Oleh: Kyan | 14/02/2006

Generasi Pildacil dan Seorang Sufi

Selasa, 14 Februari 2006

Generasi Pildacil dan Seorang Sufi

**

Kalau aku tidur gak terlalu larut, malah suka bangun kesiangan. Tapi kalau tidurnya jam duabelas malam, tapi bisa bangun jam lima pagi. Apakah lebih baik begitu saja, tidur larut malam terus. Sehigga dengan waktu lebih banyak dimanfaatkan untuk membaca. Ibnu Sina saja semalaman kalau membaca buku dan ketika mengantuk beliau memasukan kakinya ke dalam air. Supaya rasa dingin membuat badan segar dan hilang kantuknya.

Ibnu Sina juga menulis setiap harinya sampai beberapa lembar. Dan usia duapuluhtiga tahun kalau gak salah sudah membuat buku.  Lantas karyaku apa dalam usia sebesar itu. Sumbangan pemikiran untuk diriku dan orang lain apa. Aku resah usia sampai segini belum berkarya untuk umat.

Aku menonton Pildacil 2. Aku begitu terpukau dengan pidato anak-anak kecil dan membaca Qurannya pun begitu fasih. Begitu pandai dalam merangkai untaian kata. Kalau aku berbicara, suka susah untuk mengungkapkan kata yang cocok atau ketika ingin mengekspresikan ide-ideku. Aku hanya bengong saja terpukau dengan anak-anak Pildacil.

Pagi-pagi aku segera mandi karena mau ke jalan Banda. Aku berangkat jam tujuh. di Damri kubaca buku biografi Rumi, “Menari Menghampiri Tuhan”. Bahasanya sangat bagus, memukau sehingga gak mau berhenti membaca. Lalu aku turun di jalan Asia Aprika dan berjalan kaki menelusuri jalan Braga. Aku mengecek ATM di Braga, ternyata ibuku sudah mengirim seratusempatpuluhribu. Rupanya tadi pagi ibuku mengirim uang.

Begitulah seorang ibu begitu ingin membahagiakan anaknya. Dalam mencari uang, ibu suka gak ingat waktu. Pulang larut malam dan berangkat pagi-pagi buta. Pasti lelah dan usia semakin tua, semakin berkurang stamina tubuhnya. Sementara aku lagi belum mandiri, masih bergantung pada ibuku dalam masalah keuangan.

Akhirnya setelah bertanya sana-sini, ditemukanlah jalan Banda. Akhirnya bertemu jalan yang direkomendasikan pak Anton kalau mau memfotokopi dokumen mirip aslinnya. Pulang dari sana aku mampir ke Gramedia.

Banyak buku-buku baru dan bagus. Aku tertarik dengan novel Emak-nya Daoed Yoesoef, Catatan Harian Che Guevara, tulisan Ulil Absar Abdala, Biografi Kartini, dan Novel Pramoedya Ananta Toer. Kalau aku punya uang banyak ingin membeli itu buku-buku. Nanti kalau punya uang dan membelinya di Palasari supaya murah.

Besok aku ingin ke pameran komputer. Tapi setelah beres mengurusi beasiswa. Mudah-mudahan aku bisa meraih beasiswa dari Supersemar. Kalau aku punya uang, akan aku gunakan pasti tidak jauh dari buku. Buku bisa menambah perspektif dari sekian perspektif. Dan semakin arif dalam melihat fenomena. Buku selain bisa dibaca olehku, juga bisa dibaca oleh generasi ke generasi.

*

Untuk dapat istikomah memang perjuangannya berat. Untuk dapat menulis seperti Ibnu Sina setiap hari sangat berat rintangannya. Sekedar menulis setiap hari saja susah banget. Baik ketika libur kuliah, apalagi sedang sibuk kuliah. Dulu kupikir kalau banyak waktu luang, aku bisa menetapkan menulis setiap hari. Ternyata susah juga, waktu libur kebanyakan aku gunakan untuk membaca saja, sementara menulis tidak sempat kulakukan.

Apalagi masih banyak yang belum kubaca. Kalau aku sudah membaca satu buku, ingin segera menamatkannya. Tidak mau menunda-nunda menyelesaikannya dan ingin segera membaca buku lain dan membeli baru. Aku ingin membaca buku-buku Tasawuf untuk menambah pemahaman seputar bidang Tasawuf.

Meskipun dengan sekedar membaca literatur Tasawuf, aku gak bisa menjadi seorang sufi. Kalau perspektifku sudah luas, suatu saat aku ingin memasuki dunia Tarikat. Sekarang pemahamanku masih sempit. Pokoknya aku ingin jadi pribadi yang arif.

Pagi aku ke kampus, mau menemui pak Anton. Tapi orang disana bapaknya lagi ke KKN. Aku melihat nilai, alhamdulillah bagus. Sebelumnya aku kecewa dengan nilai Matematika-ku. Tapi sudah lewat, gak harus disesali. Penting harus dijadikan pecut agar bisa selalu berjuang memberikan yang terbaik dari diriku. Aku harus selalu bertekad bulat.

Jadilah aku main ke pameran komputer. Di hari pertama masih sepi pengunjung. Aku ingin membeli speaker, tapi uangnya belum cukup. Aku cuma membeli cd kosong saja. Hari terakhir pameran, aku mau ke sana lagi. Aku mau bertekad membeli speaker. Pokoknya harus membeli. Keinginanku setahun yang lalu belum terkabulkan juga.

Aku bisa membeli TV Tunner, monitor, dan perpustakaan pribadi semuanya terwujud karena tekad kuat. Tidak peduli apakah besok lusa bisa makan atau tidak. Kalau untuk kebaikan, Allah pun akan menolongnya. Rezeki Allah tak akan pernah putus.

Namun permasalahannya sejauh mana aku bersyukur atas nikmat yang Allah berikan selama ini dan seterusnya. Selain ucapan Alhamdulillah, tentunya pemakaian barang-barang yang kubeli harus untuk kemaslahatanku dan orang lain. Aku berlindung dari pemakaian di jalan yang dilarang Allah.

Jam setengah dua sudah sampai di kosan lagi. Dian yang sejak pagi sudah di kosan bilang, bentar banget. Aku beda kalau pameran buku, sehari semalam pun takan pernah bosan diam disana. Terkadang aku berpikir, kenapa aku begitu mencintai buku. Padahal kakakku sudah melumpuhkan hasratku pada buku.

Ia pernah bilang padaku, buat apa membeli yang gak penting. Menurut beliau tidak penting, tapi menurutku sangat penting untuk menumbuhkan rasa ingin tahuku. Aku ingn jadi orang besar. Tak mau hidup bergelimpangan dengan kemiskinan terus.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori