Oleh: Kyan | 17/12/2005

Siapakah Teman Tapi Mesra

Sabtu, 17 Desember 2005

 Siapakah Teman Tapi Mesra

**

Semalam aku tidur jam duabelas setelah menonton TV dulu. Mulai mengerjakan Asuransi, ternyata dosen Asuransi gak masuk. Sudah bela-belain hujan-hujanan pergi ke warnet lagi masih mencari-cari profil lembaga asuransi. Tapi tak ada, sia-sia akhirnya.

Kuliah pagi kupakai kaos baru. Kemarin Dian menawarkan aku baju lebaran dia. Katanya belum dipakai dan mau dijual semuanya dua helai. Dalam anggaranku tak ada buat membeli baju. Hutangku juga masih banyak ke Dian. Katanya dia sedang kepepet uang. Aku sudah menawarkan mau bayar hutang ke dia. Tapi dia menolak dibayar dulu.

Dia bilang nanti saja Januari bayarnya. Maka sekarang mending beli saja kaos ini, katanya. Memang aku gak punya pakaian dan sudah ada rencana ingin membeli baju warna hitam dan merah. Tapi hutangku belum pada lunas. Aku sudah hidup dililit hutang. Kasihan sekali aku. Aku tidak akan berhutang lagi kecuali kalau kepepet. Orang lain juga berhutang karena kepepet.

Aku harus mencukupkan diri dengan uang pemberian ibuku. Suatu saat nanti pemberian ibu akan berhenti. Aku harus bersiap sedia. Aku harus mencari penghasilan sendiri. Ingin sekali aku ingin kerja paruh waktu. Kalau kerja di perusahaan gak mungkin. Soalnya dijadwal dan jadwal kuliahku. Sementara aku kuliah gak tentu waktunya. Makanya ketika ada tawaran memasarkan Shar-E, aku mau mencoba menjualnya. Bagaimana cara memasarkannya, aku harus mencari strategi.

*

Aku bangga padanya. Dia sambil kuliah, bisa kerja sambilan di Mihdan. Meskipun gajinya masih kecil tapi sudah mendapatkan pengalaman dan ilmu yang tak terhingga. Dia makin dewasa dengan pengalaman bekerja. Aku harus banyak belajar padanya. Dalam kesendirianku aku selalu ingat dia. Meskipun lelah tapi tugas masih bisa dia kerjakan. Kuliah tetap jalan dan sudah banyak relasi.

Nanti kalau lulus semoga dengannya mudah untuk mendapatkan kerja. Meski kadang aku pesimis. Aku ini konsen kuliah dan tidak sejak sekarang membangun relasi. Apalagi kemampuan bahasaku kurang. Lantas apa yang bisa kuandalkan. Aku sudah berusaha untuk menguasai berbagai konsep, tapi apakah bisa membuatku optimis masa depan. Aku tidak tahu. Aku hanya berpasrah pada yang memilikiku. Penguasa semesta. Jangan takut menatap hari esok.

Memasarkan produk Shar-E harus jadi tantangan bagiku. Aku rasa aku bisa menjualnya. Aku harus menentukan strategi yang jitu untuk menjualnya. Tapi bagaimana caranya. Semoga Allah memberikan kemudahan bagiku. Penting senantiasa berjuang terus dan mulut yang selalu berdzikir. Kaki yang terus melangkah, tangan yang selalu menolong, dan hati yang selalu mematri dzikir komunikasi dengan Tuhan. Kepasrahan dan ketundukan hanya pada Tuhan Esa. Kutataplah kini masa depan dengan mata nanar.

*

Sedang kususun kata-kata bagaimana aku membuat puisi tentang pernikahan. Buat yang mau menikah, mbak Ulfa. Puisi bukan sekedar rangkaian kata yang indah dan puitis. Tapi harus mengandung makna yang dalam. Apa yang mesti disampaikan pada pembaca. Aku ingin selalu membuat puisi indah.

Sewaktu SMU, ketika sedang gecar-gencarnya remaja SMU teridola pada puisi Rangga dan puisi Cinta dalam AADC. Akupun ikut-ikutan ingin bisa menulis puisi. Saking kesohornya film, kami ingin menonton bareng. Kami menonton sengaja ke BIP dan sekalian jalan-jalan.

Kalau sekarang kupikir ngapain menghambur-hamburkan uang. Tapi dipikir-pikir lagi sekali-kali boleh saja dan ingin juga mencoba lagi pergi nonton bareng. Dengan siapa kek. Aku gak punya teman perempuan yang kuajak. Kalau TTM mungkin ada, tapi siapa. Perempuan yang dekat denganku saat ini ada Uly, Ayu, Sinta, Lia, dan siapa lagi. Sekedar menjalin hubungan keakraban kan tidak apa-apa kuajak mereka jalan-jalan.

Beberapa bulan lalu aku, Uly dan teman-teman satu kostnya mengantar Didi, adiknya Mbak Ulfah mau mencari kosan di sekitar UPI. Aku mengenalkan mereka ke teman SMU-ku, terutama Cahyo. Teman-teman SMU yang kuliah di UPI pada bertanya, “Uly teh siapanya kamu. Anggi bertanya, “Uly, istri kamu ya?”. Akh, aku sudah lama gak menelepon Anggi. Memang menelepon itu memboroskan uang. Semuanya memang memerlukan pengorbanan.

Ada pepatah kalau ingin tahu karakter seseorang, lihat bagaimana sikapnya terhadap masalah uang dan ajaklah dia dalam perjalanan. Kalau aku pelit soal uang, mungkin mereka akan gampang menerka karakterku yang sebenarnya. Aku harus tahu karakterku sendiri, bukan karena apa kata orang tapi atas penelaahanku sendiri.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori