Oleh: Kyan | 23/12/2005

Bakso Dudi dan Usaha Tugasku

Jum’at, 23 Desember 2005

Bakso Dudi dan Usaha Tugasku

**

Tiba saatnya kuliah kuliah PAI yang seharusnya aku persentasi tentang keadilan, malah dosenya gak ada. Tapi ada tugas meresume buku “Etika Bisnis dalam Islam”. Aku belum tahu secara jelas apakah resume itu hampir sama dengan merangkum. Aku bisa menambah lagi persiapan persentasi minggu depan.

Buku Etika Bisnis dalam islam, Robbi punya bukunya. Diperolehnya dari perpustakaan dengan mencurinya. Dia membawanya tanpa memakai kartu peminjaman. Tapi diselipkan saja ke balik bajunya. Seperti Chairil saja mencuri buku begitu. Tadinya mau kufotokopi bukunya, tapi masih bingung apakah lebih baik membeli saja. Tapi untuk Agustus sampai Desember aku gak bisa membeli buku. Kini aku harus banyak berhemat.

Ibuku sekarang masih di Bandung dan setelah lebaran haji baru kembali ke Batam lagi. Bila ibu disini tak mendapatkan penghasilan, lantas aku meminta bekal pada siapa. Makanya aku harus punya penghasilan sendiri. Aku harus belajar untuk tidak bergantung pada orang tua.

Uly pernah bilang cobalah bilang pada ibumu, bulan ini atau kapan tak usah dikirim uang lagi. Supaya mencari jalan rezeki lain untuk bekal kuliah. Dalam pikiran belum terbayangkan bagaimana mencari cara supaya mendapatkan penghasilan. meski sekarang tiap hari selalu punya penghasilan dari rental komputer. Tapi belum seberapa jumlahnya untuk kebutuhan selain dari buat makan.

Memang selalu ada rezeki. Kalau ditambah lagi satu komputer, mungkin penghasilanku akan bertambah. Peminjaman buku juga pada laku. Yang disukai kebanyakan buku-buku novel, buku-buku kuliah, dan buku tentang pernikahan. Ada masukan katanya perpustakaan dimanaj dengan baik supaya bisa berprofit.

Selama ini aku menekankan pada visiku yaitu untuk memasyarakatkan minat baca. Ketika mereka meminjam dan memberi uang baru kuterima. Kalau tidak tidak apa-apa, karena sudah senang bukuku ada yang meminjam. Kalau misinya sudah tersampaikan dengan baik, baru aku berpikir profitabilitas. Dalam rangka penambahan pengadaan buku-bukunya bagaimana kalau tidak ada pemasukan.

Suatu saat nanti aku bakal punya toko buku besar dan lengkap. Itu sebuah kewajiban. Pokoknya dalam hidupku kalau sekedar mendapat penghasilan dari karyawan perusahaan orang lain gajinya sedikit. Aku harus punya perusahaan yang bergerak di tiga bidang, yaitu makanan, pakaian (kain), dan pendidian.

Aku mau membuka usaha restoran, café, butik, toko kain, pakaian dan yayasan pendidikan. Selain itu wajib jadi dosen dan pembicara di acara-acara kursus dan seminar untuk mentransfer ilmu pada generasi muda. Lantas apa yang sudah aku persiapkan sejak sekarang kecuali ilmunya.

Aku juga mesti belajar masak. Calon istriku harus pintar memasak. Di bidang pakaian, calon istriku harus pintar dalam bidang pakaian, dapat berdandan dengan serasi dan bisa mengikuti tren. Untuk yayasan mulai sekarang aku mengumpulkan buku-buku sebagai pondasi yayasan pendidikan, yaitu adanya perpustakaan lengkap.

*

Kamis sore tadinya mau potong rambut. Sudah lama tak potong rambut dan ingin aku terlihat lebih rapi. Tapi banyak yang menyarankan gak usah dipotong. Uly menyarankan pinggirnya saja ditipiskan pasti lebih cakep.

Tapi itu model lama. Gaya baru adalah model zigjag. Mau potong rambut saja bingung. Kalau potong rambut, aku bisa sedekah ke tukang cukur atau salon. Kemarin salonnya tutup waktu pulang Magrib dari kosan Uly. Aku mau ke kosannya lagi mau mengantarkan bahan-bahan persentasi MKS.

Di kosan dia bercerita banyak. Kukira dia ke Mihdan, ternyata seharian ada di kosan. Mau tidur gak bisa tidur. Dan sudah bilang gak akan ke Mihdan. Aku sering banget ke kosan dia. Banyak yang menyangka aku ini pacarnya dia. Dia sering menjawab pertanyaan teman-temannya, aku adalah kakaknya.

Aku kelahiran delapan puluhtiga, sementara dia kelahiran delapan puluhlima. Kalau hanya berbeda tiga tahun, jarak usia yang terlalu dekat layak jadi pasangan. Katanya pasangan yang ideal harus berbeda lima tahun.

Melihat perempuan usia lima tahun di bawahku kelihatan belum dewasa. Berbeda dengan dia, dia mandiri dan berpandangan ke depan. Sepertinya baru kali ini aku menemui perempuan yang perfect bagiku. Mungkin aku menilai dia secara berlebihan. Aku harus menemukan perempuan yang lebih baik lagi. Jangan yang di bawah standar. Jadi dia sebagai ukuran standar?

*

Sejak pagi aku mengetik Bahsul Kutub tentang Syirkah. Nanti Selasa aku bakal dmenghadapi test. Aku harus belajar dan jangan jadi alasan karena aku bukan lulusan pesantren, mewajarkan diri tak bisa membaca kitab gundul. Aku harus bisa bahasa Arab dan Inggris. Sudah kuniatkan tahun 2006 ingin kujadikan sebagai tahun bahasa. Sebagai tahun persiapan belajar tiada henti keterampilan bahasa sebagai modal utama.

Sorenya banyak yang datang ke kosanku. Dian, Dudi, Iis, Eka, Hana, dan Hani. Kami makan bakso ditraktir semuanya oleh Dudi. Dudi orangnya sudah pinter, baik lagi mau traktir kami.

Banyak sekali aku menerima orderan. Kemarin malam ada yang minta diketik, kuperoleh uang delapan ribu. Mudah-mudahan Sabtu bakal mendapatkan uang lagi. Soalnya dosen memberi kami banyak tugas. Kalau banyak tugas akan memberi banyak keuntungan buatku.

Jadi ketika ada tugas jangan sedih. Tapi harus senang, karena ada pemasukan dari teman-teman jasa pengetikan. Tapi konsekuensinya aku harus bergadang. Keseringan bergadang berbahaya bagi kesehatan. Terasanya nanti kalau sudah tua akan rawan terhadap penyakit. Makin tua makin penyakitan. Untuk membikin kekebalan tubuh aku harus sering berpuasa. Sekarang aku jarang berpuasa. Aku harus sering puasa lagi seperti dulu.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori