Oleh: Kyan | 05/12/2005

Datanglah Suatu Ketika

Senin, 05 Desember 2005

 Datanglah Suatu Ketika

**

Teman-teman pada main ke kosanku mau mengerjakan tugas Asuransi. Tapi nyatanya malah mengerjakan tugas Matematika. Kami sudah mengutak-atik soal, jawabannya masih belum ketemu. Bodoh sekali aku ini. Akhirnya kami pada makan-makan saja dan lauk pauknya Reza yang beli. Benar dia memang baik. Sudah pintar, rajin, dan gak pernah perhitungan. Tidak seperti aku yang selalu mengkalkulasikan segala hal.

Ketika lagi menunggu nasi masak, Angel Wings menelpon lewat ke handpohne Siti Nuraeni. Dia meminta maaf gak bisa datang dan aku disuruh menelponnya balik. Aku menelpon balik habis duaribu lima ratus di warnet. Apa yang kubicarakan di telpon? Intinya dia mau datang ke kosanku sore hari, mungkin gitu saja. Kalau bisa cepat kenapa mesti dilama-lamain.

Menelepon dia adalah sebuah pemborosan. Tapi bila dilihat dari sisi lain aku melakukan setoran ke Rekening Tabungan Emosional. Nanti suatu ketika bisa diambil dari rekening tersebut. Maksudnya sesudah membina persahabatan diantara kita, nanti aku bisa saling meminta dan memberi pertolongan.

Segala hal memerlukan pengorbanan dan memang begitulah hidup. Permasalahannya pengorbanan itu apakah di jalan baik atau buruk. Yang namanya pengorbanan akan selalu ada. Kehilangan harta dan uang yang kita genggam pasti akan disalurkan cepat atau lambat. Permasalaan kedua yaitu berhemat maksudnya mengeluarkan uang harus secara hati-hati, pelan-pelan, dan harus jelas peruntukkannya. Meski uang harus seperti air yang mengalir deras.

*

Sepakat dengan teman-teman untuk membagi tugas. Setelah Duhur aku dan Inonk Siti Aminah pergi ke BPS. Sampai disana bukanya dapat malah ngantuk. Tak tahan pisan ingin tidur. Tak mendapat apa-apa dari sana, selain mengehabiskan waktu dan uang. Sudah mengeluarkan ongkos tigabelas ribu rupiah.

Begitu sampai di kosan lagi, sudah ada Dian, Amy dan Aril. Tadi di jalan bertemu Reza, sedang memfotokopi tugas Matematika. Tugas Matematika belum kelar lagi. Tugas yang lain sudah menunggu. Memang kerjaannya mahasiswa adalah mengerjakan tugas. Kalau gak siap mengerjakan jangan jadi mahsiswa.

Memang sih tapi kalau mengerjakannya dengan waktu yang tidak cukup, malah membuat tegang yang ada. Takut memperoleh nilai jelek. Permasalahan ketiga bukan selesai tidaknya mengerjakan tugas, tapi seberapa jauh usaha kita dioptimalkan. Tugas ya kerjakan saja. Toh yang menilai adalah Allah.

Sangat bergantung pada keikhlasan untuk selesainya satu pekerjaan. Manajlah waktu supaya lebih optimal dan dalam satu waktu diusahakan bisa mengerjakan satu dua pekerjaan sekaligus. Semua orang sama diberi waktu duapuluh empat jam per harinya. Dalam duapuluh empat jam ada yang mampu mengurus negara, kota, dan keluarga. Tapi ada dalam satu hari mengurus dirinya sendiri saja tak mampu. Kasihan sekali aku dan dia.

Semoga aku tidak seperti itu. Makanya aku sering membaca buku untuk memperbaiki diri. Kalau diriku baik, nanti ditularkan virus kebaikan itu pada orang-orang terdekatku.

Malamnya, saingnya, paginya, aku terus memikirkan bagaimanan penyelesaian soal Matematika. Di kampus menunggu ibu dosen cantik pun, aku terus mengutak-atik. Aku kalah tak mampu mengerjakan. Dan ternyata cara si ibu gampang sekali diselesaikannya. Di sini logika main. Kenapa cara ibu cantik tidak terpikirkan sama sekali. Apa kau memang bodoh. Padahall UTS kemarin aku yang memperoleh nilai tertinggi.

*

UTS matakuliah Bank Komersial Syariah aku gagal, karena salah rumus. Duduk di depan mau bertanya siapa. Berbeda dengan yang di belakang, bisa bertanya ke kanan-kiri. Mau mencontek buku pun susah. Padahal di malam harinya aku dan Angel Wings belajar bareng, dan pasti soal distribusi bagi hasil akan keluar.

Hanya kukira rumusnya bakal dikasih tahu. Apakah tidak peka pada omongan teman-teman. Ketika ada informasi harus benar-benar didengarkan dan diperhatikan. Akhirnya aku juga yang rugi sendiri. Berarti nanti menghadapi UAS-nya harus lebih baik lagi. Aku harus bersungguh-sungguh. Saksikanlah ya Allah atas kesungguhanku ini. Mudahkanlah dalam menempuhnya. Tanpa pertolongan Engkau niscaya kesungguhan niatku tak akan berguna. Tanpa bimbingan-Mu tidaklah berguna denganku yang setitik debu.

Mengerjakan Matematika di depan, gak selesai. Akhirnya aku dapat nilai bonus limapuluh. Kalau benar mengerjakan akan mendapatkan sepuluh. Untuk mencari alibi memang benar, soal nomor empat aku yang mengerjakan, kubilang begitu pada ibu dosen cantik. Kelompok empat gak bisa menerima, maksudnya tersinggung.

Mereka bertanya apakah yang bertanya atau bicara itu seorang Pyan atau bukan. Selama ini Pyan yang mereka kenal adalah orang yang dalam setiap kata-katanya selalu bijak dan penuh hikmah. Dengan Echa aku beratem. Seperti kata teman, Echa memang orangnya begitu. Tapi diantara kami sudah baikan lagi. Sungguh benar aku harus lebih banyak diam dalam obrolan. Karena obrolanku malah bisa membangkitkan emosi orang-orang.

Kalau emosinya baik sih, tidak apa. Kadang-kadang muncul pikiran kenapa aku selalu jadi kontoversi bagi teman-teman. Kenapa selalu berseberangan dengan mereka. Inginnya diantara kami berjalan akur dan tak ada konflik. Tapi lagi-lagi begitulah kehidupan yang tidak lepas  dari konflik. Karena semuanya punya banyak kepentingan dan berbeda persepsi.

Semua orang mempunyai frame berpikir berbeda. Untuk dapat saling memahami mesti ada komunikasi yang cantik dan caranya pun mesti cantik pula. Konflik jangan dijadikan pertentangan dan penyebab kemunduran. Tapi harus dijadikan dialogis ke arah kemajuan dan kedewasaan berpoikir. Diarahkan pada kearifan dalam menyikapi setiap permasalahan problematika kehidupan.

Malam aku menelepon Angel Wings. Menghabiskan sebelas ribu di wartel, apakah aku masih perhitungan demi persahabatan. Buat apa uang banyak, kalau kebahagiaan tak dapat diraih. Lihatlah mereka-mereka yang menghabiskan berjuta-juta bermilyar-milyar uang, demi sebuah hobi yang dalam anggapan mereka itu bisa membawa kebahagiaan. Tidak salah cuma apakah memang kebahagiaan sejati.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori