Oleh: Kyan | 30/01/2006

Empat Pilar Keputusan

Senin, 30 Januari 2006

Empat Pilar Keputusan

**

Bukan laki-laki atau perempuan yang lebih kuat. Tapi keberanianlah yang ada pada diri kita. Maka aku harus punya keberanian. Dan seberapa jauh aku mempunyai tekad untuk sukses. Kalau gak nekad aku gak bisa kuliah atau mengoleksi buku. Makanya aku harus nekad. Meski antara berani dan nekad berbeda tipis.

Aku juga harus bertekad menjadi penyair. Harus dicoba menulis artikel yang dikirimkan ke media. Meskipun kata ibunya Kahlil Gibran bahwa menulis yang paling baik adalah ketika usia tigapuluhlima tahun. Maka harus dimulai dari sekarang belajar dan terus belajar menulis. Aku ingin jadi penyair.

Sudah seberapa banyak aku membaca buku-buku sastra. Semuanya mesti ada learning cost. Aku harus tetap menjunjung tinggi harapanku. Pikiranku yang harus terus dinyalakan. Aku tak boleh menyerah pada keadaan dan teruslah berjuang dalam mewujudkan impian.

Tapi bagaimana mau berjuang, kalau sudah menonton TV suka keterusan. Menonton dari jam sembilan tiba-tiba ketika melihat jam sudah jam sebelas. Aku gak boleh membiasakan tidur larut malam. Mumpung kesibukanku belum begitu padat aku akan bergiat menulis. Nanti kalau sudah kuliah lagi harus inilah itulah. Besok aku harus menulis surat untuk ibu.

Mau ke kampus mengajukan bayar SPP setengahnya. Semoga saja diberi kemudahan. Aku berhak mendapatkannya an memang masih banyak mereka yang pantas mendapatkannya. Namun mereka ada kemauan gak dan sudah dibertahukan belum Pokoknya besok gak boleh ditunda lagi mengajukannya.

Rabu harus ke Book Fair untuk dapat membaca buku yang kubeli. Ingin kutelaah lagi buku-buku tentang penulisan. Tapi aku ingin menghemat pengeluaran sehari cukup duaribu, yaitu buat membeli sayur saja. Ini malah ingin bubur dan jajan. Hari ini sudah habis enamribu. Makan terus tapi gak gemuk-gemuk. Pengeluaran ada saja setiap harinya. Kalau punya uang lebih, baik dipakai untuk keperluan yang lebih bermanfaat.

Aku jangan terlalu memenuhi segala keinginan, karena itu hawa nafsu. Bila aku bersabar dalam penghematan, maka buahnya akan terasa manis. Aku jadi males kalau mengucapkan kata-kata hikmah. Karena orang mendengarnya akan bosan. Uly bilang begitu. Bosen dengarnya. Kata hikmah selalu diucapkan berulang-ulang. Lebih baik aku diam saja. Kalau ngomong juga, selalu dipotong dengan ocehan yang membuatkuku sakit hati. Padahal maksudku menyampaikan kata-kata hikmah.

Lebih baik kutambah input ilmu lagi. Kudengar ceramah pak Muhammad Syafii Antonio, terasa menyejukkan. Sedikit tapi berisi materinya. Beliau seorang doktor ekonomi syariah. Beliau berceramah di Gema Muharam 1427 H yang ditayangkan di salah satu TV swasta.

Beliau mengungkapkan bahwa ada empat hal yang dibangun oleh Rasulullah dalam membangun negara Madinah, yaitu Masjid sebagai simbol ritual, mempersaudarakan Anshar dan Muhajirin sebagai simbol sosial, Piagam Madinah sebagai simbol politik, dan Pasar sebagai simbol keuangan.

Ada empat hal lagi yang harus menjadi acuan dalam membangun bangsa, yaitu mensejahteakan rakyatnya, membuat sistem kedudukan dalam hukum, serta ada suri tahuladan dari pemimpin. Posisiku berada di building market, yaitu masalah keuangan. Meskipun begitu aku harus faham semua secara menyeluruh tentang kondisi politik, ekonomi, dan sosial budaya.

Kadang suka iri, kok bisa mereka bisa bicara. Dengan begitu fasihnya di depan khalayak ramai. Padahal yang disampaikan adalah hal-hal sederhana yang kita sudah tahu. Sebenarnya tinggal mengaplikasikannya dalam kehidupan kita.

Mereka pada menjadi dai kondang. Di TV saja ada Pildacil, pemilihan Dai Cilik. Anak-anak begitu fasihnya berceloteh tentang kehidupan. Berarti manusia yang mendiami bumi Indonesia itu pada pintar dan cerdas. Namun kenapa pula kebejatan moral begitu merajalela. Ustaz Jefry al-Bukhari, dai muda mengatakan begitu mirisnya mendengar Indonesia yang kaya, namun rakyatnya miskin.

Alim ulama bertebaran dimana-mana tapi tetap saja kebobrokan moral membudaya. Lembaga pendidikan bertebaran, tapi tetap saja buta huruf dimana-mana. Cak Nun mengatakan bumi Indonesia itu bongkahan sorga, yang seakan-akan sorga itu bocor, dan cipratannya itu ialah bumi Indonesia. Kita begitu kaya segala-galanya tapi bagaimana yang kita lihat dan dengar.

Dalam Ekonomi Syariah, Adiwarman Karim sering ditanya bagaimana perkembangan Ekonomi Syariah di Indonesia. Dunia menganggap Indonesia-lah yang harus jadi leader perkembangan Ekonomi Syariah. Sementara Indonesia sendiri mesti mem-followup dalam mengembangkan ekonomi syariahnya. Memang Indonesia sering tidak pede dengan kebesarannya.

Aku sebagai calon intelektual syariah harus bangga bahwa masa depanku akan tetap ada. Aku bersyukur dilahirkan di bumi Nusantara. Aku menjadi apapun tetap ada harapan, masa depan tetap menanti. Namun bagaimana dengan masa depan, jika kondisi negara terus berkonflik.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori