Oleh: Kyan | 21/12/2005

Tentang Dian dan Neng Titin

Rabu, 21 Desember 2005

Tentang Dian dan Neng Titin

**

Disibukkan mengutak-atik latihan soal Matematika. Kalau aku berpikir tidak bisa, ya tidak bisa. Kumulai dengan paradigma bahwa bahasa matematika itu mudah. Aku mampu mengerjakan soal-soal Matematika Keuangan.

Ketika aku lagi mengerjakan soal, muncullah Neng Titin mau menanyakan bagaimana Hukum Bisnis. Kubilang masih belum menyiapkan apa-apa. Lalu dia bercerita tentang masalah Dian. Ia bilang Dian mengungkapkan perasaannya. Neng Titin bingung untuk menjawabnya. Aku tak bisa memberi solusi. Hanya kembali pada prinsip hidup, apakah mau pacaran atau tidak adalah pilihan.

Prinsipku tidak ingin pacaran, tapi tidak pula ingin mendikotomikan pacaran atau tidak pacaran. Tapi mungkin bisa membina hubungan moderat, seperti yang diistilahkan Teman Tapi Mesra, TTM atau apalah namanya. Aku pun sebagai lelaki butuh seseorang yang bisa memotivasiku dan berbagi cerita.

Sekarang kukira aku sudah mendapatkannya layaknya seperti orang pacaran. Sudah saling memberi menerima, sharing pikiran, merencanakan masa depan dan pembicaraan lainnya. Bagiku dia begitu perfect bagiku. Meskipun sama aku pernah mengatakannya. Tapi aku tidak meminta jawaban darinya, kecuali aku hanya mengatakannya saja.

*

Pulang kuliah aku main ke ksoan Uly, sekalian mau mengerjakan tugas MKS. Sampai Maghrib aku disana. Bertukar cerita tentang agenda keseharian. Sekarang aku sering jalan bareng dengannya. Kalau sedang membicarakan cowok dan teman cewek lain aku sering dibuat jeles. Suka bikin aku down, padahal itu biasa saja ceritanya. Toh kalau dia cinta, ia akan tetap setia. Kalau aku membicarakan cewek lain, ia jeles gak sih. Bagaimanapun perasaan dia mestinya aku sadar aku harus bisa menjaga perasaan seseorang. Berpacaran atau tidak, bila membicarakan perempuan lain di hadapan seorang perempuan akan bisa menyakitkan.

Buku harianku sudah penuh dengan namanya. Nama indahnya terukir mesra. Setiap dinding terlukis wajahnya. Gak tahu aku selalu ingat padanya. Moga cintaku bukan cinta buta. Cintaku tumbuh subur karena dipupuk terus menerus. Cinta adalah kata kerja. Cinta adalah perbuatan. Niscaya akan kugenggam cinta itu. Karena cinta adalah anugerah semesta.

Pulang dari kosannya, aku belajar makalah PAI yang akan dipersentasikan Kamis pagi. Aku percaya bahwa aku bisa dan lancar menjelaskan. Kenapa mesti takut sejak sekarang dan takut tidak mampu menjawab berbagai pertanyaan.

Meskipun tidak setiap pertanyaan memerlukan jawaban, tapi aku yakin mampu menjawabnya. Kalau bisa menjawabnya, maka jawablah, kalau gak bisa jangan dipaksakan menyanggah atau membenarkan. Toh namanya juga belajar. Biar dibilang bodoh, tak apa-apa.

Menyusun makalah MKS belum kelar juga. Persiapan persentasi belum dan aku harus belajar dulu sampai benar-benar faham. Materinya sedikit kok. Persentasi Hukum Bisnis belum persiapan juga. Akhirnya suka bingung mana yang harus diprioritaskan karena semuanya sama-sama penting harus segera dikerjakan.

Kalau aku kebagian persentasi ke depan suka tegang. Kenapa mesti harus tegang. Semua sama-sama manusia. Aku memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Aku yakin bisa dan berjalan lancar-lancar saja. Kita saja yang selau mendramatisir keadaan. Khawatir berlebihan tidak baik juga. Sikapilah dengan biasa-biasa saja.

Aku boleh menyalahkan siapa-siapa kalau merasa susah untuk belajar. Kalau sedang banyak orang di kosan, membangun konsentrasi harus dari dalam diri. Aku tak boleh menyalahkan siapa-siapa. Mungkin teman-teman yang datang ke kosan, bisa aku memanfaatkannya untuk belajar bersama-sama. Pasti akan banyak menemukan hal-hal yang tidak kumiliki.

*

Selasa depan aku bakal menghadapi tes Bahsul Kutub. Aku bukan lulusan pesantren jadi wajar kalau gak bisa. Tapi kewajaran itu jangan dijadikan alibi. Aku pasti bisa kalau belajar sunguh-sungguh belajar membaca kitab gundul.

Aku sedikit bisa membaca arab gudul. Karena dulu sewaktu kecil pernah belajar Tasrifan. Sisanya cukup dengan perasaan dari intuisi untuk membunyikan kalimat dengan cara meraba-raba membaca kata mana yang enak dieja. Memang kalau menerjemahkan akan lebih gawat lagi. Kemampuan bahasa Arab adalah kemampuan pokok untuk menggapai cita-cita dan harapan.

Aku bercanda tawa ceria dengan teman-teman di kosan. Apakah efektif untuk mengisi hari-hariku. Untuk meraih cita-cita aku takut semunya adalah kesia-siaan. Aku selalu ingat nasihatnya. Betapa padatnya agenda dia antara belajar dan bekerja. Dia pernah bilang jadikan sebuah relasi sebagai batu loncatan agar benih yang ditanam hari ini bisa dipetik di kemudian hari.

Setelah mencoblos Pemilu Kampus, kami menonton basket. Bulan ini sedang musim turnamen Basket antar jurusan. Hari ini anak MKS menghadapi jurusan BSA. Mereka pada jago bermain basket. Aku suka bertanya apakah aku bisa apa. Aku jarang olaharaga selain renang. Yang bisa aku andalkan adalah olahraga renang.

Tapi setahun lebih ini aku gak pernah renang. Di Cibiru tidak ada kolam renang. Tapi di Bara di Manglayang katanya ada. Setelah kucari-cari kesana tak ketemu lokasinya. Entah masih ada atau sudah tutup. Kalau sudah tahu tempatnya nanti mau rutin renang lagi. Rencana Minggu pagi mau renang dengan Aceng. Tapi aku harus ke Garut. Janjinya harus dibatalin dulu. Nanti membuat janji lagi dengannya pergi berenang.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori