Oleh: Kyan | 03/02/2006

Catatan Harian Lelaki Malam

Jum’at, 03 Februari 2006

Catatan Harian Lelaki Malam

**

Aku tak ingin menyia-nyiakan adanya pameran buku kali ini. Kemarin aku sudah membeli buku menghabiskan dua-ratus-ribu, dengan bela-belain mengajukan keringanan SPP agar setengah bayar SPP buat membeli buku. Aku meminta keringanan bukan karena tak mampu, tapi ingin ada alokasi untuk membeli buku.

Aku ingin membeli lagi buku, sebanyak-banyaknya, sehabis-habisnya uang. Nanti di hari akhir acara tanggal tujuh aku akan datang lagi ke sana. Kalau bisa aku pinjam uang, lima-puluh-ribu lagi. Andai saja mendapatkan undian sejuta dari tebakan buku Mizan, akan kubelikan buku semua, agar buku itu bermanfaat untuk semuanya. Aku bernadzar.

Apakah ini lamunan, tapi yang pasti itulah keinginan kerasku untuk menyediakan fasilitas perpustakaan buatku dan keluarga serta teman-temanku. Apakah ini bakal kesampaian bukanlah pertanyaan dalam renungan. Menantikan orang atau badan yang mau menyumbang hanyalah lamunan. Mencari dana bagaimana caranya harus berusaha sendiri. Mencari dana kalau atas nama lembaga mungkin bisa saja, tapi aku ingin atas nama pribadiku.

Karena buku-buku itu dikhususkan sebagai warisan buat anak-anakku. Tak bisa dipungkiri juga buat yang liyan. Koleksi buku-buku itu akan kujadikan pengisi rumah idamanku. Aku mengoleksinya dari sekarang, agar anak-anakku kelak dapat menjadi penulis handal atau apapun yang bisa menumbuhkan kreativitas.

Buku yang kubaca kemarin di pameran buku, semuanya bagus. Sekarang aku tak pernah menyesal sudah membeli buku. Hanya ketika di Batam saja aku sering menyesal telah membeli banyak buku. Karena kupikir itu tidak perlu membelinya. Tapi cukup membacanya di tempat. Sebagai karyawan toko buku Gramedia akan puas membaca buku semampunya waktu.

Dulu buku yang menyesal dibeli, karena jelek kemasannya dan bukan karena isinya kurang bermutu. Karena semua gagasan adalah baik dan harus diapresiasi. Memang tidak banyak buku yang membikin kecewa, hanya satu dua judul buku saja. Tapi kupikir sekarang karena semua buku bermanfaat, dapat menggerakkan dan menggairahkan setiap orang, secara keseluruhan aku bergembira karena sudah memiliki koleksi buku.

*

Sekarang sedang kubaca buku saku berjudul “Red Diary, Catatan Harian Lelaki Malam”. Buku yang ditulis Moammar Emka, sang penulis buku laris “Jakarta Undercover” itu barusan aku selesai menamatkannya.

Aku dibuat terlena dengan kisah perjalanan penulisnya sejak cinta remajanya. Sampai ketika sang tokoh meminang cinta yang mengharu biru itu. Ungkapan-ungkapannya begitu spontan tentang dunia malamnya. Aku tak bisa beranjak sampai aku menamatkan semuanya dalam sekali baca.

Aku suka banget dengan buku itu. Kutifan puisi-puisinya memberi inspirasi agar aku bisa seperti dia dapat menulis puisi. Dia suka banget menulis catatan harian sampai bertahun-tahun. Aku gak tahu apakah itu rekayasa atau fakta yang jelas ceritanya menarik. Tanda buku bagus menurutku adalah ketika si pembaca seolah-olah tak bisa membedakan apakah itu fiksi atau fakta.

Terlepas dari masalah itu, aku banyak menemukan pelajaran yang amat berharga. Katanya jangan pernah berhenti menulis. Karena sekotor-kotornya orang pasti punya hati dan akal. Aku tidak mengatakan penulis Jakarta Undercover yang lulusan IAIN itu kotor. Justru aku memuji kejantanannya ketika dia harus menerima segala konsekuensi pekerjaan dan dunia malamnya.

Dia harus ikut terlibat dalam lifestyle orang-orang malam. Memasuki dunia hitam yang remang-remang itu begitu jelas dipaparkan oleh beliau. Dari beliau ternyata di luar sana masih banyak orang yang haus akan kebahagiaan. Namun selama ini mereka baru meraih kebahagiaan naif. Apakah mereka tahu agama. Mereka mungkin saja tahu agama, tapi sekedar formalnya agama yang memberinya beban. Bukan agama yang dapat merengkuh dan mengantarkannya pada kebahagiaan yang mereka cari.

Aku tak ingin mempermasalahkan secara personal kenapa seseorang terjerumus dalam dunia kelam. Tapi aku ingin melihatnya pada sistem, yaitu sistem pendidikan sekuler. Pendidikan yang memarjinalkan nilai-nilai akhlak dan etika yang dijunjung tinggi oleh agama dan adat, begitu dikesampingkan dalam setiap lini kehidupan. Kebobrokan moral terjadi dimana-mana karena sistem pendidikan telah membuatnya begitu. Bukan hanya di pusat kota yang begitu sibuk dengan bisnis, tapi di dunia pendidikan pun moralitas masih dipertanyakan.

Misalnya masalah seksualitas mahasiswa, birokrasi pemerintahan kampus, dan lainnya. Apakah aku hanya diam saja melihat semua itu. Semua harus berterima kasih pada mas Emka yang sudah begitu jujur memaparkan kehidupan hitam dan putihnya. Dunia itu tidak selamanya hitam, tidak pula putih yang selalu kita bayangkan. Semuanya adalah dinamika kehidupan yang harus disikapi dengan arif dengan bersandar pada rahmat Tuhan.

*

Selain membaca Red-Diary aku juga, sedang membaca buku “40 Hari Khalwat”-nya Michaela Ozelsel. Juga buku catatan harian seorang psikolog dalam khalwatnya di Turki. Suatu saat nanti aku ingin mencoba menjalani khalwat selama empatpuluh hari. Tapi apakah mesti memasuki dunia tarikat dulu. Jangan sekali-kali khalwat tanpa bimbingan seorang mursyid, begitu katanya. Masuk logika sih bagaimana kalau mati gak ada yang tahu. Tapi Rasulullah bertahanus di Gua Hira tanpa bimbingan seorang guru. Ia hanya bersandar kepada penguasa semesta alam.

Karena semalaman membaca buku, aku bangun kesiangan. Memang aku suka sering bangun kesiangan. Apakah karena kurang tidur? Tapi pernah aku hanya tidur lima jam. Aku tidur jam duabelas malam karena menonton acara ‘Hidup Ini Indah’ dan bisa bangun jam lima kurang. Tapi seringa aku tidur jam sepuluh, tetap saja bangun kesiangan. Bagaimana ini salat Subuh kesiangan terus. Apakah harus dipaksakan aku tidur jam delapan, selepas salat Isya. Segera tidur dan segera bangun.

Bangun kesiangan selalu menjadi momok bagiku. Aku ingin tidur cukup dan bisa bangun sebelum Subuh atau ketika adzan berkumandang. Adzan saja sering tidak terdengar. Tidurnya mesti bagaimana agar aku tidak kesiangan. Dari kecil aku dibilang kerek, kebluk (tidur pulas). Tapi waktu kecil kalau tidur di mushala atau di masjid aku selalu bangun paling pertama.

Pernah mendapat pujian dari dari guru mengajiku. Karea setiap guru datang ke mushala, aku yang selalu membukakan pintu mushala. Sekarang boro-boro, malah kesiangan terus. Aku harus berubah dan menemukan jalan.

Apakah dengan menulis dapat menemukan jalan. Bagaimanapun menulis adalah untuk mencoba mencari sesuatu untuk sebuah perubahan. Menulis adalah perjuangan dan harus bisa mengingatkan. Sastra dzikir. Menulis catatan harian bukan semata-mata ingin jadi penulis, tapi dalam rangka membebaskan diri.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori