Oleh: Kyan | 19/01/2006

Hanya Ada di Benak Kita, Seksual dan Intelektual

Kamis,19 Januari 2006

Hanya Ada di Benak Kita, Seksual dan Intelektual

**

Ingin sekali aku mengembangkan Ayasophia. Saat ini yang paling laku adalah komputer. Sewa buku kebanyaan buku-buku kuliah, masa harus diperbanyak buku-buku teks book. Aku ingin menambah pustakaku dengan buku-buku sastra. Aku ingin lebih banyak membaca buku-buku cerpen, puisi, dan novel. Karya orang besar yang bisa menjadi inspirasi setiap orang. Aku ingin menjadi penulis sekaliber dunia.

Dulu waktu di Batam terlintas di pikiranku 8-10 tahun kemudian aku ingin jadi sastrawan besar dan mendapatkan nobel sastra. Tapi bukan berarti aku berkarya hanya karena ingin penghargaan. Tapi aku berkarya sebagai aktualisasi diriku sebagaimana emanasi kebutuhan Maslow atau jenjang kebahagiaan spiritual Ibn Miskawaih. Agar kuperoleh bahagia.

Pulang ujian, salat di masjid Iqomah dan ke al-Jamiah mem-follow up masalah tempat seminar. Kami datang bergerombol. Disangkanya kami ini mau berdemo. Ternyata penyelesaian tempat sudah selesai. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Jadi tidak perlu cemas berlebihan di minggu-minggu ujian Aula akan dipakai dan tidak boleh menyelenggarakan seminar.

Menghadapi ujian aku tidak optimal. Ujian Manajemen Keuangan susah banget. Aku rasa soalnya rasional karena sesuai dengan realita keseharian. Tapi aku gak bisa mengisinya. Masa nilaiku MKS jelek karena tidak mampu mengisi jawaban. Aku harus bagaimana untuk mendapatkan yang terbaik. Aku ingin nilaiku bagus meskipun sekarang disibukkan dengan persiapan seminar.

Kadang aku berpikir aku ini bodoh. Memang bodoh. Kadang aku minder. Tapi aku punya harapan bahwa aku bisa menjadi yang terbaik, minimal bagi diriku sendiri. Sering aku bertanya-tanya orang lain cerdas kenapa aku gak bisa. Memang jadi orang harus tawadhu. Aku harus benar-benar bisa memanaj waktu. Dalam duapuluh empat jam orang bisa mampu mengurus negara, aku mengurus kuliah dan seminar saja kedodoran.

Sungguh merugilah aku. Aku gak boleh menyia-nyiakan waktu. Selesai pekerjaan satu sudah menunggu pekerjaan lainnya. Memang manusia selalu disibukkan dengan aktivitas kesehariannya. Karena itulah fitrahnya manusia selalu bergerak. Berarti diam adalah melanggar fitrah. Segala apapun pasti bergerak. Dalam diamnya ia bergerak.

Bagian sel yang terkecil yaitu proton, neutron dari inti atom adalah bergerak. Ternyata inti atom setelah dikuak lebih dekat dengan mikroskop multiganda ruang inti itu hanyalah ruang kosong. Hanya berupa quark, ruang kosong dan vibrasi.

Dengan demikian faham materialisme bisa dibantah bahwa pada dasarnya benda itu berkasat mata, tidak ada. Karena filsafat materialisme dilandasi oleh epistimologi indrawi dan akal saja, sedangkan intuisi diabaikan.

Bahwa alam semesta ini sebenarnya tida ada. Yang ada hanyalah dalam benak manusia yang merupakan emanasi Tuhan. Benda itu dikatakan ada karena pikiran kita. Benda itu dinamakan A karena semua sepakat bahwa itu A menamakannya.

*

Kalau baca bukunya ngemil cepat ingatnya. Ketika kubuka-buka buku Soe Hok Gie, dalam catatan hariannya dikutif dari Sutan Syahrir bahwa dari perempuan kita bakal mendapatkan dua kepuasan, yakni kepuasan seksual dan intelektual.

Memang dekat dengan perempuan itu terasa selalu membangkitkan semangatku. Dia selalu memotivasiku untuk selalu punya harapan. Namun kadang pesimis ketika melihat realitas yang ada bilamana perempuan tak mencintaiku. Dari dia aku mendapatkan kepuasan intelektual. Semoga dia menjadi obor dalam kegelapanku dan bisa mengantarkanku ke ujung harapan.

Orang-orang besar dibalik kebesarannya ada seorang wanita. Ibarat Yin dan Yang dalam tradisi Tao China. Kahlil Gibran pun yang selalu memberi arahan padanya adalah Mary Heskel, seorang wanita lebih tua yang telah membiayai hidupnya. Akhir-akhir ini setelah sekilas membaca buku biografi Gibran aku makin suka dengan karya Gibran. Aku ingin lebih banyak lagi membaca karya-karyanya.

Ungkapan yang bagus. Guru manusia adalah alam semesta, umat manusia adalah bukunya dan hidup adalah sekolahnya. Di sebelah kiriku tersimpan Yesus dan sisi lainnya ada Muhammad. Aku ingin jadi sastrawan.

Menghilangkan kepenatan, kutonton lagi film AADC. Aku ingin membaca buku sampai tuntas Aku-nya Sjuman Djaya. Ingin juga membaca Sang Nabi, Prahara, si Gila, Sayap-sayap Patah, dan karya lain dari Kahlil Gibran.

Daripada mengharapkan kepuasan intelek dari perempuan, lebih baik sementara dari buku dulu saja. Karena tidak pernah benar-benar ada perempaun yang mau mencintaiku. Aku sudah sayang pada seorang perempuan, namun sayang sekali ia tak memberi jawaban yang beralasan. Bila ternyata ia tak mencintaiku, ya sudahlah. Hentikan saja harapan itu.

Namun aku selalu ingat akan ungkapan Edison: kebanyakan orang gagal adalah orang yang tak menyadari betapa dekatnya mereka ke titik sukses saat mereka memutuskan untuk menyerah. Dalam buku berpikir dan berjiwa besar juga begitu, jadi teruslah selalu memiliki harapan. Harapan bahwa suatu saat aku akan dicintai olehnya atau oleh siapapun perempuan yang memberikan ketulusan.

Tapi sangat menyakitkan ketika orang yang kucintai tidak mencintaiku. Aku memang pantas untuk tidak dicintai. Apa yang bisa diharapkan dariku yang sekarang ini. Tidak ada. Hanya keresahan dan kepenatan dan kesendirian yang selalu menemani langkah tegapku. Ingin dekat lagi dengan perempuan  lain, bingung karena masih menaruh harapan.

Bila benar dia tak mencintaiku, betapa hidup sangat menyakitkan. Mungkinkah dia sudah mempunyai calon yang lebih baik dariku. Semoga saja dia mendapatkan cowok yang lebih baik dariku. Jangan seperti aku yang dipenuhi ego.[]

 

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori