Oleh: Kyan | 01/12/2005

Sepiring Kesepian Hidup

Kamis, 01 Desember 2005

 Sepiring Kesepian Hidup

**

Sudah memasuki bulan terakhir di tahun 2005. Lantas apa yang kudapatkan di tahun ini. Kemajuan apa yang telah kucapai. Kebahagiaan dan kesedihan datang silih berganti dalam hari ke hari, bulan ke bulan. Dalam perjalanan waktu ke waktu aku bersyukur masih bisa menikmati kehidupan ini.

Terasa nikmat ketika pagi hari atau begitu bangun tidur. Ketika terbangun dari mimpi-mimpi tentang masa depanku, tentang harapan yang ingin kugapai. Masih banyak harapan-harapanku yang belum terpenuhi. Aku ingin membuat sebuah karya bermanfaat bagi diri dan orang lain.

Selama ini aku belum menghasilkan apa-apa. Tapi aku membutuhkan dorongan, dukungan, dan cinta. Kuingin ada tangan yang memberiku seutas tali cinta yang bisa menarikku ke atas singgasana harapan itu. Kupikir sampai hari ini aku belum mendapatkannya secara jelas. Semua masih terasa ambigu.

Apakah ‘tanaman’ itu tidak kuberi pupuk perhatian yang cukup? Sampai kapan dan seberapa besar aku menyianginya dari benalu-benalu pengganggu, sehingga aku bisa menuainya di musim panen. Kurasakan kalut dan hampa menerima semua kenyataan ini. Inginku sendiri dan sendiri mengisi lika-liku perjuangan hidup ini.

Aku teringat pada rindu. Rindu pada orang-orang tercinta. Ibu, aku rindu ibu, ingin aku berjumpa. Kuingin bercerita semua tentang kekalutan jiwa dalam dekapanmu. Dimanakah keberadaan ayah yang bisa membuat aku semakin dewasa. Dimana kakak-kakakku yang bisa mendengar ceritaku tentang kisah cinta dan citaku. Kenapa aku hidup dalam keterasingan begini. Kenapa aku selalu merasa terasing dalam keramaian dan merasa penat.

Aku ingin kembali saja. Aku ingin bercengkrama dengan orang-orang yang kusayangi. Kemanakah dan dimanakah mereka. Aku ingin berjumpa dengan orang-orang tercinta. Sampai kapan aku terdampar dan didampar ke negeri asing. Kuingin punya harapan yang terjangkau dan kenangan indah. Sebuah dari beberapa harapan dan kenangan yang masih harus kuperjuangkan.

Ketika aku berjuang untuk sebuah harapan dan kenangan, perjuanganku sampai pada keadilan Tuhan. Kuingin perjuanganku bernilai dan berbuahkan kemanisan. Bila langkahku bukan pada tempat yang seharusnya, keadilan Tuhan membimbingku menuju jalan yang benar. Maka sia-sialah hidupku bila tanpa makna.

Aku ingin keadilan. Tentu keadilan yang bukan berlandaskan hawa nafsu, tapi hasil dari kontemplasi para bijak. Kita tak boleh mengklaim bahwa itu adil ini adil dengan serampangan. Tapi bila keadilan dinyatakan secara eksplisit, kita memang harus menerimanya. Allah menurunkan pada manusia Alquran dan timbangan. Timbangan maksudnya adalah neraca keadilan.

Aku harus selalu berpikir positif. Aku bertindak adil pada rohani dan jasmaniku. Aku bisa merawat tubuh dan muka. Katanya dari muka akan terpancar aura keceriaan. Mungkin selama ini aku terlihat murung, yang ditambah tugas kuliah yang makin menumpuk. Kalau dikerjakan setahap-tahap nanti bakal selesai juga. Aku mesti menikmatinya.

Aku harus buat skedul agenda harian, bulanan dan tahunan. Agar semua mimpi dan harapanku terlaksana. Ingin sekali hidupku bermakna namun aku selalu diam membisu seolah-olah aku tak mampu apa. Dengan mental begini bagaimana bisa mewujudkan harapan.

Berbicara  lancar susah, menulis yang mengalir belum mampu. Sampai urusan cinta pun aku selalu patah hati. Akankah datang orang yang mencintaiku apa adanya. Aku yakin akan datang belahan jiwaku pada suatu ketika. Namun entah kapan bidadariku yang bisa mengantarkanku pada harapan dan kenangan dia datang.

Mestinya aku gak boleh khawatir bila saat ini tak kunjung datang. Meskipun aku sekarang lagi dekat dengan perempuan yang menurutku perpect dalam segala hal. Namun apakah dia tahu dan mengerti apa yang kurasakan dan pikirkan. Aku belum pernah merasakan seperti yang kurasakan selama ini. Namun kadang ketika aku melihat kekurangan dia, apakah aku bisa menerimanya. Aku masih ingin terus mencari yang lebih perpect lebih menurutku. Aku bisa mendapatkannya.

Baru kali ini aku makan bareng dengan Angel Wings. Dia bilang kayak pacaran saja makan begini. Kalau berbicara soal itu aku selalu diam dan tak ingin berkomentar apa-apa. No comment. Dulu sampai sekarang takut lagi menyinggung soal hubungan, tapi semakin kesini dia memulai.

Dia pernah bilang, “Sudah banyak cowok yang datang sampai ada yang mau datang lansung ke orang tuanya. Mungkin itu untuk memberi keyakinan dan kesungguhan cowok yang datang itu”. Tapi dia lebih suka kalau dia berani ngomong langsung. Lantas apakah aku memiliki keberanian?

Hanya aku pernah memberi dia sebuah tulisan tentang perasaanku sebenarnya. Dia hanya bilang, “Makasih” dengan nada datar. Meski dia katanya sangat menghargai dan sudah banyak mendapatkan ilmu dariku”. Entah ilmu apa yang kuperoleh dariku.

Kemarin saja dia tiba-tiba menangis di depanku. Menangis karena keadaan sepupunya yang pulang ke Purbalingga sendirian dalam kondisi sakit. Tadinya mau diantar tapi malah pulang sendiri. Selama aku mengenalnya, dia sudah dua kali menangis di depanku.

Memang karena dekatnya hubungan, dia selalu terbuka dalam berbagai hal. Kenapa aku bilang begitu, karena sudah setahun membangun persahabatan. Kuharapan jangan sampai roboh persahabatan itu sampai kapanpun. Meski dengan menangisnya di hadapanku, bukanlah tanda ia percaya padaku. Karena bila ia sudah percaya, tentu akan mencintaiku. Tapi nyatanya tidak demikian.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori