Oleh: Kyan | 12/02/2006

Mencari Jalan Banda dan Jalan Puisi

Ahad, 12 Februari 2006

Mencari Jalan Banda dan Jalan Puisi

**

Pagi hari kepingin lari pagi ke Manglayang. Tapi malas membekukan kakiku dalam kedinginan. Lebih senang membaca buku di kamar sambil meringkuk di atas kasur lepet. Kubaca buku-buku Kahlil Gibran. Kalau aku ingin cakap membuat puisi, mesti membaca dan menyelami puisi karya orang lain. Terutama karya orang-orang besar seperti Rumi, Iqbal dan Gibran.

Mereka dalam membuat puisi suka memakai alegori alam lingkungan seperti hutan, padang, pohon, prahara, gerimis, air dan lain-lain. Waktu SMU aku pernah membuat puisi. Ketika kubaca sekarang ternyata sungguh memukau puisiku yang kubuat dulu. Dari mana aku dapatkan ungkapan-ungkapan indah itu. Padahal aku jarang bahkan tak pernah membaca puisi orang-orang. Mungkin itu karena menguak dari kedalaman.

Saat itu semenjak menonton film AADC tumbuh minatku pada puisi. Sampai teman-temanku bilang aku berbakat menulis puisi. Ini sekedar memotivasi atau pujian biasa, yang pati kata-kata temanku sangat mempengaruhi jalan pikiranku saat ini. Meskipun bila dikatakan pada kawanku dulu, mungkin dia lupa kalau sudah benar-benar mengatakan itu padaku.

Aku ingin jadi penyair besar dan pemikir besar yang mengusung kebebasan berpikir. Ibnu Rusyd dan Ulil Absar Abdala memperjuangkan semangat berpikir bebas. Karena Islam katanya menyuruh liberal, maka jadilah dan terbentuklah wadah Jaringan Islam Liberal (JIL). Aku makin merasakan banyak tidak tahu tentang problematika zaman. Muncul kategori-kategori ada Islam liberal, modernis, tradisional, salafi, wahabi, fundamentalis, revivalis, dan nama-nama lain. Aku menghargai mereka semua. Karena mereka sama-sama berkeinginan untuk memberikan solusi terhadap permasalahan umat.

Mas Ulil bilang bahwa belum muncul di kalangan para kajian Islam yang melahirkan pemikiran-pemikiran orisinil khas Indonesia. Kebanyakan hanya perpanjangan atau adopsi dari luar. Aku sendiri selaku generasi muda Islam Indonesia makin pusing saja melihat perdebatan di antara mereka.

Aku mesti meracik, mensintesis, mengelaborasi pemikiran-pemikiran dari berbagai kalangan. Inginku saat ini hanya diam tidak terjebak pada pertarungan sempit organisasi kekuasaan kampus. Mungkin waktulah yang akan menjawab semuanya. Apakah aku hanya diam saja terus-menerus.

Belum lagi temen-temen sebayaku yang terkungkung dengan sistematika pornografi dan pornoaksi. Kadang miris melihat mereka berzina. Belum lagi tayangan-tayangan televisi yang selalu saja mengedepankan erotisme dan seksualitas. Pakaian yang serba terbuka. Belahan dada perempuan yang terbuka lebar. Kenapa sih begitu model pakaian begitu, yang membikin panas selangkangan saja.

Dulu sewaktu aku doyan menonton TV, gak begitu-gitu amat pakaian para artis. Tapi sekarang sudah banyak berubah, yang seolah-olah merupakan sebuah kebiasaan. Kadang nafsuku ingin seperti mereka, punya pacar dan jalan-jalan, menonton bareng dan mencari-cari kesempatan. Ingin merasakan dan merayakan masa mudaku.

Kata orang mumpung belum tua renta. Kalau sudah loyo, ingin ini dan itu gak mampu. Tapi terlalu banyak permasalahan bangsa yang dimana aku harus memberi kontribusi besar dalam penyelesaiannya. Bukan menambah atau memperparah masalah.

*

Senin pagi aku sudah datang ke kampus. Mau menemui dosen pembimbingku. Setelah kutunggu lama, dia belum jua muncul. Sambil menunggu beliau kusempatkan membaca buku Ali Syariati. Lantas apa yang kudapatkan?

Yang masih ingat sampai sekarang adalah bahwa beliau seorang sosiolog lulusan Sorbone, Prancis. Beliau tidak banyak menulis dan menghasilkan karya secara utuh tentang filsafat. Tapi kebanyakan ceramah-ceramah beliau yang dikumpulkan yang mampu menggerakkan mahasiswa untuk menumbangkan kekuasaan Syah Pahlevi.

Dawam Raharjdo bilang bahwa beliau ingin mengislamkan Marxisme. Dia cenderung eksistensialisme dan menyukai pemikiran Sartre dan tokoh-tokoh eksistensialisme Marxisme. Katanya manusia harus menjadi (becoming) bukan sekedar ada (being). Biasanya bereksistensi dulu, baru mengembangkan esensi (hakikat).

Faktor penghambat manusia ada tiga hal, yaitu sejarah, sosiologi, dan biologisme. Kadang manusia terpaku pada sejarahnya. Manusia tergantung perkembangan masyarakatnya, dan banyak anggapan unsur manusia itu sekedar fisiknya.

Morries Schwratz bilang bahwa fisik itu bukan totalitas kita, melainkan sebagian dari kita. Apa yang bernama ‘sang aku’ disamping fisik, juga mempunyai emosi dan intuisi. Kelebihan manusia atas makhluk lain adalah adanya kesadaran diri, kehendak bebas, dan daya kreativitas.

Selain buku itu yang kubaca ada seri Kahlil Gibran Spiritualitas Sang Kala dan Spiritualitas Sang Hawa. Muncul rasa kelelahan membaca dan dosen pembimbing belum muncul juga. Karena menunggu lama, kuputuskan pulang saja. Rencana mau makan dulu dan setelah itu ke kampus lagi. Begitu mau melangkah pulang, aku dipanggil dosen SIM-ku dulu. Katanya dia mau pinjam buku Dasar-Dasar Pembelajaran Perusahaan. Aku mesti balik lagi ke kosan dan ke kampus lagi. Tidak apa-apa untuk beramal. Bolak-balik sekalian berolahraga.

Setelah Duhur aku memutuskan mau pergi ke Bandung mencari jalan Banda. Di alun-alun tepatnya di Masjid Agung bertemu Ahmad yang mau mendaftar lomba pidato. Setelah mengantar dia, aku singgah ke toko buku Kurnia Agung.

Disana dipajang buku al-Mustafa dan Yesus Anak Manusia. Nanti bulan depan mau membeli buku Sayap-Sayap Patah, al-Mustafa dan Yesus Anak Manusia, serta Javid Namah. Sekarang aku sedang gandrung pada Kahlil Gibran.

Ingin lagi membeli jaket, tapi aku malas pergi ke ATM. Karena tak yakin uangnya cukup. Kalau toh ada uangnya mendingan dipakai buat membeli speaker nanti di pameran komputer. Semoga ibuku sudah mengirim uang. Kemarin dikira  ada paket kiriman radio, ternyata surat saja dari ibuku. Surat-menyurat Batam-Bandung cuma sehari, cepat juga.

Jalan Banda sudah ketemu jalurnya. Itupun setelah terpaksa aku membuka segel peta di toko buku Kurnia Agung untuk kutemukan jalan Banda. Ingin membeli tapi harganya mahal. Dari dulu mau membeli peta, gak jadi-jadi. Sehabis salat Ashar tadinya mau langsung ke jalan Banda tapi takut hujan deras. Besok pagi aku ke sana. Aku pun pulang dan syukurlah aku bisa duduk di Damri. Alhamdulillah.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori