Oleh: Kyan | 24/01/2006

Menjadi Terasing dan Sendirian

Selasa, 24 Januari 2006

Menjadi Terasing dan Sendirian

**

Tiga hari aku tidak menulis, serasa dikejar-kejar hutang perasaan. Sebab menulis adalah kewajibanku untuk diriku sendiri. Aku sedang fokus menghadapi UAS, jadi pekerjaan lain harus ditunda atau ditinggalkan. Termasuk urusan cinta pun harus dikesampinkan.

Ujian hari ini adalah matakuliah BMT. Aku kecewa pada dosen kenapa sih soalnya yang mesti membuat mahasiswa berkesempatan mencontek. Soalnya pun sama persis dengan materi yang disampaikan. Tak ada kolaborasi lebih dari sekedar kopi paste. Soal yang bagus tuh untuk menguji kemampuan analisis, bukan sekedar hapalan.

Kalau gak ada perubahan dari sekarang, kapan lagi dan siapa lagi memulai perubahan. Mencontek sudah begitu menjalar pada diri setiap mahasisiwa. Sedangkan kejujuran adalah sikap yang harus junjung tinggi, dikatakan dengan lantang, atau dianggit setinggi awan, tapi ambruk karena dosen memberikan soal kacangan.

Bagaimana itu dapat membentuk karakter mahasiswa sebagai “agen of change”. Benarkah Kang Jalal bilang atau Soe Hok Gie mengatakan kalau mau jadi intelektual sejati harus siap-siap saja mau dikucilkan dan hidup terasing. Begitu pun yang kuperoleh hanya kesepian dan kesendirian selalu. Mampukah aku menghadapinya. 

Hidupku terasing bukan karena menjaga kejujuran, tapi terasing karena kelaparan dan kebodohan. Kemarin datang surat dari kakakku di Garut yang menyuruhku pulang ke Garut untuk mengambil uang dan beras. Karena aku sibuk ujian, rencana mau hari Rabu atau Kamis kesana, malah kakak yang datang ke tempat kosanku. Kakaku begitu perhatian dengan kondisi adiknya. Aku bangga dan bahagia mempunyai kakak perempuan, seperti ibuku sendiri.

Ingin juga calon istriku seperti kebiasaan kakakku yang selalu bangun sebelum Subuh dan gak pernah diam kalau sudah Subuh. Mulai sibuk memasak, mencuci, mengepel, dan lainnya. Itu dilakukan setiap hari dengan penuh semangat. Pikiranku sebagai cowok akan merasakan kelelahan. Siapa lagi kalau bukan kakakku yang memiliki semangat dan kebiasaan.

*

Aku sudah berniat mau meminta maaf pada perempuan itu. Karena aku sudah berkata-kata yang seperti menguliti perasaannya. Maafkan kalau kritikanku menyakitkan. Memang anggapanku salah dan justru aku yang sok ideal. Ketika aku berkata itu sebenarnya mengkritik diriku saja, bukan orang lain.

Meskipun dia selalu minta kritik padaku, menerima kritikan dariku mungkin sangat menyakitkan. Benar kata Veri kalau melakukan apa saja, mestinya bertanya dulu, minta pendapat orang lain dulu. Itulah aku yang petantang-petenteng, dan itu yang sok ideal.

Dia mengirim sms lewat handphone Veri. Isinya semoga istikomah dan selalu minta pendapat dari Veri. Perasaanku belum pernah aku diperhatikan seperti itu. Mungin karena aku yang gak punya handphone. Kenapa sih aku selalu sensitif. Sudah nyata dia gak pernah dan tak mau mencintaiku. Mengapa masih meengharap cinta seseorang itu.

Selalu sendirian dalam kegelapan dan begitu penat yang kurasakan. Namun aku yakin akan tetap ada yang mau mencintaiku. Mengharap cinta seseorang buat apa. Selalu sendirian dalam kegelapan dan begitu penat yang kurasakan. Namun kuyakin akan tetap ada yang mau mencintaiku apa-adanya. Aku tidak boleh berputus asa.

Aku pun dibuat kesal oleh teman-teman. Aku kalo menyampaikan sesuatu itu, dikatakan membosankan. Padahal yang aku sampaikan adalah hikmah atau kata-kata mutiara. Mungkin ini menurutku saja, tapi bagi mereka setiap hari selalu saja berceramah. Disisi lain aku harus menyampaikan kebenaran, transfer ilmu. Tapi bagi mereka begitu membosankan.

Metodenya harus lain atau aku lebih baik diam saja. Aku berjanji tak akan banyak bicara lagi. Daripada ngomong malah ngebosenin, atau malah jadi bencana bagi mereka. Aku ngomong tuh tentang hal-hal yang kudapatkan dari buku. Sekarang kemanapun akan selalu membawa buku, meskipun itu pribadi membosankan.

*

Pokoknya hari ini banyak hal yang membuatku kesal. Aku dari pagi bawaannya ingin marah. Aku gak bisa belajar dalam suasana kesal. Tipeku adalah penyendiri maka kalau belajar pun inginnya aku menyendiri. Tapi sudah kebiasaan pasti teman-teman pada datang ke kostan. Emang kosanku sekre MKS gitu.

Bukan aku gak suka dikunjungi, tapi harus tahu waktu dong. Aku perlu belajar untuk persiapan UAS. Aku butuh kesendiriaan untuk belajar. Susah konsentrasi kalau berisik terus. Apalagi aku terus-terusan ditanya inilah dan itulah. Bagaimana tidak mengesalkan. Kepribadianku penyendiri, hargai dong karakterku. Sudah seminggu sebelum UAS aku tidak bisa belajar, karena mesti menyelesaikan pekerjaan yang ada sangkut pautnya dengan seminar.

Akhirnya, ternyata aku dan temen-temen MKS bisa dikelabui juga. Maksud dibaliknya kenapa pak Syarif memberi kami proyek seminar. Karena supaya perhatian kami sebagai pejabat himpunan tertumpu pada persiapan seminar dan UAS. Bukan pada pemilu presma UIN dimana maunya himpunan mahasiswa MKS dapat bersikap independen menentukan pilihan.

Karena kami sedang asik-asiknya mengurus seminar, dibuat lupa bahwa anak-anak baru MKS telah diarahkan untuk memilih kubu HMI, yaitu Partai Nurani. Bagiku silakan saja dibawa kemana mahasiswa baru MKS berideologi apapun, asalkan ke jalan yang benar, asalkan ketika bergabung dengan himpunan jurusan tanggalkan dulu ideologi-ideologi bawaan ekstra kampus. Kami jangan dijadikan alat atau manipulasi politik. Kami hanya ingin melek politik dengan apa yang terjadi di kampus.

Akhirnya anak-anak HMI begitu lihainya membujuk anak-anak MKS mencoblos Partai Nurani, HMI. Bukan aku benci HMI sebagai organisasi, tetapi orang-orangnya tidak mau bekerja berkoalisi dengan organisasi lain. Kami ingin meleburlah semuanya untuk menegakan keadilan dan memusnahkan kedzaliman di kampus.

Selama ini aku gak pernah mengetahui informasi tentang Beasiswa. Karena katanya harus masuk dulu HMI, baru akan mudah mengakses infonya. Jikapun ada pemberitahuan, selalu telat atau sengaja menempelkan pampletnya ditelatkan. Ada informasi beasiswa kepada anggota HMI saja diberitahukan. Sangat tidak adil memperlakukan mahasiswa tanam pilih. IP-ku memenuhi untuk mendapatkan beasiswa.

Tadi mendengarkan Robbi tentang cerita perbuatan mesumnya dulu semasa sekolah STM. Aku muak mendengarnya. Begitu bobroknya moral mahasiswa. Sekarang mesti berbuat apa, minimal aku tak terjerumus pada lilitan zina itu.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori