Oleh: Kyan | 12/12/2005

Pecahan Rp 20.000,- dan Produk Wardah

Senin, 11 Desember 2005

Pecahan Rp 20.000,-  dan Produk Wardah

**

Kalau belum menulis, hati dan pikiran belum bisa tenang. Aku harus terus berlatih mencurahkan pikiran ke dalam tulisan harian. Sekarang aku baru bisa dua hari sekali menulis. Selalu tidak sempat, kalau malam hari keburu mengantuk. Saat pagi hari keburu harus berangkat kuliah atau mengerjakan tugas.

Sekarang juga tugas Asuransi yang belum kelar dan masih bingung mesti bagaimana. Dibuat makalah atau cuma laporan saja. Inginku mengejakannya secara Itqan, sungguh-sungguh. Tapi bakal menghabiskan dana lumayan. Lagian aku sedang tak punya uang.

Baru saja ibu kos menagih bayar listrik. Aku menjanjikannya besok. Mudah-mudahan aku bisa pinjam ke teman. Kemarin Nurul mau memberiku pinjaman uang. Semoga itu bukan sekedar bercanda, tapi memang mau menolong aku. Sekarang berdua bayar listriknya duapuluhlima ribu rupiah, begitu ibu kos bilang.

Setelah itu Nurul datang memintaku diantar ke warnet kampus. Mau menagih janji dia mau memberiku pinjaman uang, aku malu mengatakannya. Seperti aku tidak punya harga diri saja. Aku pun tidak ingin telat membayar. Kalau telat nanti akan terjadi konflik. Aku tidak boleh berbuat konflik dengan ibu kost.

Jangan diulangi lagi kejadian sewaktu SMU. Dulu aku dan ibu kos sering banget terjadi konflik. Mungkin salahku karena aku masih dalam masa transisi dan ingin menang sendiri. Bapak kost juga sangat pemarah padaku, maklum sudah tua. Itu pengalaman yang berarti bagi perjalanan hidupku.

Kemarin kupinjam uang ke Dian sepuluhribu buat ongkos ke Cicadas. Di sana ada ATM yang bisa mengambil uang duapuluhribu. Karena saldo tabunganku tinggal tigapuluh delapan ribu, mungkin masih bisa diambil. Ternyata sampai di sana, pecahannya sudah berubah minimal limapuluhribu. Uang duapuluhribu sekarang sudah sangat kecil nilainya, sudah gak berarti apa-apa.

Dulu pertama kali aku mengenal mesin ATM ketika di Cimahi, bisa mengambil sepuluhribu dan duapuluh ribu. Karena inflasi nominal uang yang dulu dianggap gede, sekarang cuma bisa dibelikan apa-apa. Aku hanya bisa pasrah saja. Aku mau meliat-lihat ke Kandaga. Tapi kupikir aku harus segera pulang untuk mengerjakan tugas dan lagian kalau sore, bis Damri bakal penuh sesak.

Untuk mengurangi bis penuh sesak, aku ingin naiknya agak mendekat ke Kosambi. Aku berjalan kaki dari Cicadas sampai perapatan jalan Jakarta. Jalan sendirian seperti perualangan dari kejadian dulu-dulu. Aku naik Damri dan di bus ketemu Lela dan Musliha, anak MKS-B. Katanya dia habis main dari teman.

Karena cuaca sudah mendung, akhirnya turun hujan dengan derasnya. Sampai di kampus melihat jalan desa Cipadung seperti sungai, begitupun depan kampus kebanjiran. Karena tanggung hujan-hujanan, aku, Lela, dan Musliha menyusuri jalan Cipadung sambil hujan-hujanan. Aku kedinginan banget. Seperti film India saja akan sangat indah bila hujan-hujanan begitu dengan orang tersayang. Terasa dunia milik berdua.

*

Ya Allah, cukupkanlah rezeki padaku, segerakanlah ibuku mengirim uang lagi untukku. Aku ingin segera membayar utang ke Dian duaratus ribu dan Dudi limapuluh ribu. Aku malu pada mereka karena sudah lama waktunya. Aku sudah ingkar janji pada mereka. Salahku kemarin malah membeli TV Tunner dan membeli buku berlebihan. Akhirnya buat membayar listrik tak ada.

Ya Allah, berilah jalan keluarnya. Tak enak juga minta terus ke orang tua. Kapan mandirinya secara finansial. Ada mencoba bisnis menjual peroduk Shar-E, potensi market mahasiswa UIN, belum bisa menjual lagi. Dulu aku sudah bisa menjual Shar-E dua buah, tapi gak dapat komisi. Karena tanpa sepengetahuan pak Syarizal dan pak Karsono. Lalu kujual stiker punya teman-teman, laku semuanya. Semua produk yang kutawarkan pasti laku.

Sekarang menjual apa lagi. Nantinya ditanyain lagi ke Liza aku bisa menjual apa. Katanya dia mau ganti lagi kosmetik. Dulu dia pakai Wardah, dan cocok. Sekarang dia pakai Revlon, gak cocok malah jerawatan. Dia sudah janji kalau sudah habis dipakai produk-produk Revlon mau pindah ke Wardah lagi. Semoga dia serius, bukan sekedar basa-basi membeli produk Wardah padaku.

Seharian aku di kosan saja. Membaca majalah Islamia. Konsep pendidikan Islam menurut Syed Naquib al-Attas adalah bukan tarbiyah, tapi ta’dib. Dikatakan konsep ‘Kesatuan Agama-Agama” yang diusung Schoun boleh sampai pada tahap Rabb. Tapi beda konsep Ilahnya antara berbagai agama. Islam adalah eksklusif dalam aspek  teologis, tapi inklusif dalam tatanan etika.

Aku jadi ingin kuliah di IIUM Malaysia. Dulu aku sudah bermimpi minimal kuliah di Malaysia bila tidak bisa di Amerika. Melanjutkan kemudain ke Inggris atau Amerika. Di sisi lain aku optimis, tapi di sisi lain aku pesimis. Karena tidak menguasai bahasa Arab dan Inggris. Bagaimana caranya agar aku mahir berbahasa Inggris dan Arab untuk dapat menelaah literaturnya.

Aku akan menghadapi ujian quiz matakuliah Matematika minggu depan. Bagaimana ini aku belum belajar. Aku bersyukur pada Allah karena Uly, Ida dan Nuraeni datang ke kosanku mau belajar bareng-bareng. Belajar mengisi soal-soal Matematika. Aku harus harus belajar terus sampai bisa tentang bunga sederhana dan bunga majemuk. Kalau aku belajar sungguh-sungguh pasti aku bisa. Hanya soal waktu dan kesungguhan berusaha. Kalau orang lain bisa, kenapa aku gak bisa.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori