Oleh: Kyan | 19/12/2005

Pangauban dan Galanggang Batujajar

Senin, 19 Desember 2005

Pangauban dan Galanggang Batujajar

**

Karena sudah janji pada ibuku, Minggu aku pergi ke Batujajar. Aku berangkat jam sembilan pagi naik Kotrima. Sampai di Batujajar jam sebelas. Jarak Cibiru-Batujajar menghabiskan waktu dua jam. Ongkosnya sepuluh ribu, katanya kemahalan. Tidak apa-apa karena aku sudah selamat sampai tujuan.

Dari pasar Batujajar, aku naik delman juga kuserahkan ongkos tigaribu rupiah yang seharusnya duaribu. Penghasilan tukang delman cuma empatpuluh ribuan perhari. Dari jam tujuh sampai sore. Kecil atau besar, tergantung parameternya. Begitu sedikit percakapan aku dengan tukang delman.

Akhirnya aku bertemu ibuku. Ibuku makin kurus saja. Ibu waktu remaja berbeda dengan ibu yang sekarang. Sudah jelas ibu siapapun begitu. Dulu ibuku cantik sekali. Katanya mojang desa yang mau dilamar oleh pemuda yang sekarang pak Kades di kampungku. Akhirnya jadi menikah dengan pemuda yang jadi ayahku.

Kemudian lahirlah kakak-kakakku dan aku. Itulah takdir. Ibuku menjanda selama duapuluh tahun lebih. Aku bisa sedikit merasakannya. Pasti ibuku kesepian, karena sipat perempuan adalah butuh perlindungan. Tapi ibuku tabah. Mungkin tapi pasti kesuksesan adalah kebahagiaan hidup ibuku. Aku harus jadi anak yang saleh.

*

Pulang dari Pangauban Batujajar, aku mampir ke rumah Cahyo. Akhirnya bertemu pula dengan sobat setiaku waktu SMU, Cahyo. Setelah beberapa bulan tidak ketemu. Dia makin dewasa saja. Tapi kalau aku gak tahu, mungkin makin cengeng saja. Rencana mau pulang lagi, tapi karena tanggung aku malah menginap di rumah Cahyo.

 Keluargaku punya rumah di Pangauban. Tapi belum selesai. Hidup di Bandung segalanya dengan uang. Selama setahun ini ibuku sudah mengeluarkan empatpuluh juta untuk merenovasi rumah. Entah kapan rumah itu selesai. Selama setahun ini ibuku sudah mengeluarkan uang untuk biaya kuliahku delapan jutaan lebih. Memang tidak terasa dengan pengeluaran hidupku. Itulah investasi hidup. Itu semua rezeki dari Allah. Dari manapun jalannya. Sudah sepatutnya aku bersyukur pada Allah. Alhamdulillah rabbil ‘alamin.

Kalau menginap di rumah orang lain, malas untuk mencuci muka. Akhirnya setelah bangun pagi aku merasa tumbuh benjolan seperti jerawat di pipiku. Gara-gara tidak mencuci muka sebelum tidur. Aku lupa membawa facial foam. Kalau sudah jerawat begitu suka risih dan gak pede.

Itu memang masalah pola pikir. Padahal sama saja mau jerawatan atau bersih kepercayaan diri harus dibangun dari dalam diri. Lagian banyak yang suka paaku dengan apa-adanya. Aku harus memancarkan kepedeanku dari dalam. Aku pintar dan ganteng, lalu apa lagi. Aku memiliki banyak kelebihan, lantas kenapa tidak pede.

Mumpung ada waktu pulang dari Batujajar, aku mampir ke toko Mesra ingin bertemu Nofal di alun-alun Cimahi. Sudah lama aku gak bertemu Nofal. Dia yang sangat berjasa pada perjalanan hidup remaja SMU-ku. Dia yang pertama kali mengajarkan aku komputer, memberiku makan, memberiku uang jajan, pernah mencuci pakaianku, dan sudah dicarikannya tempat pekerjaan.

Meskipun pernah terjadi konflik, itulah bumbu-bumbu persahabatan. Dulu aku dan dia belum dewasa dan selalu mengedepankan egonya. Tapi aku sudah belajar bagaimana mengatasi semuanya. Aku harus selalu membina persahabatan. Seorang sahabat sangat berharga dibanding yang lain.  Itu anugerah dari Tuhan. Perjuangkanlah untuk sebuah persahabatan.

Mampir dulu ke alun-alun Bandung. Mau ke toko buku Kurnia Agung membeli majalah Islamia terbaru. Tapi edisi terbaru masih belum terbit lagi. Bangkrut atau bagaimana ini majalah Islamia. Sekedar oleh-oleh jalan-jalan ke toko buku, kubeli saja buku-buku kecil terbitan MQ. Buku tulisan Aa Gym berisi kiat praktis manajemen qalbu.

Tapi pak Anis Matta mengingatkan hati-hatilah dengan buku praktis begitu. Buku yang memberi rumus mujarab cespleng, karena sering tidak bertahan lama. Karena merubah kebiasaan harus bermula dari pola pikir. Bermula dari sudut teoretisnya yang harus benar dan ilmiah dulu.

Sampai di Cibiru lagi jam setengah tiga, terasa lelah sekali perjalananku. Kuingat terus belum mermapungkan pekerjaan makalah Asuransi. Sudahlah, sudah boros uang lagi, sekarang mempersiapkan persentasi PAI, membuat bahan persentasi MKS, makalah MKS, test bahstul ktub, menungguku untuk segera diselesaikan.

Perubahan adalah soal waktu. Kepercayaan harus diperjuangkan. Besok mau ada pemilu di kampus. Pemilu pemilhan presiden BEM IAIN. Struktur pantia dan tata aturan kemahasiswaan terlihat acak-acakan. Untuk menata supaya nilai-nilai keadilan terealisasikan dalam sistem kemahasiswaan bagaimana memperjuangkannya. Aku selaku masyarakat IAIN harus bertindak apa. Dari nilai-nilai kecil, perubahan masyarakat dimulai dengan merubah diri sendiri. Musuh terbesar dalam hidup adalah diri sendiri. Setidaknya begitu pepatah mengatakan.[]

*


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori