Oleh: Kyan | 01/01/2006

Kegagalan Pada Dua Perempuan

 

Ahad, 01 Januari 2006

Kegagalan Pada Dua Perempuan

**

Kupanjatkan syukur ketika memulai hari di awal tahun baru ini. Alhamdulillah, aku masih bisa merasakan detaknya jantungku, desah nafasku, memandang indahnya alam semesta, dan segala nikmat yang kuterima sepanjang hidupku. Aku harus mengevaluasi diri tentang keberhasilan apa yang telah kuraih dan kegagalan apa yang telah kualami salama ini.

Rasanya aku belum banyak melakukan apa-apa dan merugilah aku ini bila belum melakukan berbagai hal. Aku bersyukur mendapat IP kumulatif tertinggi di jurusan. Ini dapat menjadi kebanggaan dan harus aku pertahankan. Dan sebentar lagi mau menghadapi UAS kembali, aku harus mempersiapkannya dengan bersungguh-sungguh.

Aku harus jadi kebanggaan ibuku yang sudah berkorban segalanya untukku. Belajar jangan hanya sisa waktu. Meskipun sibuk organisasi, tapi aku harus tetap belajar dan selalu menjadi yang terbaik. Jika sebelumnya mampu, kenapa sekarang tidak mampu meraihnya.

Kegagalanku adalah aku belum bisa menulis artikel. Ingin sekali aku bisa menulis tentang realita yang dapat kuikat dari hidup ini dan dikirim ke media. Masa aku gak bisa menangkap fenomena yang terjadi. Aku pasti bisa menulis dan berasumsi tentang apa yang kudengar dan kupandangi. Orang lain saja bisa, yang jarang membaca buku. Kenapa aku gak bisa, yang sudah banyak referensinya.

Aku belum tahu langkah-langkah teknis dalam menulis. Mimpinya aku ingin jadi seorang sastrawan, pemikir, dan pengusaha. Maka aku harus faham manajemen, centang perenang pemikiran, dan ahli menuliskan. Aku harus banyak membaca buku novel, puisi dan artikel karya orang ternama. Aku harus konsultasi ke pak Hernowo tentang bagaimana cara menulis yang disamping baik juga benar. Karena dari beliau aku dapat memulai menulis catatan harian. Dan kurasakan sekarang aku telah banyak mendapatkan banyak manfaat darinya.

Dan kegagalanku yang lain adalah aku masih belum terampil berbahasa Inggris. Kadang aku pesimis karena tidak mampu berbahasa Inggris. Lantas aku bakal bekerja dimana bila tak berkemampuan bahasa. Sekarang pekerjaan dimana-mana dibutuhkan yang bisa berbahasa. Melanjutkan ke jenjang berikutnya, kuliah di luar negeri modalnya adalah bahasa. Ya Allah, kenapa aku belum bisa bahsa Inggris. Mudahkan aku untuk belajar bahasa Inggris. Mungkin aku belum optimal belajarnya. Sudah ada panduannya tapi sarananya belum ada.

Kegagalanku juga adalah belum jadi pengusaha sukses. Meskipun sekarang aku sudah punya Ayasophia. Sudah dapat penghasilan sedikit-sedikit, tapi aku belum puas. Aku mendapatkan order mengetik banyak banget. Aku harus segera menyelesaikannya. Karena pekerjaan lain sudah menunggu. Aku ingin melegalkan ayasophia, biar nanti setelah lulus dapat dilanjutkan dan diteruskan sampai besar. Aku harus menjadikan Ayasophia sebagai toko buku, rental komputer dan konsultan seputar Mks. Nanti kalau aku lulus dan kuliah di Malaysia, ada yang meneruskannya menjadi korporasi besar.

*

Dan tahun baru ini setelah sekian lama, temanku, sahabatku, perempuanku bernama Ayu baru saja tiba hari ini di Bandung. Semenjak liburan Ramadhan aku tak pernah bertemu, karena dia masih di kampungnya di Padaherang. Begitu bertemu lagi senangnya tak terkirakan.

Tadi sore dia datang ke kosanku. Begitu aku berpakaian setelah mandi, pintu kamarku ada yang mengetuk. Dikira aku bermimpi bisa bertemu dia lagi. Aku pernah berpikir, kayaknya gak bakalan ketemu lagi. Karena sudah beberapa bulan tak kembali ke Bandung. Dan ternyata hari ini kami dipertemukan lagi. Begitulah kehidupan dunia, orang datang dan pergi silih berganti.

Tapi dia sebentar di kosanku, katanya masih mempunyai berbagai urusan. Diapun melangkah pulang kembeli ke kosannya. Dia tidak bercerita banyak kecuali mamanya yang sakit dan dioperasi. Ia bilang harus merawat mamanya yang sedang sakit. Bahkan katanya sudah dioperasi di Jakarta. Aku pun tidak bertanya sakit apa persisnya. Ingin kutanyakan bagaimana dengan kuliahnya, bagaimana hubungannya dengan kekasihnya itu.

Akh, dia sudah jadi milik orang lain. Dia hanya mampir sebentar pada kehidupanku. Dengan kisah yang sebentar itu semoga menjadi kenangan yang tak terlupakan. Dia hanya sebagian perempuan yang mampir sebentar, termasuk juga dia perempuan yang jadi istriku nanti.

Kusadari semuanya bahwa harta, tahta, wanita tak ada yang abadi melekat pada diriku. Ketika hadir maka syukurilah dan sadarilah suatu saat bakal pergi jauh meninggalkanku. Betapa pasti akan merasakan sedih dan sakit ketika ditinggalkan pergi. Meski tasa sakit itu sugesti, tak dapat dipungkiri sebagai manusia biasa aku pasti akan merasakan hal-hal seperti itu. Namun aku gak boleh sedih secara berlebihan.

*

Begitupun dengan perempuan satu lagi, dengan Sinta adik kelasku dapat bertemu lagi setelah beberapa minggu. Tadi di aula ketika kuhadiri sebuah seminar, dia ada disana. Sekarang dia makin cantik saja memakai kacamata. Sepertinya ia makin terlihat dewasa dengan berkacamata.

Aku ingin lebih dekat lagi dengannya. Hanya susah untuk bertemu dengannya. Sampai hari ini meskipun aku sering main ke kosannya, seperti aku punya beban moral.  Hatiku masih belum bisa berpaling dari perempuan yang selama ini kudambakan. Perempuan yang sekarang aku sedang marah padanya. Aku membencinya karena cintaku kandas di tengah jalan.

Susah aku melupakannya karena sering kali bertemu. Kenapa juga aku mesti marah pada orang yang tidak pernah dan ingin mencintaiku. Memang harus kusadari cinta tak bisa dipaksa. Cinta akan datang dengan sendirinya. Untuk mengobati kesedihan ini lebih baik aku sendiri saja. Aku harus segera mencari penggantinya. Baru kali ini aku benar-benar merasakan suka duka dan getir pahitnya cinta.

Lebih baik sekarang aku berpikir pada kuliahku. Aku harus kosentrasi belajar Matematika. Katakan Matematika Keuangan itu gampang. Dulu aku berpikir susah, maka menjadi susah. Waktu SMP aku mendapatkan nilai ujian terbaik se-SMP. Mengalahkan seluruh siswa dari kelas satu sampai kelas tiga. Berarti aku memiliki kapasitas otak di atas rata-rata. Waktu SMU, aku juga gak ketinggalan dari yang lain. Sadarlah aku mempunya potensi bahwa aku bisa Matematika Keuangan. Gak ada yang susah. Kita saja yang rewel dan gampang putus asa.

Karena buku Matematika dipinjam menjadi pusing sendiri. Kalau barang-barang sedang dipinjam, lalu tiba-tiba aku membutuhkan pusingnya tidak ketulungan. Bagaimana aku mengerjakan latihan soal matematika, sedangkan bukunya dipinjam. Sebelum masuk matakuliah Matematika, aku harus mengerjakan dulu.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori