Oleh: Kyan | 07/12/2005

Gerimis Berjalan Berdua

Rabu, 07 Desember 2005

Gerimis Berjalan Berdua

**

Saat kami mau berpisah jalan ke arah yang berlawanan, kami janji jam tujuh pagi mau pergi ke Asuransi Takaful. Saat pagi jam enam aku masih bersantai, tahunya sudah muncul Dian. Mengobrol dulu sambil sarapan, lalu kami berangkat.

Sampai di gerbang kampus, bertemulah aku dengannya. Katanya dia udah menunggu lama pisan. Maafin deh, aku lupa janji, dikira jam delapan. Kami memutuskan ke Fakultas dulu dan bertemu teman-teman MKS yang sedang menunggu dosen Bahsul Kutub. Kucari-cari dosen Bahsul Kutub, Pak Atang antara ruang dosen dan ruang kelas. Namun akhirnya malah bertemu Sinta. Senang bisa ketemu dia.

Dia memakai pakaian hitam, serasi dengan jaketku berwarna hitam yang kupinjam darinya. Angel Wings hari ini pun memakai pakaian paduan hitam. Mengobrol sebentar dengannya dan berencana Kamis sore mau main ke kosannya.

Tadinya mau berangkat ke Asuransi berdua dengan Angel Wings. Tapi kutakut fitnah, kami ajak Siti Nuraeni. Memang sih menyenangkan tapi yang namanya godaan syaitan selalu menggebu-gebu. Pergi bersama Angel Wings dan Aeini sampai di alun-alun Bandung jam sepuluhan. Di jalan dia banyak bercerita sewaktu lebaran di kampungnya.

Dia katanya masak, kurang bumbu dan masak ikan gagal. Dia belum cakap memmasak. Kubilang, “Seorang suami sangat berbahagia makan masakan istrinya. Perempuan harus pintar memasak”. Aku juga bilang, “Aku butuh seorang yang bisa mendengarkan hatiku”. Kebiasaan jelekku selalu saja berbicara tentang harapan-harapan, hingga bikin kesal orang. Berarti aku harus lebih banyak diam.

Setelah salat Dzuhur di Mesjid Raya, tadinya mau makan bareng, tapi tak jadi. Sepulang dari Asuransi Aeni pulang duluan, sementara kami mau jalan-jalan dulu ke Kurnia Agung. Rencanaku mau membeli majalah Islamia. Memang aku seperti pacaran saja jalan berdua dengannya.

Akhir-akhir ini kami sering jalan bareng. Sewaktu mau mengambil tas dari penitipan, oleh si penjaga tas dipandangi tatapan terbelalak. Mungkin karena dia terlihat inner beauty dalam pandangan setiap orang. Kalau aku  menatap dia, kadang muncul benci padanya. Tapi tetap ada rasa suka.

Begitu kami melenggang keluar, di luar hujan deras. Menunggu hujan reda, kami duduk berdua di koridor dekat ATM. Setelah hujan agak reda, kami baru berangkat mencari angkot Cicadas-Elang. Dia berjalan dengan sangat hati-hati, karena takut kalau ada yang melihatnya. Dia bilang orang-orang Mihdan banyak di Plaza Parahyangan. Mihdan punya konter di Plaza Parahyangan.

Kami naik angkot Elang-Cicadas menuju arah Cicadas yang sedang mengetem di persimpangan Yogya Dewi Sartika. Aku turun di Gatot Subroto persimpanan mau Palasari. Sementara dia mau terus sampai Maleer. Dari sana aku berjalan kaki sampai pasar buku Palasari.

Sambil berjalan kaki menuju Palasari, kubayangkan peristiwa tadi. Kudapatkan juga kesempatan bisa jalan berdua dengannya. Memang tidak ada yang spesial dari perjalanan kami berdua. Percakapannya terlalu serius dan akupun tak bisa bercanda. Tak ada canda tawa selama perjalanan pulang. Terasa hambar perjalanan ini.

Mungkin aku belanja buku sudah kelebihan. Sampai-sampai untuk makan tidak terpikirkan darimana. Uang empatratus ribu sudah habis buat membeli TV Tunner, kalkulator, membeli buku dan majalah sehabis seratus duapuluh ribu. Dijumlahkan semua Rp. 380.000,- Hanya tersisa duapuluh ribu rupiah. Aku berlindung kepada Allah dari kelaparan. Bukan apa-apa aku melakukan semua ini, tapi dalam rangka mencari ilmu. Setidaknya itu maksudku.

Sampai di kosan segera mandi dan salat. Aku baru ingat berkas dia ada padaku tak sengaja terbawa. Kutelepon dia kapan sampai di Cibiru. Bila memang perlu mau kuantarkan ke kosannya. Setiap kali menelepon dia, ingin saja berlama-lama. Dia selalu bertanya ini dan itu, begitulah.

Karena aku kecapaian aku tidur sebelum shalat Isya. Jam satu pagi aku bangun dulu untuk kutunaikan salat Isya. Tadinya mau dilanjutkan salat Tahajud, tapi ketika sedang dzikir wirid terserang kantuk berat lagi. Belajar persiapan UTS Hukum Bisnis tak terlaksana.

*

Bila kemarin ke Asuransi Takaful, hari ini berencana mengunjungi Asuransi Askes di Pelajar Pejuang. Tadinya mau mencuci dulu tapi takut tidak keburu memenuhi janjiku mau mengantar teman-teman pergi ke Asuransi Askes. Aku masih punya uang duaribu, kubelikan sayur semuanya. Ida sudah menunggu di kosanku untuk segera berangkat. Kubilang padanya aku ingin sarapan dulu.

Tapi setelah makan malah muncul sakit perut. Karena sudah jam delapan lebih, kupaksakan berangkat. Di kampus Puri dan Rini sudah mennunggu lama. Jam setengah sembilan kami berangkat mau ke Buahbatu.

Di bunderan Cibiru melihat perempuan tersenyum ke arah kami. Kucuekin karena tak jelas siapa yang datang. Rupanya ia Angel Wings sedang berjalan menuju kami. Dia memakai pakaian serba tunik. Dia memang terlihat cantik. Tadinya mau mengikuti ajakannya bareng naik angkot bersamanya. Tapi sudah janji dengan teman-teman mau naik Damri. Tidak boleh berubah karena sudah lebih dulu janji.

Tak lama menunggu, Damri dari arah Cileunyi datang. Karena aku hanya mengantar, aku ditanggung ongkos oleh mereka. Puri, Rini, dan Ida mereka baik sekali. Tadi di jalan Runi juga memberiku uang limaribu buat ongkos. Bagaimana cara membalas kebaikan mereka. Berbeda dengan mereka, aku masih suka perhitungan meskipun sedikit.

Begitu sampai di Buahbatu, kuputuskan naik angkot saja. Karena kalau berjalan kaki sangat kejauhan. Apalagi membawa pasukan perempuan. Buat aku sih siap saja berjalan kaki sampai tempat manapun. Tapi selaku pemimpin harus selalu berani mengambil kesimpulan, berani mengambil keputusan. Tidak boleh plin-plan.

Tidak  seperti kemarin waktu bersama Angel Wings. Setiap ada keinginan dia selalu kuberusaha untuk memenuhinya. Aku tak boleh menjadi cerminan orang tidak tegas. Aku harus berani membawa mereka sesuai keinginganku. Karena keinginanku juga karena mereka semua.

Menjadi ingatanku, sewaktu SMU aku dibilang cowok kurang tegas. Katanya aku terlalu banyak mengalah. Selalu menanggapi segala omongan mereka yang ngeyel. Tapi bagiku, boleh-boleh saja mereka memberikan saran dan kritik. Namun aku harus berani mengambil keputusan setelah mempertimbangkan berbagai pendapat mereka. Karena pemimpin dipilih untuk diikuti.

Aku harus belajar jadi pemimpin yang arif. Setiap perkataannya harus jelas dan lugas namun lembut. Aku harus terus belajar menjadi pemimpin.  Saat ini aku belum mampu dan mempunyai tanda-tanda sebagai karakter seorang pemimpin.

Sampai di lampu merah jalan Pelajar Pejuang kami turun dan barulah kami berjalan kaki menelusuri jalan Pelajar Pejuang melewati Hotel Horison. Ingatanku kembali pada masa SMU sewaktu kelas satu pernah masuk ke Hotel Horison. Saat itu bersama kawan kosan ingin menonton Fashion Show dan bertemu Adam Jordan. Malah bertemu juga dengan satu teman SMU-ku, Ajeng Nurjanah yang mengikuti lomba fashion.

Di Hotel Horison aku dengan Mas Lukman bisa makan gratis. Banyak sekali makanan enak dan snack di hotel berbintang ini. Kami tinggal mengambil saja semau-maunya, karena disangkanya aku bagian dari keluarga salah satu peserta kontestan. Ini satu-satunya pengalaman yang menyenangkan yang entah kapan aku bisa masuk lagi ke Hotel Horison.

Entah dimana keberadaan sekarang satu temanku ini. Meskipun kami sering berantem dulu, tapi kami tetap lengket sampai pertemuan terakhir. Tempat kosan kami berpisah, aku masih di tempat lama, sementara dia pindah ke jalan terusan Contong. Dia lebih dulu lulus kuliah dan akhirnya kehilangan kontak dengannya. Begitulah perjalanan kehidupan akan selalu bertemu orang-orang yang entah akan bertemu lagi atau tidak suatu saat nanti.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori