun tak lama kemudian datang juga. Aku dan Liza menyusun ukuran kaos, ada penghuni kosa An-Niza yang tidak tahu keberadaanku di sana. Pacar dia menunggu di depan. Ketika dia langsung nyelonong cuma pakai handuk dan kaos oblong.

Ketika dia tahu aku ada di sana dia langsung teriak histeris. Dia bilang, “Jangan bilang-bilang siapa-siapa ya, itu rezeki kamu”. Wah, asyiknya.

Aku cuma melihat rambutnya, badan yang dibalut kaso ketat, kulitnya yang putih. Aku biasa saja tidak merasakan sesutu yang beda, yang ngeh. Karena mungkin sudah terbiasa melihat orang seperti itu. Di jalan, di pasar, di mana-mana, sudah lumrah. Padahal seluruh tubuh perempuan adalah aurat dan jika dilihat berdosa hanyalah dalil kitab suci saja. Tak mempan.

Kalau ini karena sudah terbiasa, ya biasa saja. Jadi begituah kalau dosa dilakukan secara berturut-turut terus menerus oleh banyak orang, serempak, akhirnya gak terasa sebagai dosa lagi. Jadi biasa-biasa saja melakukan dan menikmatinya. Dosa kecil dilakukan terus menrus bakal menjadi dosa besar.

Dan dikira siapa yang datang, rupanya perempuan anak baru yang cantik itu. Sinta Fujianti, dia terlihat sungguh cantik sekali. Katanya mau jalan-jalan ke Alun-alun. Nanti kalau ketemu lagi dengannya, mau kutanya, “Boleh gak main ke kosannya”. Melihat perempuan selalu saja ada sisi cantiknya walau bagaimanapun. Cantik yang tidak bisa dilihat secara sekilas sepintas. Jadi carilah perempuan jangan sekedar lihat tampangnya doank, tapi dalamnya.

Dari jam sepuluh sampai jam satu siang, aku dan Liza main ke warnet. Liza mau memasukkan foto cantiknya. Dia banyak cerita tentang masa kecil dan remajanya. Dia orang kaya sepertinya. Kalau aku suka ma dia, enak banget. Dia orang berada. Tapi cinta tak bisa dipaksa-paksa.

Nanti jadi bukan lagi landasan keikhlasan tapi harta benda untuk mencinta. Aku ingin sekali mencintai seseorang sepenuh hati, dimana orang yang kita cintai adalah orang kaya dan salehah. Jadoh hanya di tangan Tuhan. Namun tetap usaha manusia sangat berperan daam meraih segala apa yang kita inginkan. Aku harus bersabar dalam setiap hal.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori