Oleh: Kyan | 08/01/2006

Terpujilah Kebersamaan Dengannya

Ahad, 08 Januari 2006

Terpujilah Kebersamaan Dengannya

**

Hari Sabtu adalah perkuliahan terakhir semester tiga. Tak terasa waktu terus berjalan selama enam bulan pada semester ini. Lantas apa yang sudah kudapatkan dari semester ini. Mungkin banyak, meskipun susah untuk diungkapkan. Semester kemarin mungkin aku mendapat IP 3,8 atau 3,9. Karena masih ada satu mata kuliah lagi yang belum keluar nilainya, yaitu Manajemen Pemasaran.

Semester satu aku meraih IP 3,7 dan Semester sekarang aku harusmeraih IP 3,9 atau bahkan 4. Aku harus serius belajar untuk menghadapi UAS. Nilaiku tak boleh jeblog, harus lebih baik dari nilai UTS. Kalau kemarin aku bisa, kenapa sekarang tidak bisa. Aku pasti bisa.

Di semester ini mungkin aku semakin dekat Angel Wings. Semenjak aku meungkapkan segalanya, sebenarnya dia semakin dekat padaku. Dia ingin terbuka segalanya padaku. Dia mau jalan denganku. Mungkin karena sering dipupuk, akhirnya tumbuh suburlah keterpautan hati.

Namun itu terjadi di masa awal-awal semester ini. Sedang di penghujung akhirnya, mungkin karena sengaja kubuat konflik. Karena aku tak merasa dia tidak suka padaku, ingin kuperjelas apakah dia benar suka atau tidak suka padaku. Karena setiap kutanyakan atau kubincangkan soal cinta, jawabannya itu-itu saja.

Darinya aku ingin jawaban verbalistis. Salahkah aku dimana dulu tak kuminta jawaban, karena cuma sekedar merefleksikan cinta teragung, tapi sekarang menginginkan penjelasan. Masih belum yakin aku menyimpulkan bahwa jawaban dia, pasti jawabannya “tidak” untukku. Karena harapan dia begitu tinggi. Dia ingin teguh pada prinsip hidupnya sementara aku terus menggoyang-goyangnya.

Dan ketika sekarang ingin kubangun kedekatan pada perempuan lain, aku masih belum bisa melepas jejak kisah itu. Karena aku ingin dekat dengannya, kuminta pada panitia seminar menjadikan Sinta sebagai sekretaris II untuk mendampingiku. Ya, memang ada batu dibalik maksud.

Proposal sudah digandakan ke tukang fotokopi oleh Sinta. Kemarin dia di kosanku sampai jam tujuh malam menemaniku mengerjakan proposal. Kemarin baru percobaan cuma satu menggandakannya. Karena takut masih kesalahan dan kemahalan.

Sore hari aku berjalan ke depan dengan Sinta dan Yedi untuk mengambil penggandaan proposal. Fotokopi tempat menggandakan proposal tempatnya depan masjid Kifayatul Akhyar. Lalu Sinta membeli ikat rambut dan kuminta satu buat kenang-kenangan. Kusimpan di dompet.

Di jalan ketemu Dewi MKS-A, yang kosnya di seberang kosanku. Dia memintaku dibantu menyelesaikan tugas kewarganegaraan. Sembari pulang bareng kami berbincang dan kubilang datang saja ke kosan.  Begitu sampai persimpangan gang, kami berpisah jalan menuju tempat kostnya masing-masing.

Kuperhatikan sebenar di menjauh dariku. Kupikir-pikir aku ingin dekat dengannya karena apa, akupun susah untuk menjawabnya. Mungkin aku malu saja untuk mengakuinya. Karena sudah mengatakan aku tidak akan mencintai lagi kepada selain dia yang sudah ada lebih dulu. Dia yang sudah membuatku kesakitan dan sangat bodoh bila aku masih peduli. Tapi bila aku memulai mencintai, takut pula mengulangi kejadiannya.

 

Tapi orang bilang mengatakan bahwa aku harus percaya. Cinta adalah kata kerja. Kalau kita berpikir mencintai, maka timbullah cinta. Karena cinta adalah perbuatan, bukan sekedar perkataan di mulut saja. Memang semua harus direalisasikan. Maka aku akan menjaga hubungan dengan setiap perempuan, cuma sekedar teman saja.

Aku masih takut memasuki lagi ke dalam permainan cinta yang deritanya tiada akhir. Kenapa sih aku selalu ketakutan jika orang yang kucintai itu menjadi milik orang lain. Buat apa dicintai namun toh akhirnya lepas dari pengakuan. Haruskah selalu kupeluk, sementara dasar setiap manusia ingin bebas. Aku tak akan lagi menanam benih di taman siapapun. Tapi akan kutanam benih cinta di taman rumah impian nanti.

Dan sekarang malam minggu yang menginap di kosanku: Sani, Very dan Aceng. Jam tujuh ada yang datang, Ida teman sekelas mau mau meminta jawaban tugas BKS. Malam minggu cuma mengutak-atik membuat brosur seminar.

Mencari kata-kata bagus dirasa susah banget. Belum lagi membuat tiket masuknya. Veri mengharuskan selesai semuanya sebelum Dudi datang. Dudi belum datang, tapi pagi jam  tujuh aku sudah janji dengan Sinta mau lari pagi. Maka aku cepat-cepat mandi ketika sudah menunjukkan setengah tujuh. Aku harus segera menemui Sinta.

Menjalani minggu tenang, Veri dan Sani pulang dari kosanku. Mereka hendak pulang kampung, sementara aku disini saja. Karena aku tak punya rumah kebanggaan keluarga. Mungkin aku ini “broken home” istilahnya. Makanya ingin sekali ada yang memperhatikanku. Ingin ada yang perhatian padaku.

Adakah seseorang yang mau menumpahkan cintanya untukku, yang mau mencintaiku. Namun aku sadar cinta mungkin saat ini tidak akan datang. Karena pada dasarnya seseorang mencintai biasanya beralasan karena mengharapkan sesuatu dari yang dicintainya. Baik itu pengakuan, harta atau kedudukan atau apapun saja.

Untuk memberikan perhatian itu butuh modal. Di zaman ini tak ada yang gratis. Sementara dalam diriku belum kutemukan ada sesuatu yang bisa dibanggakan. Tapi aku tidak berhnti untuk melangkah. Aku ingat sebuah ungkapan kalau ingin mendapatkan sahabat sejati, menjadilah kau seorang sahabat sejati. Namun akhirnya setelah aku melakukan semuanya, tidak pernah datang dan mau seseorang mencintaiku apa-adanya. Tapi mungkin belum saatnya saja.

Memang aku tidak sabar. Padahal mungkin tinggal selangkah lagi untuk menjangkaunya. Memang aku rapuh dan cengeng. Tak pernah menjadi dewasa meski usia sudah tak remaja. Meskipun kata oang aku mandiri, tetap saja cengeng. Meski aku sering membaca buku agar aku mengerti arti kehidupan.

Malah aku dibilang, sudah membaca buku segudang namun implementasinya gak ada alias nol besar. Kuakui mungkin aku begitu menurut pandangan orang. Tak apa dibilang begitu, malah aku ingin ketawa saja. Dulu dan sekarang dan mungkin masa depan aku selalu merasa kesendirian. Selamanya akan tetap rapuh sampai menemukan tempat pijakan menjemputku. Entah kapan datangnya seseorang itu. Hanya menunggu waktu.

Memang seseorang itu begitu berarti ketika ia tidak disampingku. Rasa rindu yang menggebu biarlah terasa terus merasuk ke dalam jiwaku. Sampai akhirnya aku berdiri kokoh dengan ketakhadirannya. Mungkin untuk saat ini aku tidak boleh jatuh hati dulu, hingga saatnya nanti ketika bukan aku lebih dulu yang mencintai. Tapi harus ada lebih dulu seseorang datang padaku bersama kafilahnya untuk menjemputku. Untuk memintaku menemaninya sampai batas waktu. Semoga secepatnya datang untuk menjemputku. Semoga.

Kesendirian selalu kesendirian. Menjadi ingatan puisi Okke, teman SMU-ku dulu. Ia memberiku sebait puisi, puisi tentang kesendiriannya. Dan semakin merasalah aku sekarang dengan apa yang dikatakan.

Hari ini dari pagi sampai menjelang Ashar ditemani Sinta mengerjakan tetek bengek persiapan seminar. Aku denganya saling bertukar cerita. Kuhindarkan cerita tentang Angel Wings. Kuingin kisah antara aku dengannya. Ingin membina kisah baru untuk dapat terlepas dari masa lalu. Tapi apakah dia suka padaku, belum saatnya menemukan jawaban itu.

Selepas Ashar ia pulang ke Cililin. Dia terlihat sangat cantik begitu ia kembali ke kosanku selepas pulang dulu ke kosannya. Dalam pandanganku dia seperti belum dewasa. Maklum kelahiran ’87 sekarang baru berusia delapanbelas tahun. Suatu saat dia bakal semakin dewasa seiring bertambah usianya.

Hanya waktu yang bisa memberikan segalanya. Temanku bilang bahwa pasangan yang cocok itu mesti berbeda lima tahun. Kalau aku kelahiran ’83 berarti pasangan yang mesti kucari adalah kelahiran ’88. Sinta juga kelahiran akhir ’87 mendekati perbedaan lima tahun.

Aku ingin mendapatkan seorang yang punya semangat seperti dia, seperti Angel Wings misalnya. Dia yang bisa memberiku motivasi dan inspirasi agar aku selalu bergerak bukan malah membuatku diam dan bingung. Dia yang memberi kekuatan, bukan melemahkan. Aku mesti mencari pasangan yang bisa saling melengkapi. Tidak mesti minatnya sama, asalkan saling menghargai dan saling percaya. Saling mencintai sepenuh hati.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori