Oleh: Kyan | 06/01/2006

Kemarahan Dalam Gerimis

Jum’at, 06 Januari 2006

Kemarahan Dalam Gerimis

**

Kuliah PAI masih mengadakan diskusi. Tadinya aku mau bertanya, tapi oleh moderator pertanyaan dibatasi. Aril yang jadi moderator, menegaskan pertanyaan dibatasi sampai empat orang. Memang sebagai moderator harus bisa bersikap tegas. Aku bisa belajar padanya tentang bagaimana menjadi moderator yang baik.

Moderator harus jadi penengah dan penenang situasi forum dan harus menjelaskan segalanya. Modal jadi moderator selain menuntut wawasan luas terkait isi materi, sebanding dengan pemateri, juga meski cakap berkomunikasi. Menjadi moderator, aku masih belepotan.

Kuliah Zakat untuk pertemuan terakhir. Kami disuruh menulis pesan dan kesan buat sang dosen. Lalu aku menulis curhatan pada bapak Dosen dengan seni kritik ala Aa Gym, yaitu mengungkapkan kelebihannya dulu, lalu mengkritik pada hal tertentu dan terakhir menguatkan atau meyakinkan bahwa dia bisa melakukannya.

Pulang kuliah, mampir ke tukang fotokopi mau membundel majalah Hidayah biar rapi dan membeli sampul untuk majalah Islamia. Kebetulan lagi malah bertemu Sinta, adikku yang manis itu. Tak lama berbincang karena dia terburu-buru masuk kuliah.

Setelah Duhur aku ke kampus lagi. Aku dipanggil Hana katanya nanti bersama teman-temannya pada mau main ke kosanku mau pinjam buku. Benarlah kalau pemasaran MLM—mulut lewat mulut—memang mujarab. Kalau begitu Aya-Sophia bakal lebih dikenal dan menjadi besar. Pokoknya Aya-Sophia mesti jadi nama besar di tingkat nasional dan internasional. Aku harus membangun jaringan yang kuat.

Dengan Angel Wings, aku bertemu lagi. Begitu kulihat dia aku cuekin saja. Dia menghampiriku seperti ngomong sesuatu padaku. Tapi begitu dia di hadapanku, malah aku melengos pergi. Aku pergi saja ketika dia bercuap-cuap yang entah apa tak jelas kudengarkan.

Begitu Veri dan Yedi mampir ke kosanku, bercerita Angel Wings marah-marah pada mereka. Akhirya kawanku sendiri yang kena getahnya. Marahnya dia begitu membabi-buta. Katanya aku dibilangin sudah membaca buku segudang, implementasinya gak ada. “Biar seribu Vyan datang ke kosan, aku gak takut,” katanya. Sebenarnya dia hanya mau pinjam buku segera. Soalnya dia mau pulang dulu ke Jawa.

Memang kalau aku tak memberikannya, aku sudah keterlaluan. Akhirnya meskipun hujan-hujanan aku terpaksa pergi ke kosannya dengan Dudi. Setelah kuberikan buku padanya, di sempat ngomong, “Katanya gak bakalan ke sini lagi, mau dibawa semuanya?” Aku diam saja. Dia mengajak aku ngomong sebentar. Kujawab, “Gak ada waktu”. Aku langsung pergi saja tanpa kuhiraukan dia.

Akhirnya lagi-lagi kawanku sendiri yang terkena amuknya. Dudi yang masih di kosannya menjadi pelampiasan marah-marahnya. Dia bilang ke Dudi, “Apa sih kemauan dia, salah apa sih aku?” Omongan dia terus-menrus gak henti-hentinya. Sampai-sampai Dudi mau ngomong gak sempat. Dudi bilang padaku bahwa aku harus kesana lagi. Ngapain, lagian hujan.

Akhirnya aku sms ke dia untuk menjelaskan semuanya. Aku gak tega meneruskan skenarioku untuk tak peduli padanya. Rupanya dia gak mau dicuekin. Aku mesti merubah sikap lagi padanya. Akhirnya aku harus baikan lagi, padahal ceritaya bakal seru kalau skenarioku tetap dilanjutkan.

*

Seharian mengurusi proposal dan surat-menyurat persiapan seminar MKS. Seharian pula ditemani Sinta. Sungguh mengasyikan ada perempuan cantik disampingku dikala aku dalam kesibukan. Dan aku bisa menumpahkan segala perasaan dan kekalutan. Ternyata akupun butuh tempat curhatan.

Kedatangan tamu perempuan cantik, tak dijamu apa-apa kecuali air doank. Masalahnya pengerjaan proposal tak dikasih konsumsi sama panitia. Akupun sedang tidak punya uang. Sambil mengutak-atik komputer, aku hanya menyuguhkan cerita padanya tentang kejadian kemarin antara aku dan Angel Wings.

Dia sempat membaca juga surat dari Angel Wings. Lalu Sinta bertanya memang hubunganku dengannya sudah sejauh mana. Dia mengulang pertanyaannya yang kemarin. Kujawab lagi, “Hanya sekedar persahabatan, gak lebih dari itu. Dan sekarang, aku lagi marahan ma dia karena dia gak mau mengerti”.

Sudahlah mungkin ini urusan cinta. Bila ini cinta wajarlah sakitnya tiada terperi. Bila cinta hadir tapi kenapa begitu menyayat hati. Kenapa mesti ada cinta dalam persahabatan. Katanya agar menjadi pribadi yang utuh. Nanti ketika menghadap-Nya, keutuhan itu terjaga untuk selamanya.

Ah, perjalanan hidupku selalu penuh lika-liku. Tak pernah ada yang mau mencintaiku. Jikapun aku selalu berusaha untuk mencintai, tapi dia begitu susah dan berat untuk mengatakan hal sebenarnya. Karena egonya begitu besar dan lebih baik memendam perasaan. Katanya kalau perempuan begitu gampang mengungkapkan cinta, malah menjadi tanda tanya. Jangan-jangan perempuan murahan yang menggila harta dan keududukan.

Aku tahu kenapa aku tidak sabar menanti dalam waktu yang terbatas itu. Aku harus menikmatinya sampai batas penantian yang terasa begitu jauh dan lama. Selalu muncul ketakutan ketika perempuan yang selalu dekat itu bukan belahan jiwaku. Tapi bilapun ada pengorbanan selama ini, tidaklah sia-sia dan anggap sebagai jalan kebaikan.

Tapi akan sangat menyakitkan nantinya ketika telah dekat dengan perempuan lain, bila aku sudah tak berhasrat lagi karena hati belum bisa berpaling darinya. Aku tak ingin berpaling dari siapapun kalau sudah mencintai seseorang. Meskipun aku ingin menjadi yang terbaik, namun segala kelelahan dan kekalutan selalu menghambat dalam setiap langkahku. Aku selalu takut dan ketakutan untuk mencintai seseorang yang pernah muncul di jendela hatiku.

Kufokuskan lagi pada pengerjaan proposal. Setelah Jumatan proposal dan surat keluar harus sudah dibubuhi tanda tangan ketua jurusan. Pak Anton sudah dijanjikan sama Veri buat tanda tangan proposal. Lalu membuat surat undangan untuk Sekda Jabar. Kata Sekjur harus ekskluif dengan kertas udangan pernikahan begitu. Mengaturnya susah minta ampun, karena dikerjakan manual di Microsoft Word. Komputerku tak kuat kapasitas kalau diinstall Corel Draw.

Kertasnya eksklusif cuma tersedia lima lembar dan dua sudah gagal. Eh sama Veri disuruh mengeprint lagi, memangnya gampang mengutak-atiknya. Kalau aku sedang lapar, inginnya marah-marah. Sudah pusing dengan urusan rasa ditambah perutku lapar. Begitu juga kalau gak punya uang, perasaanku suka sensitif lekas tersinggung. Kalau ada hal yang tidak disetujui, langsung emosiku melunjak.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori