Oleh: Kyan | 06/01/2006

Bersama Luka Cinta Kawanku

Sabtu, 06 Januari 2007

Bersama Luka Cinta Kawanku

**

Aku ingin berbeda dari hari kemarin. Aku ingin selalu berubah hari demi hari. Kulepas kacamataku. Aku pergi ke kampus tanpa kupakai kacamata, agar aku tak melirik siapapun. Aku ingin sendirian berjalan dalam sepi. Kuliah hari ini berjalan normal-normal saja dan aku masih bisa melihat meski tidak kupakai kacamata. Karena aku tak ingin berpadu yang memberi kesan dengannya. Kulihat orang-orang bercanda tawa ceria yang membuatku ikut seirama dengan mereka. Tapi tawa ceria itu tak bisa memberi rasa kebahagiaan padaku.

Aku tak ingin menikmati apapun. Aku hanya ingin aku bersamanya dalam sepi, dalam ketermanguan memandang perjalanan cerita hidup ini. Semakin jauh aku darinya semakin aku merindukannya. Rindu yang tak pernah padam, yang tak akan pernah pudar. Aku tak akan henti mencintainya selama hidupku. Meskipun sekarang ia telah menjadi milik orang lain aku akan mencoba tetap bertahan. Tapi akupun harus tahu diri bahwa aku sudah jadi pihak yang kalah dimata orang. Tapi sebenarnya akulah yang menang. Mengalah untuk menang.

Ternyata hari ini aku masih bisa menatap sekilas wajahnya. Tak tahan aku ingin segera pergi jauh darinya. Tak lagi memandang sosok yang memberi racun pada hidupku. Maka seusai kuliah aku segera pergi dan lari untuk menghindar dari sakitku. Rasa sakitku yang tak ingin kutambah lagi. Namun aku masih saja sempat menatapnya. Apakah akan berakhir segalanya. Tidak akankah ada matahari yang lebih terang sinarnya. Matahari yang menyinari bumi cuma satu, tapi hari selalu berganti. Entah hari kapan aku bisa memandang matahari yang lebih terang sinarnya. Matahari yang menyinari bumi cuma satu, tapi hari selalu berganti.

Hari itu akan kujelang suatu ketika. Hari itu akan datang dalam satu dunia. Ia akan menyatu tanpa ada kata perpisahan dan penyesalan. Hari ini aku tak menyesal atau meratapi keadaan. Tapi biarlah aku yang menjadi korban keganasan cinta. Tapi sahabat-sahabatku jangan sampai menimpa hal yang sama. Namun, semua sahabatku mengalami hal serupa. Yedi dan Reza, esok hari akan mencakar-cakar hatinya dan meremuk-remukkan badan, karena orang yang amat dicintainya akan menikah. Besok salah satu temanku akan melangsungkan pernikahan.

Satu lagi kawanku, Ariel. Soekarno kecil ini pun mengalami hal serupa. Saat malam-malam remang aku, Reza dan Yedi mengantar dia menemui seseorang untuk mengungkapkan cintanya. Ternyata cintanya pun ditolak oleh perempuan yang dinantinya selama ini. Bahkan lebih sakit mungkin, karena Siti Nuraeni tak pernah punya perasaan sedikitpun padanya. Sedangan diriku pernah diberikan kesempatan untuk mengisi ruang hatinya, mengisi ruang rindu di hati perempuan yang teramat sangat aku cintai itu. Tapi semua ternyata hanya bulshit.

Malam remang dan temaram kami jalani bersama kesedihan. Malam Jum’at secara resmi cintaku ditolak. Malam Sabtu Sani Ahmad menginginkan seorang adik kelasku, Sinta Fujianti. Ternyata Sinta sudah punya cowok pilihannya. Dan Malam Minggu Ariel ditolak cinta oleh Aeni. Sedangkan Reza sudah berbulan-bulan mengendap kecewa karena Uni mau segera menikah dengan pria pilihannya. Sungguh kekecewaan semua menimpa kami. Kesedihan menimpa semuanya yang sungguh menyayat hati. Tapi bagiku sudah biasa diperlakukan seperti ini. Aku sudah biasa mengalami kekecewaan dan kesedihan cinta sejak kala SMA.

Bahkan sejak kecil keluargaku sudah berantakan. Sekarang ketika aku jatuh cinta, cintaku tertolak. Perempuan yang kucintai sudah mempunyai lelaki pilihan atau mungkin sebenarnya dia tak menginginkan aku. Hal yang paling menyakitkan dari semua menyakitkan. Tapi aku yakin suatu saat aku akan mendapat kebahagiaan yang tak terkirakan. Karena aku harus percaya bahwa hidup itu adil. Jikapun di bumi tidak ada keadilan, tapi Tuhan Maha Adil. Teruslah aku menabur kebaikan pada segenap ufuk.

Pulang hanya membawa kesedihan. Kesedihanku bertambah karena semua sahabatku mengalami kesedihan. Kenapa harus menimpa semua sahabatku. Dalam minggu dan bulan yang sama pula kejadiannya. Puncaknya adalah minggu-minggu ini. Mungkin dari semua kawanku, hanya dua orang yang dianggap sukses cintanya. Tapi itu kuanggap cinta seonggok daging. Cinta yang hanya untuk kepuasan fisik belaka. Bukan cinta yang sejati. Sebab cinta yang sejati tidak akan menjerumuskan atau menodai kehormatan jiwa perempuan. Tak akan menyentuh atau membiarkan dirinya tersentuh oleh tangan-tangan jahil.

Akan kulawan lelaki yang telah berani menodai kehormatan perempuan. Kecuali maunya perempuan primitif. Dari sosok perempuan, lelaki mendapatkan kepuasan intelektual. Dan dari lelaki, perempuan harus mendapatkan perlindungan dan kehormatan. Lelaki dan perempuan adalah saling melengkapi. Duduk mesra dalam singgasana cinta dalam ridha-Nya. Dalam naungan cahaya-Nya.

Ketika aku tetap menginginkan dan mendapatkan seseorang yang aku cintai, apakah dapat disebut tidak bisa menerima takdir? Aku hanya bertanya pada usaha manusia yang sampai sejauh mana dalam menggapai semua mimpi-mimpinya. Aku tak ingin dikatakan tidak sungguh-sungguh dalam memperjuangkan semua mimpi-mimpiku, termasuk cintaku. Jangan sampai ada dalam diriku bukti ketidaksungguhan. Ada perasaan tidak sungguh-sungguh. Sebab sungguh aku ingin menikahi orang yang aku cintai.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori