Oleh: Kyan | 28/01/2006

Seorang Kahlil Gibran

Sabtu, 28 Januari 2006

Seorang Kahlil Gibran

**

Aku bangun jam empat pagi, bukan untuk salat Tahajud. Tapi untuk kutunaikan salat Isya yang ketiduran semalam. Karena ketiduran ketika lelah membaca buku biografi Kahlil Gibran. Setelah salat subuh berjamaah di masjid, membaca bukunya dilanjutkan. Tenang rasanya bisa bangun sebelum subuh dan salat berjamaah. Sudah lama aku gak salat Tahajud. Kapan aku dikaruniakan rahmat untuk salat malam. Mungkin semua bergantung usahaku dan seberapa jauh tekadku.

Membaca kisah hidup seorang penyair ternyata dirinya selalu dilanda penderitaan. Mulai dari kehidupannya yang miskin, bersama kakak, adik dan ibunya. Hubungan dengan ayahnya yang temperamental dan ditinggal mati juga. Ditinggal beberapa wanita silih berganti sampai Haskel tahu perasaan sakit hati Gibran.

Haskel sudah berumur tua. Semuanya membuat kebiasaan Gibran menjadi memburuk. Akibat sering merokok terus-terusan dan bergadang semalaman, menjadikan kesehatannya memburuk. Katanya Gibran melakukan hubungan seksual tigapuluhenam kali, apa benar. Aku harus bisa mengambil sisi baiknya saja dari seorang penyair termashur abad sembilanbelas ini. Seorang Gibran yang selalu dipuja-puji karena lukisan dan prosa puisinya yang memberontak terhadap kemapanan.

Aku mencuci pakaian, spray, dan sarung bantal sampai satu ember besar. Orang bilang mencuci gudang. Aku pun mengepel kamar kosan, karena sudah lama aku tidak bersih-bersih kamar. Karena disibukkan persiapan seminar dan UAS. Seminarnya berhasil namun UAS gak janji nilai-nilaiku bagus. UAS-ku acak-acakan di semester tiga ini.

Pada saat minggu tekun, aku bukan malah belajar, tapi malah keliling Bandung menyebarkan proposal dan memastikan pembicara. Hari ini semua mahasiswa pada beres ujiannya, anak MKS B semester satu pada main ke kosan Iwan. Ada Indah, Qorina, Nay, Ika, dan dua lagi gak tahu. Nanti kutanya Iwan siapa saja mereka itu.

Aku ingin akrab dengan semester satu. Indah yang selalu membawa buku Kahlil Gibran, judulnya “Kematain Sebuah Bangsa”. Karena tak banyak kupunya buku Kahlil Gibran, dia bersedia memberiku pinjaman buku.

Aku ingin lebih banyak lagi membaca buku-buku Gibran, Iqbal, dan Rumi. Aku ingin jadi penyair seperti mereka. Jiwaku yang selalu resah dan sendiri, layak jadi penyair. Karena kehidpan Gibran begitu. Iqbal pun begitu resah dengan Islam. Rumi bergejolak hatinya ketika pemahaman agamanya dimabukan oleh Syam Tabriz. Semua menjadi laskar cinta Tuhan.

Cinta Tuhan melebihi cinta seorang ibu. Padahal dengan cinta ibupun aku belum dan tak akan mampu membalasnya. Ketika sepulang Jum’atan ada surat dari ibuku, beliau memberitahukan sudah transfer uang sebesar empatratus limapuluhribu. Tapi tak jelas apa radionya sudah dikirim atau belum. Ibuku baru saja seminggu di Batam, sudah mengirimku uang sebesar itu.

Ucapan terima kasih saja untuk pengorbanan ibu. Masih hanya itu yang dapat kulakukan. Seorang ibu yang begitu besarnya cinta pada anaknya. Aku menyayangi ibu. Tak ada yang bisa mengungkap semuanya. Hanya kata-kata indah untuk ibu. Mungkin suatu saat aku ingin menuliskan kisah ibu semenjak gadisnya sampai dapat membesarkan keempat anaknya.

*

Hari ini tahun baru Imlek. Sekarang tahun apa ya dalam mitologi China. Tahun babi, monyet atau apa. Aku belum ke toko buku lagi. Karena biasanya kalau awal tahun baru di toko buku Gramedia banyak yang dipajang buku-buku panduan Feng Shui dan penduan tahun kepercayaan China.

Nanti hari Rabu mau ada pameran buku. Di sisi lain aku ingin beli speaker, ingin pula membeli buku. Masih belum menentukan mana yang lebih penting. Dikasih uang masih bingung, apalagi gak punya uang bingungnya berlebih. Manusia dikasih ini dan itu selalu saja berkeluh kesah.

Kalau aku bisa membayar SPP setengahnya, berarti ada sisa uang tigaratus ribu. Aku juga mesti memikirkan buat makan selama sebulan dari mana. Nanti setelah registrasi, teman-teman mau pada main ke Tasik dan Garut. Apa aku harus ikut. Tidak ikut gak enak dengan teman-teman. Rangga bilang di film AADC, “Kayak gak punya kepribadian saja”. Aku mesti punya prinsip. “Paling enggak aku gak bergantung ma siapa-siapa”.

Sepertinya aku gak ikut saja. Aku mau membeli buku mumpung diskonnya sampai limapuluh persen. Pameran buku paling setahun dua kali. Membeli speaker bisa nanti pemberian berikutnya.  Selalu saja aku pingin ini dan itu. Mumpung sebelum menikah. Kalau sudah nikah susah untuk memenuhi keinginan kita. Pasti nanti harus mendahulukan keinginan istri dan anak sebelum keinginan sendiri.

Bagaimana rasanya kalau aku sudah punya istri, apakah akan membatasi langkahku. Aku rasa tidak, malah akan membangkitkan kreativitasku. Semoga saja istri yang kudambakan adalah yang mampu membuatku terbang tinggi menuju angkasa angan dan harapanku.

Sabtu pagi aku mulai merubah suasana kamar. Aku mendekor ulang kamarku dibantui Aceng. Lalu Veri datang yang katanya mau berangkat ke Bogor. Dian datang mau menanyakan tentang pengajuan bayar SPP setengahnya. Alhamdulillah, baru hari inidapat kubayar hutang ke Dian.

Lunaslah hutangku yang kubayar dalam tenggat lima bulan.Target bulan Januari tercapai. Hutangku lunas. Tinggal hutangku pada Dudi. Apakah mesti dibayar atau gak. Dudi mau datang ke sini hari Selasa. Aku mau bareng dia ke pameran buku. Aku mau membeli buku saja. membeli speaker lain kali saja.

Malam pun berlarut. Ketika aku di kamar mandi bertemu kang Agi yang bilang katanya TV di kamar tamu gak ada. Bapak kosan menanyakannya ke anaknya, Mas Hendi. Mas Hendi mungkin sedang berang dan marah-marah.

Semenjak tempat kosan kami ditunggui oleh keluarga mereka, dia sudah tiga kali berbuat onar di Asrama Kurnia. Istrinya hanya bisa menangis sesunggukan karena tingkah suaminya yang temperamen. Istrinya pasti merasa malu dan gak tenang mempunyai suami yang pemarah.

Karakterku juga termasuk pemarah, tapi gak suka merusak barang. Kalau kakakku yang kedua suka begitu kalau marah. Aku harus lebih penyabar lagi. Maklum dia marah terus karena terlalu berat beban yang mesti ditanggungnya selama ini. Siapapun kalau tak sanggup menanggung beban, menumpahkannya dengan marah-marah. Lelaki kuat itu yang mampu menahan amarahnya.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori