Oleh: Kyan | 20/01/2006

Ketika Bukan Belahan Jiwa

Jum’at, 20 Januari 2006

Ketika Bukan Belahan Jiwa

**

Mengkritik itu gampang, tapi gak tahu dampaknya bagaimana. Aku sudah mengkritik dia. Kubilang jangan di hadapannya dan di depan orang-orang, “Jangan sok idealis”. Kupikir-pikir sepanjang perjalanan pulang, jangan-jangan aku sudah sangat menyakiti dia. Aku gak mau dia tersakiti meskipun dia sudah beberapa kali menyakitiku.

Tapi kupikir apa yang kukatakan dan lakukan memiliki alasan kuat. Tapi biarlah orang mengkritikku. Tapi aku jangan sampai menyakiti orang. Namun akhir-akhir ini sikapku yang dulu dikatakan penyabar, kurasakan sekarang arogan.  Mau menang sendiri dan kasar pada perempuan.

Sikapku sudah tidak sesuai dengan apa yang kubaca. Karena aku lemah dan dilemahkan, makanya aku berontak. Karena angan dan harapanku tidak tergapai. Apakah karena perempuan, persisnya tidak tahu. Ya, karena tak ada dan tak pernah ada perempuan yang mencintaiku. Biarlah aku sendiri saja. Aku sudah berusaha untuk mencintai siapapun, namun balasannya apa.

Aku ini manusia. Biarlah mereka hidup dengan dunianya. Jangan harap ada orang yang mau mendengarkan saja. Aku tak akan pernah jadi orang yang diharapkan seseorang. Aku hanya bisa jadi diriku sendiri. Aku punya duniaku sendiri. Ngapaian juga memikirkan atau menantikan seseorang yang tak pernah mau peduli denganku. Mereka punya dunianya sendiri dan aku tak bisa memasukinya. Jangan sampai aku mengharap ada orang yang mau masuk ke duniaku. Karena duniaku kelam dan gelap.

Meskipun aku ceria dan banyak cerita di depan mereka, mereka gak tahu duniaku seperti apa. Biar aku saja yang tahu seluk-beluknya dan tidak usah diungkap. Memang aku seperti anak kecil yang cengeng yang selalu minta susu dan ingin dekapan. Aku begini karena tak ada orang yang mau mendewasakanku. Aku sudah berusaha untuk menjadi dewasa, tapi tak ada support system atau orang yang mau membawaku ke alam sana. Dunia kedewasaan.

Kadang aku berputus asa karena semuanya. Keluarga atau teman tak ada yang benar-benar peduli. Semuanya diam membisu. Aku pun lebih baik diam. Aku ingin diam saja yang tak penuh dengan basa-basi. Aku sudah muak dan penat dengan semua yang kualami. Aku ingin ramai seperti debur ombak pantai cerita. Ibarat angin yang membisiki nilai keindahan langit hatiku.

Ingin perempuan yang selalu terbuka untuk memelukku dengan erat dan mau mendengarkan legenda ceritaku yang berjalan di hamparan pasir tandus. Aku ingin ke pantai menjalin mesra dengan ombak samudera. Aku ingin berenang sampai di pulau harapan. Aku sudah bosan dengan kesendirian. Aku sudah penat dan lelah menghadapi semua kebohongan.

*

Menghadapi ujian tak karuan. Ujian Asuransi aku hanya duduk dan diam sendirian. Tidak seperti yang lain menengok sana-sini. Inginku bisa ya dikerjakan, kalau gak bisa ya sudah tanpa perlu bertanya sana-sini. Aku ingin seperti UAS semester satu yang ketika ujian hanya menghadapi ujian dan tak memperhatikan nilai akhir.

Pernyataanku sejak awal tak memperdulikan nilai dan yang penting apakah prosesku sudah optimal atau belum. Tapi sekarang sudah terbebani dengan IP tertinggi-ku di jurusan. Kalau turun rasanya jadi malu dan harus mempersiapkan segala alibi bila orang bertanya kenapa turun.

Belum lagi sering terpikirkan bagaimana nanti kalau lulus kuliah. Apakah bakal cepat memperoleh kerja. Sekarang pendaptaran calon PNS di Depag sudah dibuka. Apa aku mesti ikutan mendaftar. Syarat minimal memang SMA, tapi jika aku diterima apa tidak jadi problem pada kuliah.

Benar kata teman perempuanku, bahwa kita dari sekarang harus membuat jaringan dengan berbagai lini. Memangnya jaringan dia sudah luas. Kalau aku jadi perempuan pasti aku bakal iri padanya. Mengomentari perjuangannya kadang semangatnya itu berlebihan. Tapi mungkin dia sudah memikirkannya.

Kadang aku benci padanya. Kenapa harus benci, aku gak tahu. Karena aku gak mau memberi alasan. Apakah karena dia tidak mencintaiku, mungkin. Karena itu untuk menenangkanku. Kalau dia bukan jodohku memang bukan belahan jiwaku. Kalau dia menjadi milikku pasti tak akan kemana-mana. Aku juga ingin mendapatkan yang lebih baik lagi dari dia. Lantas kenapa harus menjadi urusan dan kelelahan.

Kenapa sih hari-hariku, catatan harianku selau diisi dengan masalah. Mungkin karena ini masalah penting, Yin-Yang. Jarang bahkan tak ada mungkin, yang sukses tanpa dorongan sang Hawa. Dalam kerlingan matanya terlihat surga. Kalau problema ini tidak selesai-selesai, hal lainnya tidak akan selesai.

Aku ingin selalu ada yang memotivasiku membawa lentera di tengah gelapnya malam. Dia yang selalu menerangi gelapnya perjalanan hidupku. Mungkin aku tak usah mengharapkannya lagi. Karena makin mabuk dan muak saja. Buat apa mengungkapkan cinta pada orang yang tak mencintaiku. Sia-sia saja itu namanya.

Hilangkan pikiran bahwa dia adalah perempaun terbaik dan bahwa tak ada lagi perempuan sebaik dia. Aku harus yakin bahwa bakal datang seseorang yang mau mencintaiku sepenuhnya. Asalkan aku mencintainya penuh ketulusan. Sekarang aku mau mencintai setiap orang. Semua orang mesti dianggap seperti kepada pacar.

Dalam anggapanku semua orang adalah penting. Buat apa mencintai orang yang tidak mencintai. Itu hanya kesia-siaan saja. Meskipun terbawa mimpi tapi tak akan pernah ada. Tak akan pernah datang ke ruang hatiku.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori