Oleh: Kyan | 05/02/2006

Kehilangan Dompet di Pameran Buku

Senin, 06 Februari 2006

Kehilangan Dompet di Pameran Buku

**

Aku putuskan untuk jalan pagi ke Manglayang. Begitu sampai di kaki Manglayang dimana bertumpah ruahnya orang-orang di pasar dadakan, kulanjutkan lagi penjelajahan sampai ke atas. Ternyata jalannya terputus dan kucoba jalan melewati sawah. Melewat sungai yang sering dipakai buang kotoran. Serasa waktu di kampungku dulu BAB di sungai.

Ketika menyusuri gelangan sawah, menjadi rindu masa kecilku. Karena aku begitu penat di kota ini dan ingin merasakan nuansa pedesaan. Aku ingin hidup di lingkungan seperti di kampungku dulu, yang udaranya bersih dan mayarakatnya hidup ‘sauyunan’.

Kehidupan perkotaan sangat individualis. Termasuk aku sendiri sudah menjadi individualistis. Padahal aku orang kampung, tapi senang menyendiri. Waktu dulu pun sering menyendiri, mengubrak-abrik buku-buku peninggalan pamanku yang sekarang jadi guru di Karawang.

Menjadi remaja dan dewasa, seperti itulah yang dilakukan, senang dengan kesendirian. Tidak tahu kenapa kecendrunganku menjadi pribadi soliter. Tapi aku bukan berarti tidak sosialis. Justu aku berpikiran sosialis. Aku hanya tidak suka itu mengobrol di pinggiran jalan, ngalor-ngidul tanpa arah. Sekedar menghabiskan waktu saja ongkang-ongkang. Untuk mengakrabkan diri aku kira cukup dengan bersikap ramah dan penuh perhatian.

Kalau lari pagi gak memakai kaos dalam, suka kedinginan. Dan akhirnya kebelet ingin BAB. Aku tahankan sampai kosan dan hampir saja turun di jalan. Sampai di kosan lepaslah sudah. Setelah itu mencuci alat-alat masak dan makan. Aku putuskan hari ini aku harus ke Pameran buku lagi.

Tapi aku harus menyelesaikan input data koleksi kaset dulu. Setelah beres, mandi dan makan, baru berangkat pergi ke alun-alun Bandung. Di Damri sebentar membaca buku Kahlil Gibran. Ada orang yang sedang mengendong anak. Kupersilakan untuk duduk di tempat dudukku. Suatu saat istriku kalau kepepet naik Damri dan berdiri, moga saja ada orang yang mempersilakan untuk duduk. Karena dunia ini disisi lain mekanistik. Apa yang kita beri, itulah yang kita terima.

*

Aku berjalan kaki dari Halte Damri Sapoy Homan lurus ke Braga dan Dago. Karena aku gak mau menyia-nyiakan pameran buku, aku harus mencari ATM yang pecahan duapuluh ribu. Itu hanya ada di ATM Danamon di bawah jalan Pasopati Dago. Begitu kata satpam Bank Danamon.

Meskipun jauh tapi tak terasa. Aku berjalan kaki sampai sana dan balik lagi untuk sampai lagi di Landmark tempat Pameran buku. Aku berjalan kaki bolak-balik sampai kaki lecet kesakitan. Lalu aku mampir dulu ke Masjid al-Ukhuwah untuk kutunaikan salat Duhur. Terasa melelahkan jalan dari Sapoy Homan sampai Dago. Sebuah perjuangan demi ingin membeli buku. Setelah salat lalu ke Landmark dan langsung membeli buku-buku kecil karya Gibran.

Tahun 2006 ini aku harus bisa menulis. Menulis artikel, esai, atau apalah dengan tujuan pertamaku agar aku bisa mendapatkan uang. Tak bisa dipungkiri aku ingin menyambung hidup dengan mencoba menulis. Sudah banyak membaca tapi belum bisa menulis.

Namun ada kejadian nahas menimpaku. Ketika mau bayar di kasir stand Mizan, begitu kurogoh saku belakang celana, dompetku tak ada. Aku bingung dan langsung berpikir bagaimana uang registrasi besok. Kucoba menenangkan diri dan mencari-cari, berkeliling rute yang sudah kulewati. Aku tabahkan diri dan mencari bagian Sekurity. Hasilnya nihil dan aku mencoba ke bagian informasi.

Dan alhamdilillah, benar saja dompetku sudah ada di panitia. Alhamdulillah, dompetku kutemukan lagi. Memang orang-orang yang datang ke Islamic Book Fair atau para pencinta buku tentu akan memiliki integritas moral tinggi. Sedikit sekili orang penjahat mau datang ke toko buku dan mencintai buku. Itu kecuali mafia dan penjahat professional.

Sejak saat ini aku tidak boleh menyimpan dompet di sku belakang celana lagi. Lebih aman menyimpan dompet ke dalam tas. Ini pengalaman berharga bagiku. Aku mengucapkan syukur dompet dapat kutemukan lagi. Meskipun isinya tidak seberapa, tapi di dalamnya ada uang buat registrasi dan uang duapuluh ribu yang diambil dari ATM Danamon, yang sudah berjalan kaki jauh antara Savoy Homan dan Dago.

Dua buku saku yang kubaca. Pertama karya Ismail al-Faruqi tentang “Hijrah di Abad Modern”, dan kedua “Spiritualitas Seni dan Keindahan”-nya Kahlil Gibran. Makna hijrah menurut penulis sekarang tak harus perpindahan secara fisik meskipun itu tak dipungiri seperti yang dipropagandakan NKW IX. Namun harus perpindahan jiwa-jiwa demi ilmu pengetahuan, budaya dan peradaban itulah yang terpenting.

Konsep negara Islam adalah menyangkut keuniversalan dan kedaulatan hanya milik Allah. Sebuah wilayah kemenyeluruhan atas semua makhluk. Jadi yang harus diperhatikan tidak sekedar manusianya, tapi keberlangsungan alam lingkungan yang menjadi fokus perhatian umat Islam dalam memaknai hijrah.

Membaca karya Gibran begitu memukau. Karya prosa puitisnya penuh dengan kata-kata renungan dan kemanusiaan. Katanya penyair adalah raja tanpa singgasana. Antara sarjana dan penyair terdapat hamparan. Jika ilmuwan mampu melintasinya, ia akan menjadi bijak dan bila penyair mampu melintasinya, ia akan jadi Nabi.

*

Aku ke fakultas mau menanyakan surat keringanan SPP, katanya masih belum ditandatangani Dekan. Seharusnya pengajuannya harus dari sebelum UAS. Nanti buat semester empat aku harus mengajukan sebelum hari-hari diadakan UAS.

Di fakultas aku malah ketemu teman-teman semester satu MKS, khususnya Sinta Fujianti. Dia memakai kacamata baru model baru. Dia terliat cantik sekali dengan busana vinknya. Dia emang cantik dan lugu, masih muda belasan tahunan. Mungkin ketika pertama kali melihat dia, aku memandang biasa saja. Tapi setelah aku menatapnya berulang kali, lucu juga orangnya.

Apakah aku terpukau hanya dengan kecantikan fisiknya. Dia juga pintar, buktinya matematika dia dapat A. Ia juga penyuka sastra. Lantas apakah dia sudah mulai memasuki relung hatiku. Sudahkah terukir dengan indah nama ayunya, Sinta Fujianti di dinding jiwaku?

Apakah aku sudah berpaling dari Angel Wings, sosok yang bersemangat itu. Aku sudah menemukan banyak kekecewaan dari dia. Dan sekarang ada seseorang yang mungkin bisa menjadi pelabuhan hatiku. Aku hanya ingin menemukan sahabat yang bisa menerima aku adanya. Kalau bicara ke jenjang pernikahan, aku pun belum siap karena bukan hanya materi yang belum siap, tapi ilmunya tentang kearifan belum kuperoleh secara layak.

Aku masih pemarah. Aku belum bisa jadi penyabar sebagaimana yang aku dambakan. Ingin sekali aku jadi pribadi yang bijak, namun humoris. Pokoknya aku ingin menjadi pribadi menyenangkan bagi setiap orang. Aku tak boleh memperlihatkan muka cemberut ketika bertemu siapapun. Aku harus berjanji dengan sepenuh hati. Kalau gak dari sekarang, lantas kapan lagi.

Ketika aku dengan menekur dan membaca, Veri datang ke kosanku. Karanya dia baru pulang dari Bogor. Dia membawa makanan dan mau ikut menginap. Aku sudah makan dan makan lagi deh.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori