Oleh: Kyan | 24/11/2005

Unggul Dalam Kecacatan

Kamis, 24 November 2005

Unggul Dalam Kecacatan

**

Aku selalu merasa terasing di tengah keramaian. Dalam suatu acara momen besar seperti OPM atau di kelas malah muncul rasa keterasingan. Ingin sekali aku bisa bercengkrama dengan orang lain. Bukan aku tidak mampu, tapi aku tidak ada semangat untuk bicara. Maunya aku ingin banyak diam.

Lalu saat-saat bahagiaku adalah ketika kesendirian dalam kesunyian. Saat bahagiaku adalah ketika menengadah ke langit tua sambil berpikir merenungi makna sebuah kehidupan. Entah kenapa saat bahagiaku ketika itu dalam kesendirian. Mungkin berbicara juga bisa bahagia. Ketika bercengkrama dengan orang-orang tercinta dan orang-orang tersayang. Bicaraku ingin bermakna dan berhikmah bagi diriku dan orang lain.

Memang kebiasaan menyendiri sudah kulakukan sejak kecil. Kesendirian, kesenyapan kekalutan dan tangisan untuk meraih setetes kasih dari orang-orang tercinta. Sejak kecil aku jarang main dengan teman-teman sebayaku. Misalnya pergi ke lapang atau hutan untuk melakuan suatu permainan yang menyenangkan. Jikapun pergi ke hutan sering aku sendirian.

Kuingat cuma sekali-kalinya saat kecilku dulu, aku main layang-layang. Karena layang-layangnya gagal terbang dan malah tersangkut di rimbun bambu, akhirnya aku merah. Sampai saat ini tak pernah kulakukan lagi main layang-layang. Padahal dalam layang-layang ada filosofis tentang kebebasan dan keterikatan pada sang tuan.

Kebanyakan sejak kecil aku sendiri di kamar mengutak-atik segala sesuatu yang tersedia. Di rumah nenekku banyak peninggalan buku-buku yang menurutku bagus. Berarti benar kehidupan remaja dan dewasa bergantung kehidupan masa kecilnya. Dulu aku selalu berkutat dengan buku. Sekarang pun masih bergelut dengan buku.

Makanya suatu saat nanti aku ingin punya perusahaan penerbitan. Mulai dari sekarang kita harus memperjuangkan agar pajak buku ditiadakan atau diminimalisir. Karena buku bukan barang komoditi seperti barang lainnya. Biar nanti harga buku tidak mahal.

Harga buku sebaiknya dikalkulasikan setelah pengurangan HPP saja. Jangan ditambah HPP pajak. Akibat buku mahal jadi orang pada enggan untuk membeli buku. Katanya di Jepang juga akhir-akhir ini penjualan buku dan majalah merosot. Padahal dulu paling tinggi selama dekade terakhir sejak pengeboman Hirosima dan Nagasaki.

Dunia kepenulisan di Jepang kalau dilihat dari sastera misalnya komik perkembangannya pesat sekali. Kalau kita main ke toko buku, di rak-rak buku berjejer judul-judul koik Jepang. Katanya kemajuan suatu bangsa bergantung bergantung kemajuan dunia sasteranya. Orang pebisnis sukses pun kebanyakan kesukaannya membaca novel serius.

Novel serius contohnya karya-karya MAS pram. Buku beliau dicari sampai ketika dulu di Batam ada orang Malaysia datang ke Indonesia mau mencari buku-buku karya beliau. Bagaimana nanti kalau posisi beliau digantikan olehku? Bermimpi tidak dilarang.

*

Bermimpi setinggi langit memang tak dilarang. Katanya jadilah sang pemimpi. Tapi seperti kejadian tadi ketika perasaan tak enak menekanku. Ceritanya bermula ketika kuliah tadi siang. Diskusi mata kuliah Pendidikan Agama Islam tentang masalah ilmu. Disajikan oleh Aril, Sahril Muhaemin, sang ketua HMJ MKS. Berbicara tentangnya, dia memang pintar dan logikanya jalan, begitu Reza bilang. Sangat kuakui itu. Begitupun tentang Reza, meskipun kadang omongannya tak terkontrol, dia juga pintar Akuntansi. Lalu Dian cerdas dan brilian juga otaknya. Selanjutnya Veri yang pandai bicara di depan kelas. Pokoknya teman-temanku cerdas. Kecuali aku.

Meskipun aku sering bertanya dalam sesi kuliah, aku sering bertanya pada diri sendiri sebenarnya omonganku sering dimengerti gak sih oleh mereka. Bahkan mungkin pertanyaannya pun tak jelas apa yang hendak dituju. Masih ‘balelol’ dengan bahasa baku, tidak mengalir, dan sok keukeuh seperti orang marah ketika mempertahankan argumen.

Kesulitanku adalah bagaimana merangkai kata-kata yang benar. Bagaimana caranya supaya aku ‘capetang’ seperti yang lain. Suka muncul rasa minder kalau melihat teman-teman bicaranya lancar dan tenang. Ingin sekali bicaraku tenang, kalem, tidak tergesa-gesa, mengalir dan dapat dimengerti oleh orang lain.

Aku harus banyak latihan ngomong di depan forum. Dalam seminar aku harus sering bertanya. Bertanya apapun yang muncul di pikiran, apapun yang menggelitik di pikiran. Jangan takut bahwa itu sudah ada di benak orang lain.

Sering juga kucoba dan ketika pertanyaanku berlangsung, bicaraku suka mandeg, jadi beku saja pikiranku. Apakah aku ini memang tidak mengerti atas apa yang mereka sampaikan. Apakah gara-gara pendengaranku tidak sempurna seperti yang lain.

Memang pendengaranku yang berfungsi cuma sebelah. Entah yang satu lagi kenapa tidak berfungsi dan entah sejak kapan. Seingatku sejak kecil pendengaran sebelah kanan sudah tidak berfungsi. Apakah sejak lahir aku tidak tahu. Makanya ketika ada yang memanggil sering tidak jelas bahkan tidak terdengar.

Akhirnya ada temenku bilang, datang ke dokter THT. Kata-kata itu benar dan kedengarannya menyakitkan telinga kiriku. Hanya telinga kiriku yang bisa mendengar. Temanku mungkin cuma bercanda tapi segala hal yang bisa menusuk hati adalah sesuatu yang bisa men-down-kan aku, yang bisa membuatku minder, merasa tidak berharga apa-apa dan tidak bermanfaat bagi orang lain.

Aku memang memiliki banyak kecacatan. Telinga yang berfungsi cuma sebelah, mata sudah minus, badan kurus, dua gigi yang ompong, rambut di kepala pitak, dan banyak lagi bila disebutkan dan dicari-cari.

Jika aku melihat kekurangan diri, aku pasti banyak menemukan segala hal tentang kekurangan. Tapi kalau aku selalu melihat kelebihan bagian fisik yang lain, dan sejumlah kelebihan dari yang kurang tersebut tentu tidak akan menyurutkan hati untuk bersyukur pada sang Pencipta.

Aku, egoku ragaku, jiwaku ruhku, semua milik Tuhan. Maka pergunakanlah dalam perintah Tuhan. Mulut yang selalu berdoa, kaki yang selalu melangkah ke jalan kebenaran, dan hati yang selalu rindu untuk bertemu dengan-Mu. Tuhan.

Lihatlah Hans Keller, ia menjadi ilmuwan meskipun ia buta. Beethoven seorang yang tuli, tapi mampu menghasilkan karya musikal tinggi yang dikenang sepanjang jaman. Stephen Hawking, fisikawan yang lumpuh. Napoleon Bonaparte, diceritakan bibirnya sumbing tapi menjadi pahlawan perang. Hitler, seorang yang kakinya panjang sebelah menjadi orang yang ditakuti sepanjang hidupnya. Mereka semua menjadi besar, meski pada sisi lainnya terdapat kekurangan dan kelemahan. Aku tidak boleh dari mereka semua.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori