Oleh: Kyan | 02/02/2006

Merajut Kisah Pertemuan

Kamis, 02 Februari 2006

Merajut Kisah Pertemuan

**

Angan, debur dan ombak menyatu dalam secercah harapan. Meniti legenda cerita manis di telinga. Namun aku diam menunggu datang sang bidadari yang membawaku ke peluknya. Semoga dia datang lebih cepat menuju puncak harapan itu. Aku tidak tahu mata yang samar itu merasakah debur ombak di peluhku. Haruskah diam saja dalam sejuta duka.

Aceng menginap di kosanku. Pagi-pagi Puri Rahma datang ke kosanku memberikan data-data KBMP. Tak lama kemudian Dudi datang. Dudi dan Aceng mau menghadapi UAS susulan, karena saat kemarin tak sempat mengikuti. Mereka harus mengambil spanduk seminar ke jalan Suci-Surapati.

Mereka berkorban demi mengurusi seminar. Kami gara-gara mengurusi seminar, semua kewajiban kuliah jadi berantakan. Termasuk aku, nilai UAS tidak dijamin puas, karena merasa tidak optimal persiapan. Waktunya belajar ini harus mengerjakan tetek-bengek atau mengantar ini dan itu.

Dan sekarang baru tahu ternyata anak-anak MKS dijadikan alat sebagai kepentingan orang-orang kapitalis. Mereka itu mengajukan proposal secara oral ke Jabar untuk mengadakan kegiatan seminar. Uangnya cair tapi uang yang diserahkan ke MKS untuk mendanai seminar cuma sekian persennya. Sisanya lenyap gak tahu kemana.

Bagaimana tidak enek ada segelintir orang mengatasnamakan KBMP untuk kepentingan mereka. Kawan-kawan himpunan jurusan yang sudah cape mengurusi semuanya, sampai persiapan dan waktu ujian terbengkalai. Sedangkan enaknya mereka mendapat uang banyak. Karena acara seminar dianggap berhasil.

Tapi sudahlah itu sudah terjadi. Lain kali kami harus waspada bila sedikit saja ada keganjilan. Kami gak boleh bertindak gegabah ketika memutuskan suatu hal. Mau mengusutnya pun, belum ada bukti-bukti yang lengkap. Bagaimana tidak kesal dan kecewa, selain kami sudah diperalat, menghadapi ujian yang merupakan penentuan nilai, persiapan ujian tidak optimal.

Mereka harus bertanggung jawab atas hasil UAS-ku. Kenapa sih teman-teman ketika ditawari dan disuruh begini begitu, mau saja ‘sumuhun dawuh’. Seperti kerbau saja semau-maunya disuruh. Dulu ketika ditawari proyek seminar ini, memang merasakan ada keganjilan. Karena semua serba mendadak pasti mengandung kecurigaan. Tapi lintasan nurani tidak terlalu kuhuraukan dan dengarkan.

Dan ternyata kegelisahanku benar memang ada yang tidak beres dengan kegiatan seminar itu. Nanti kalau hati dan otak membisikkan sesuatu ketika menerima sesuatu dari orang lain, lebih akan aku ungkapkan saja. Tidak usah ditahan-tahan sampai berkarat dan merasakan akibatnya.

*

Sudah selesai urusan seminar dan menyisakan dedak kekesalan. Aku ke fakultas menanyakan kelanjutan surat permohonan keringanan SPP. Susah sekali menemui orang-orang yang bisa menjawab pertanyaanku. Mereka saling lempar dan memusingkan aku kepada siapa aku bertanya.

Aku mencoba datang ke gedung ke al-Jamiah dan ternyata berkasnya belum sampai disana. Selain aku yang mengajukan keringanan ada tiga orang lagi yang melakukan hal sama. Aku memberanikan diri karena kalau aku diam saja tidak akan mendapatkan hal yang kuinginkan.

Lalu aku konsultasi ke dosen pembimbingku, Pak Zulkarnain, SH MH. maksudnya bukan konsultasi, tapi sekedar meminta tanda tangan. Aku dianggap menempuh jalur birokrasi yang salah. Aku kalah argumen karena bagaimanapun aku mahasiswa dan ia dosen hukum. Aku hanya memminta tandatangan transkip nilai semester dua. Alasan beliau karena gak peraya dengan nilaiku. Jadi katanya harus mendapat tandatangan dulu dari ketua jurusan.

Ini bagaimana sih jalurnya. Dari pihak fakultas katanya harus mendapatkan tandatangan dulu dosen pembimbing, baru mendapatkan tandatangan ketua jurusan, dan selanjutnya dekan. Tapi aku malah dibuat harus berputar-putar. Aku malas memperpanjang masalah. Kalau gak bisa, ya sudah. Apakah sikapku ini sebagai sikap yang lembek dan gampang putus asa?

Aku pulang saja membawa kebingungan. Semoga angin mendeburkan ombak halangan. Tapi ia bisa mengantarkanku ke tengah harapan. Aku ingin meyelami samudera kehidupan ini dengan bebas dan aku bisa berkarya bagi semesta dengan berelasi dengan alam.

Semuanya, sebelumnya begitu penat dan kusut. Biar waktu yang membawa legenda ceritaku di tengah gemuruh ombak dan badai. Biarlah aku berjalan sendirian saat ini. Ingin mendapatkan cinta seorang kekasih hanya menuai perih. Setelah dia gak benar-benar mau mencintaiku, ya sudah kenapa perjuangan ini diteruskan.

Meskipun hati kecilku bilang bahwa dia mencintaiku. Ini hanyalah angan yang berpegang pada prinsip. Dia tak akan pacaran dan aku pun berprinsip demikian. Aku tak meminta apapun. Aku hanya ingin mendapatkan kata-kata indah darinya, bukan wajah ketus yang menggemaskan. Katanya ia tak mau mengikat seseorang dari sekarang.

Bila tak ada ikatan, lebih baik aku terbang saja membumbung. Bila saatnya tiba dan lelah mungkin aku akan kembali. Lagian aku sering bertanya-tanya apakah aku benar-benar mencintainya sepenuh hati, ataukah ini hanya emosi sesaat.

Sudahlah aku pusing dan gak mau memusingkan diri dengan urusan kayak begini. Aku ingin terbang sebebas merpati. Menghilangkan penat jalan-jalan sendiri pameran buku. Kubelanjakan saja uang sehabis duaratus ribu buat membeli buku. Masih banyak buku-buku yang ingin kubeli di pameran yang diadakan setahun sekali dua kali. Sayang juga kalau disia-siakan.

Kalau membeli buku di Palasari diskonnya cuma 20-30 persen. Tapi di pameran buku sampai limapuluh persen. Nanti kalau mau membeli buku terbitan Mizan dan Pustaka Hidayah di pameran saja. Suka menyesal kalau sudah kemahalan. Buku yang sudah dibeli di Palasari, ternyata ada di pameran dengan harga lebih rendah.

Tapi beda antara mendapatkan ilmu hari ini dengan hari-hari yang lain. Efeknya beda dalam membangun cara berpikir kita. Aku membeli buku masih berdasarkan harga, bukan berdasarkan bagaimana isi itu buku. Masih belum berdasarkan kesempatan atau luang waktu dimana tidak setiap bisa berjalan-jalan dengan bebasnya dan menemukan satu judul buku yang memikat untuk dibacanya.

Di pameran buku malah bertemu teman SMU. Pertama-tama dia yang menepuh bahuku. Sekarang dia sudah berseragam polisi. Tapi kok aku lupa namanya. Aku kira namanya Ginanjar, namanya yang dulu pertama kukenal dia kelas satu-dua. Tapi di papan nama bajunya Agung. Tak kuhiraukan soal nama tapi kami mengobrol banyak tentang memori masa lalu. Dia sudah jadi orang sekarang, jadi polisi. Lantas aku kapan jadi orang, sekarang masih jadi binatang? Kadang aku dibuat minder kalau bertemu kawan-kawan lama. Teman-teman seangkatanku di SMU sudah pada berhasil, sedangkan aku kapan.  Kapan? ya kapan-kapan.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori