Oleh: Kyan | 08/02/2006

Peluang Beasiswa Supersemar

Rabu, 08 Februari 2006

Peluang Beasiswa Supersemar

**

Ketika hari terakhir her-registrasi Fak.Syariah, alhamdulillah Surat Keringanan SPP keluar juga akhirnya. Setelah berusaha bertanya sana-sini dan menunggu lama. Kalau mau bertanya dan membutuhkan surat-menyurat tinggal menghubungi pak Haedar saja, begitu kata penutupnya. Sepertinya dia mengenal tampangku, maklum aku sering bolak-balik berhubungan dengan Fakultas.

Hari ini nilai Matematika keluar. Kuperoleh nilai B, alhamdulillah. Tapi aku merasa tidak cukup puas. Karena aku gak optimal menempuh ujiannya. Waktu UTS aku meraih nilai terbesar. Tapi UAS-nya aku cuma mendapatkan 55, kecil banget. Sangat wajar karena aku gak sempat latihan soal. Tapi aku memperoleh B itu murni hasil kejujuran dan usahaku. Tentunya karena rahmat Allah. Ini jadi ibrah dan i’tibar buatku.

*

Selesai mengurusi surat keringanan, baru aku bisa pergi ke tempat registrasi. Mengantri bayar SPP di loket pembayaran al-Jamiah yang bekerjasama dengan Bank BRI. Waktu mau membayar, malah bertemu Uly Ajnihatin. Kukira siapa yang memanggilku, ternyata dia bersama Echa.

Sudah lama aku tak bertemu dengannya. Seminggu serasa setahun. Dia tampak disibukkan dengan pekerjaannya. Dia bilang ingin datang juga ke pameran buku. Tapi dia dari pekerjaannya cuma buat registrasi saja. Semua karena tuntutan kerja yang harus mengutamakan prioritas.

Jadi ingat kenangan ketika aku cuma sekali-kalinya bepergian dengannya ke toko buku Kurnia Agung. Sambil hujan-hujanan kami pulang dari Asuransi Takaful mampir ke toko buku.  Aku tahu bahwa harus dihindari bepergian berduaan tanpa ditemani muhrim. Aku harus menjaga itu, demi kehormatan semua. Itupun kalau tidak darurat.

Echa baik banget mau memberiku pinjaman uang. Aku bilang padanya, aku cuma ada uang seratuslima puluhribu. Dia tidak tahu aku sedang memperjuangan keringanan SPP. Dia malah pergi ke ATM mengambil Rp.150.000,- dan diberikan padaku limapuluhribu. Dia sangat perhatian pada teman-teman MKS. Nanti insya Allah aku siap membantu dan aku harus ikhlas dalam membantu.

Selesai registrasi, aku pergi lagi mau ke pameran. Di pameran buku berkeliling-keliling stand sampai jam lima sore. Di sana aku ketemu teman kampus yang aku tidak tahu namanya. Aku cuma bersalaman saja. Aku bertemu juga dengan teman yang sudah empat tahun tak jumpa. Teman sekelas SMU, yaitu Mariam dan Ika. Mereka sekarang kuliah di Biologi UPI. Lalu dia meminta nomor handphone-ku.

Aku sangat malu ketika kujawab tak punya. Kalau bertemu teman-teman lama, mereka suka meminta nomor handphone atau nomor yang bisa dihubungi. Kenapa juga minder atau malu ketika mengaku tidak punya. Emang itu realita yang ada. Bukankah kemuliaan tidak bergantung pada harta benda yang dimiliki.

Waktu mau pulang ketika belok dekat rel kereta api, gak sengaja bertemu kakakku. Kami hanya bersalaman dan aku melenggang pulang. Sudah setahun lebih aku tidak bertemu beliau. Kenapa bertemu kakakku sendiri sangat malas. Karena dia suka marah padaku. Kuingat sampai sekarang dia marah padaku karena aku suka beli buku. Tapi aku tetap nekad dan sudah terkumpul bukuku sejumlah 450 judul.

Begitu sampai di kosan sudah ada Veri dan Dudi. Mereka menginap di kosanku. Aku sangat kelelahan pulang dari pameran buku. Lalu aku membantu menyampul buku mereka yang dibeli kemarin di pameran. Kapan lagi ada pameran, hanya setahun dua kali.

*

Pagi-pagi ada yang datang, dikira siapa. Amy teman sekamarku. Dia sudah berbeda karena rambut panjangnya dipotong. Dia bilang semester empat rambut disuruh pendek. Seperti anak SMU, donk ada peraturan rambut mesti pendek. Padahal panjang pendek rambut gak jadi ukuran dan tanda baik seseorang. Kata Rendra saja yang duduk-duduk di DPR rambutnya pendek, tapi berbuat korupsi. Dulu maupun sekarang soal rambut panjang tidak masalah, yang penting rapi. Asalkan pantas dan enak dipandang.

Tadinya dia mau membayar kosan sekarang, tapi tak jadi. Nanti tanggal duapuluh saja, katanya. Tak apa-apa karena aku gak boleh memberatkan. Meskipun uangku sekarang tinggal sepuluhribu, itupun hasil pinjam dari Dudi.

Kemarin sudah pinjam ke Echa limapuluhribu, uang seminar juga limapuluhribu terpakai. Jadi semua hutangku Rp.110.000,- bahkan kemarin tadinya Echa mau memberikan pinjaman seratusribu, tapi kupikir terlalu besar. Lagian aku hanya ingin membeli speaker nanti di pameran komputer tanggal 14-18 Februari. Sering ada diskon besar.

Rencanaku hari ini mau pulang ke Garut. Ketika mau bersiap-siap berangkat, ada sms yang masuk ke handphone Veri lewat Dian yang katanya ditujukan padaku. Dikatakan aku harus menghadap Pak Anton. Kupikir-pikir ada apa aku harus menghadap ketua jurusan. Suka dibuat dagdigdug jika dipanggil atasan. Apakah aku punya masalah karena sudah mengajukan keringanan SPP, atau untuk urusan transkip nilai, atau sertifikat seminar.

Menghadaplah aku pada ketua jurusan dengan ditemani Dian. Ternyata mau memberi info peluang beasiswa Supersemar. Aku disuruh menemui Pipih segera. Katanya beasiswa ini untuk enam orang di Fakultas Syariah. Berarti satu dari setiap jurusan yang dipilih IPK terbaik.

Hanya aku bingung karena dipersyaratkan melampirkan surat keterangan tidak mampu. Kujelaskan baru saja kemarin penghabisan surat keterangan diberikan ke al-Jamiah. Lalu aku disuruh harus segera menghadap al-Jamiah bagian kemahasiswaan. Katakan saja ini perintah dari Bapak Anton Athoillah.

Wadduh, aku gak pakai sepatu. Ini jadi pelajaran kalau ada apa-apa panggilan resmi, harus memakai sepatu. Aku mesti pulang dulu mengambil sepatu dan setelah kesana lagi kantor al-Jamiah sudah tutup.

Besok aku harus mengurusi dan segera ke sana lagi. Aku mengirim sms pada ibuku di Batan supaya dibuatkan surat keterangan tidak mampu. Ini kesempatan besar jangan disia-siakan dan lantas mau kapan lagi. Semua akan berjalan lancar dan baik-baik saja.

Aku sudah dibuatkan surat-surat lampiran lain oleh pihak jurusan, tinggal tanda tangan PD tiga. Tapi bolehkah langsung diprint saja. Kata orang kalau surat-surat resmi begitu harus diketik manual. Ketinggalan zaman.

Memang sudah biasa hal-hal yang berbau pemerintah atau birokrasi suka ketinggalan zaman atau ditinggalkan zaman. Rencana mau pulang ke Garut gak jadi demi peluang beasiswa supersemar. Aku harus menunggu surat dari ibuku, sampai hari Senin depan.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori