Oleh: Kyan | 10/01/2006

Berpikir Masa Depan, Teruslah Bermimpi

Selasa, 10 Januari 2006

Berpikir Masa Depan, Teruslah Bermimpi

**

Hari ini Hari Raya Idul Adha yang kedua kalinya di kosan Kurnia di Cibiru. Tidak seperti teman-temanku ketika Idul Adha pada pulang ke kampungnya. Aku tidak punya rumah tempat semua keluargaku berkumpul. Sejak aku memiliki kesadaran saat kecil, aku sudah tinggal di rumah nenekku.

Setelah bercerai ibu dengan ayahku, ibu meninggalkan rumah tempat aku dan dua kakakku lahir. Karena kakaku yang ketiga, kakak perempuan dikatakan lahir ketika di Karawang. Bagaimana dunia itu terjadi sebelum aku lahir. Bagaimana ketika ibu dan ayahku tinggal di Karawang melakoni usaha kreditan yang dikatakan berhasil sampai memiliki beberapa anak buah.

Masih terlintas di benakku, sudah muncul ingatan ketika dulu aku diajak pergi ke rumah yang ditinggalkanya itu yang sudah menjadi puing. Dalam penglihatanku dulu rumahku berwarna hijau muda, rumah panggung denga halaman agak luas, yang dalam kunjungan terakhir kini berubah menjadi lapangan bolla volley.

Itulah rumah dan kampungku yang terletak di bagian selatan Tasikmalaya. Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat adalah wilayah administratif kampung kelahiranku. Dari kota Tasik bisa ditempuh dengan bus selama tiga jam menaiki dan menuruni pegunungan dan lembah landai. Begitulah daerah kelahiranku yang sesekali kurindukan.

Tapi sejak SMU aku berkelana di Bandung, dari SMU sampai kuliah sekarang. Akhir-akhir ini selalu muncul di pikiranku, setelah lulus kuliah aku mesti mengerjakan apa. Mencari kerja katanya susah. Pengalamanku dirasakan selalu diberi kemudahan oleh Allah untuk mendapatkan kerja. Sewaktu di Batam aku menganggur cuma satu minggu. Setelah itu diterima kerja di Gramedia. Aku dikatakan termasuk orang beruntung, karena ada orang yang berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun susah mendapatkan kerja di Batam. Memang aku patut bersyukur.

Mungkin setelah lulus kuliah, aku bakal kerja sambil meneruskan usaha Aya-Sophia. Aku ingin menjalani usaha toko buku dan taman bacaan. Memang dari segi profit kurang menguntungkan. Tapi ini adalah perjuanganku dalam mendidik bangsa. Meskipun aku pun bingung, ketika menjalankan usaha itu untuk biaya tempat dari mana dan aku tinggal dimana sebelum aku mendapat pekerjaan.

Masa selamanya minta pada ibuku. Selama sebelum dapat pekerjaan mungkin aku masih meminta. Lantas kapan aku mandiri dengan jerih payah sendiri. Ya Allah berilah jalan yang terang dalam menghadapi semuanya. Kalau berpikir ingin menikah, masa sebelum mendapatkan kerja aku menikah. Makanya aku pesimis ketika ingin meniti kasih atau menabur kasih, bila belum hidup mandiri.

Tapi ingin pula aku menjalin kasih. Nanti ketika aku menuainya aku harus siap segalanya. Belum lagi aku harus terus melanjutkan kuliah. Bahkan sampai doktor di Malaysia atau Amerika. Pak Iwan, dosen PAI sudah Master masih belum menikah. Kan gak boleh menunda-nunda nikah.

Lebih baik aku sekarang tidak mengumbar cinta. Tiba saatnya saja mendeklarasikan cinta hanya suatu ketika. Tahun ini aku ingin menjadi penyair, sastrawan. Aku harus bisa menulis artikel di media. Masa aku belum mampu dengan semua buku yang kubaca. Aku terlalu disibukkan dengan urusan KBMP dan kuliah. Memikirkan masa depan begitu rumit. Lebih baik aku sekarang sungguh-sungguh kuliah dan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya.

Kau harus dapat IP tertinggi lagi. Apa aku harus terus memikirkan masa depan yang tidak pasti. Tapi mimpi itu perlu. Dulu aku berpikir kuliah di  IAIN gak mungkin, sekarang sudah kenyataan. Alhamdulillah semuanya menjadi kenyataan. Maka aku harus terus bermimpi. Maka teruslah bermimpi!

Berhentilah mengatakan cinta. Bahkan sekarang aku begitu muak dengan urusan cinta. Hari-hariku dan catatanku selalu saja mengukir namanya. Apa tidak ada hal lain yang lebih penting untuk dituliskan. Kenapa semua waktuku hanya dipenuhi dengan soal itu.

Harapan yang masih panjang harus kutempuhi. Aku harus mempersiapkan segalanya dan hati-hati dalam langkahku. Apakah dia yang selalu kusebut namanya bisa mengantarkanku menuju harapanku. Kalau dia begitu penting bagi keluarganya, begitupun aku yang jauh lebih penting bagi keluargaku. Akulah satu-satunya harapan keluargaku.

Aku harus memulihkan martabat keluargaku. Aku ingin membahagiakan ibuku dan saudara-saudaraku. Keluarga dia masih utuh sedangkan aku broken home. Tentunya aku yang harus lebih mementingkan diriku sendiri. Namun aku tidak ingin egois. Aku juga mesti bisa mengantarkan seseorang untuk menuju impian dan harapannya. Begitupun aku ingin diantarkan. Biarkan semuanya menjadi sebuah kesatuan yang utuh.

Aku lebih baik diam saja. Tapi tidak berhenti. Karena menanti akan tergilas oleh waktu yang terus berjalan. Terlepas apakah aku diam ataupun bergerak. Pergerakan gelombang yang membawa arus kehidupan tidak selamanya tidak berarti. Namun dengan selalu mendengar akal insani, aku tidak akan terjerat arus yang membelenggu. Aku akan terbebas dari dunia yang mencekam.

Maka kunikmati saja semuanya.[]

* *


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori