Oleh: Kyan | 18/01/2006

Miskin Tidak Minder, Kaya Tidak Sombong

Rabu, 18 Januari 2006

Miskin Tidak Minder, Kaya Tidak Sombong

**

Sering aku belajar hanya karena mau menghadapi ujian saja.  Mau ada UAS yang sebentar lagi, baru belajar habis-habisan. Kita belajar bukan karena memang kita harus belajar terus-menerus. Belajar bukan karena belajar adalah tugas kehidupan.

Maka ketika belajar diporsir berlebihan, akan sangat memberatkan. Rasa kantuk dan bosan sering menyerang tak karuan. Belajar semalaman seharian mau menghadapi UAS, meski terasa kantuk pun dipaksakan. Sudah gampang lupa atas semua yang dipelajari, sudah tak memberi kesenangan, akan dirasakan sia-sia bila hasilnya tak memuaskan.

Tapi mungkin kita tidak sia-sia kalau sudah belajar dengan sesungguhnya. Karena itu memang tugas kita sebagai seorang cendekia. Justru aku merasa rugi kalau hari-hariku diisi dengan kesia-siaan tanpa belajar. Setiap desahan nafas harus selalu menyebut nama-Nya yang terindah. Aku harus terus belajar, karena aku merasa bodoh dan tak bisa apa-apa kalau waktu belajar dilewatkan.

Kadang aku minder melihat teman atau orang yang aku kenal mempunyai kelebihan. Lantas aku punya kelebihan apa. Benar kata ibuku waktu Sinta bilang “Ini calon menantu ibu”.  Ibuku menjawab, “Kami orang tak berpunya”. Dijawabnya lagi, “Sama Bu kami juga orang biasa-biasa”, begitu jawab Sinta pada ibuku.

Memang aku miskin, memang manusia itu miskin, yang kaya hanyalah Allah. Dia Maha Kaya. Diberi kekayaan sebagai amanah tidak menjadikannya sombong dan diberi kemiskinan tidak harus menjadikannya minder  di mata orang lain. Manusia cuma bisa berusaha dengan menggunakan akal batin untuk memanfaatkan segala potensi yang dimiliki.

Jika benar Einstein saja yang jenius bisa menciptakan mahakarya teori relativitas, otaknya baru dipakai nol koma persen, berarti manusia sangat tinggi memiliki segala potensinya. Setiap orang dilahirkan dengan banyak potensi. Tapi kenapa aku iri dengan kelebihan orang lain yang memiliki karya gemilang.

Lantas karyaku apa? Dan kembalinya aku selalu menyalahkan latar belakangku. Memang wajar itu sebagai alibi. Jangan sampai tahu hal itu sebagai faktor penyebab, lalu kita diam saja. Bergeraklah dan berubahlah dan berjalanlah dengan tenang dan penuh kepastian.

Meskipun ujian tidak sempat belajar, tapi yakinlah Allah melihat proses kita dan maha tahu segala pekerjaan kita. Ujian Hukum Bisnis, semua ada di fotokopi. Tapi aku tidak sempat baca semuanya. Ujian Manajemen Zakat secara lisan. Ditanyanya cuma begitu yang anak SD saja bisa.

Malam hari aku membantu mengedit tugas Tatang, adik kelas MKS sampai jam sembilan lebih. Lalu aku mengerjakan surat seminar sampai jam duabelas. Aku selalu tidur larut dan bangunnya jam setengah. Sering begitu setiap hari dalam masa-masa persiapan seminar. Aku selalu rindu salat Nawafil di tengah keheningan gelapnya malam.

Aku termenung dalam menatap hari esok. Apakah seceria kini atau pupus akan harapan. Menjadi pesimis dan optimiskah dalam menutup sisa kehidupan yang berjalin kelindan mewujud takdir kita?

Benar kata Angel Wings, kok diakui sebagai aktivitas pokok tapi gak sempat dilakukan. Aku menulis catatan sudah jadi aktivitas pribadiku. Aku sih berpikir tidak bakalan sempat karena belajar pun tidak sempat. Inginku meskipun ada UAS, tapi aktivitas menulis harus tetap dijalani.

Apa salahnya menyediakan setengah jam, aku rasa cukup waktunya. Aku menulisnya jangan pikir-pikir dulu. Tulis saja secara spontanitas hal yang ingin kutulis sebagai refleksi diri untuk menggali kekayaan batin kita. Dalam hal apapun harus tetap dijalani karena bakal menyesal kalau pengalaman yang unik dan menarik terlewatkan begitu saja.

Kalau ditulis setelah beberapa hari sudah pada lupa selentingan ide-idenya. Ide itu mahal dan datangnya secara spontanitas yang merupakan ilham sebagai god spot, suara kebenaran. Aku harus selalu mendengarkan suara itu ketika datang. Makanya banyak pakar pengembangan diri menyarankan agar setiap kemana saja selalu membawa alat tulis post-it kecil. Aku  pernah melakukannya  tapi sekarang gak dilakukan lagi. Suara itu datang biasanya ketika merenung, sambil berjalan kaki, saat di mobil, di toilet, atau saat keheningan malam.

Coba bayangkan kalau dilihat dari segi materi, seorang penulis bakal dapat penghasilan lebih dari gaji presiden, bila dalam sebulan mampu memuat tulisan di media yang banyak. Dalam buku “Mengarang itu Gampang”-nya karya Arswendo Atmowiloto dikatakan begitu. Kalau jadi penulis handal bakal lebih kaya dari pejabat.

Contohnya JK Rowling pengarang novel Harry Potter lebih kaya dibanding kekayaan Ratu Elizabeth, katanya. Kalau jadi penulis bakal ada yang bisa diwasiatkan kepada keturunan kita. Kalau tulisan-tulisan kita dibaca dan bisa menjadi inspirasi bagi setiap orang, maka pahalanya akan terus mengalir. Karena termasuk salah satu kriteria yang disebutkan dalam hadits tiga hal yang tidak akan terputus amalannya, yaitu ilmu yang diamalkan.

Menyampaikan kebenaran dan pengalaman hidup seorang generasi tua kepada generasi muda hanya dengan tulisan. Generasi tua terkadang susah dibawa ke dalam sebuah perubahan, karena mereka berpikir kalau melakukan ini, pasti bakal begitu. Artinya takut mengambil resiko dan sudah lebih dulu menyimpulkan sesuatu. Sedangkan generasi muda memiliki nilai idealisme yang merupakan kemewahan terakhir para generasi muda. Karena tidak tahu, maka kaum muda melakukan saja sekehendaknya.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori