Oleh: Kyan | 28/12/2005

Mencintai Diriku Saja

Rabu, 28 Des 2005

Mencintai Diriku Saja

**

Aku ingin marah. Dia egois. Aku benci padanya. Aku muak. Ya Allah, sekarang aku tidak akan mencintai siapapun. Aku mau mencintai diriku sendiri saja. Orang lain bisa egois, aku juga bisa egois. Selama ini aku berbuat dan selalu mengorbankan apa saja untuk menolong. Pertama karena mau menolong, karena Tuhan, kedua mau memberikan dan mendapatkan perhatian. Sekarang aku mau menolong sewajarnya saja. Tidak akan berlebihan demi sepercik kasih sayang.

Aku akan tetap mengulurkan pertolongan karena sebab pertama saja. Kalau aku sempet aku bakal menolong secara lebih. Tapi kalau gak sempat aku gak bakal memaksakan diri dan mengorbankan diri. Selama ini memang aku begitu. Lantas kenapa harus mengharapkan lebih.

Sekarang akan jarang berbicara aku dengan dia. Mungkin tidak akan ke kosannya lagi. Aku akan cuek saja seperti orang biasa dan kenal sewajarnya. Dia terlalu mencintai dirinya sendiri. Tidak mau merasakan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Sebenarnya aku tidak mengajaknya pacaran. Aku juga berprinsip tidak mau pacaran, tapi apa susahnya merasakan apa yang dia alami juga.

Ia pun datang ke kosanku buat mengembalikan buku. Ia bilang mau langsung ke Mihdan. Apakah mesti kukatakan padanya bahwa aku benci aku muak. Akankah sakit perasaannya atau akan cuek saja. Haruskah aku tumpahkan kemarahanku di hadapannya.

Apakah aku tidak akan menyesal. Apakah ini hanya sekedar emosi sesaat. Kata pepatah: aku tidak menyesal terhadap kata-kata yang ingin aku tumpahkan. Aku akan mendiamkan saja. Aku takut menyesal terhadap kata-kata yang pernah aku tumpahkan karena kata-kata yang kulontarkan tak bisa kutarik kembali.

Nanti juga sembuh sendiri sakitku ini. Antara benci dan cinta begitu tipis. Akan aku katakan: “Kamu egois dan aku benci kamu. Di sisi lain kamu punya prinsip, namun sisi lainnya tidak berprinsip. Selamat tinggal. Buat apa mencintai kalau nantinya malah menderita yang didapat. Meskipun ada ungkapan siapa takut jatuh cinta, tapi ternyata kau takut untuk jatuh cinta.”

Buat apa hidup, kalau nantinya mati. Tapi hidup telah kita jalani. Terima saja konsekuensinya. Buat apa mencintai tapi akhirnya malah disakiti dan tidak dicintai. Aku sudah mencintai berarti aku harus menerimanya saja segala konsekuensinya. Aku merasakan akibat dari segalanya. Ya lebih baik aku tidak mencintai siapapun. Aku akan dan hanya mencintai diriku sendiri saja.

Salahkah aku mencintai? Salahkah aku membenci? Kenapa tiba-tiba aku harus jatuh cinta. Kenapa harus jatuh cinta, tidak bangun cinta padanya, kalau toh akhirnya menderita dan merana. Kenapa semuanya menimpaku. Salahkah aku? Kenapa itu semua menimpaku?

Begitu meluap-luap perasaanku padanya. Haruskah kusimpan semuanya yang menyakitkan itu. Lantas apa yang bisa kubanggakan dengan berani jatuh cinta. Keluarga broken home miskin bodoh dan serba kekurangan. Pantas tak ada yang mencintaiku.

Oh Tuhan, berilah aku kesabaran. Ketabahan dan selalu bergantung pada-Mu. Aku selalu mengeluh terhadap problematika hidup. Sepertinya aku tidak sanggup untuk menanggungnya. Engkaulah yang memberi kepadaku rasa cinta terhadap seseorang. Namun nyatanya dia benar-benar tak mau mencintaiku.

Kalaupun sebenarnya dia mencintaiku, kenapa dia tak mau mengakuinya. Aku juga tak mau pacaran. Hanya saja kenapa rasa cinta ini hadir di hatiku. Cara mengendalikan rasa ini bagaimana ya Tuhan?

Mungkin sekarang karena aku tidak pernah lagi puasa Senin Kamis. Dan terlalu memperturutkan hawa nafsu. Kadang aku iri dengan teman-temanku yang punya banyak kelebihan. Sedangkan aku begini adanya. Apa yang mesti kubanggakan. Kenapa aku begitu minder. Kenapa aku kalah. Kenapa aku berputus asa. Begitu menghimpit perasaan ini sampai ke ubun-ubun.

Ya Allah berilah aku kesabaran. Janganlah aku diberi rasa benci terhadap siapapun. Kenapa aku harus membenci dia yang tak mencintaiku. Cinta tak bisa dipaksa. Siti Nurhaliza bilang: cinta tak perlu dicari, karena nanti juga ada jawabnya. Kenapa aku harus memaksa seseorang untuk mencintaiku.

Aku tidak mengajak berzina—Naudzubillah, cuma aku ingin ada orang yang mengatakan: aku mencintaimu sepenuh hati. Aku butuh seseorang yang bisa memberi perhatian padaku.

Kenapa aku tidak dicintai? Belum pernah rasanya ada orang yang mengatakan: ‘aku sayang kamu’. Ah, lebih baik aku mencintai diriku sendiri. Aku tak akan mencintai siapapun. kenapa aku begitu cengeng. Kenapa sih gak ada yang bisa mengerti aku. Haruskah tahun 2006 kuisi dengan kebencian. Akhirnya mulai sekarang aku harus belajar untuk membencinya, biar cintaku padanya pudar dan lenyap ditelan asap api. Karena sudah tak ada harapan lagi.

Di tempat kerjanya sudah ada temen kerjanya yang mungkin lebih dekat dibandingkan aku. Dia selalu cerita tentang itu. Tentang masalahnya di tempat kerja, keluarga, dan tentang mata kuliah dia selalu bicara padaku. Dia selalu cerita semuanya. Tapi dia tidak mencintaiku. Kasihan banget aku.[]

 **


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori