Oleh: Kyan | 15/02/2006

Buku Tasawuf dan Speaker Simbadda

Rabu, 15 Februari 2006

Buku Tasawuf dan Speaker Simbadda

**

Hari ini aku menamatkan buku Tasawuf Salafi. Menghilangkan noda-noda Tasawuf. Dengan membaca buku ini, pemahamanku terbuka lebar sampai-sampai terbesit di pikiran buku yang kubeli tempo dulu: “Fakta dan Data Kesesatan Tasawuf” ingin aku buang, malahan ingin kubakar. Tapi kupikir lagi, biarlah untuk saksi perjalanan rasa ingin tahuku dalam menapaki kebenaran.

Membaca buku ini dan itu, agar semakin faham dengan konsep permasalahan. Aku gak boleh melihat sesuatu hanya dengan satu kacamata. Menurut pak Ari Ginanjar, harus berputar melingkar sebelum menentukan keputusan. Aku ingin membaca lagi ESQ Power. VCD ESQ Power belum kulihat juga. Terlalu mahal harganya untuk kubeli. Sepertinya buku tersebut untuk kalangan eksklusif. Ilmu itu memang mahal.

Ketika Syamzi Tabriz melihat Rumi, ia bilang apa-apaan ini, sambil menunjuk buku-buku yang dikaji Rumi. Lalu buku-buku yang dikaji Rumi terbakar. Karena katanya kita tak akan sampai kepada pemahaman sebenarnya bila hanya lewat buku. Tapi harus melalui perjalanan atau latihan-latihan ruhani.

Memang sih buku hanya memuaskan dahaga akal.  Bukankah dalam al-Quran Allah menekankan akal. Katanya fungsi akal itu sebagai optimalisasi horizontal. Dalam rangka habluminannas. Sedangkan vertikal lewat pandangan batin. Aku rasa keduanya perlu karena akan saling melengkapi. Dipastikan orang-orang sufi sebelum mencapai maqam tertinggi, mereka sebelumnya sering menelaah literatur tasawuf.

Buktinya buku-buku Tasawuf begitu banyak bertebaran. Kalau tidak dibaca oleh kalangan sufi, lantas oleh siapa. Aku tak boleh berkecil hati setelah membaca buku ini itu, belum juga mendapatkan pencerahan. Nanti juga ada saatnya muncul cahaya kebenaran.

Untuk mendapatkan sesuatu tak bisa didapatkan secara instan. Aku harus bersabar dan bertawakal pada Allah. Aku tak boleh dengki pada orang yang jarang membaca, tapi cepat mendapatkan pencerahan atau ide-ide cemerlang. Allah Maha Adil aku yakin punya kelebihan. Apakah sudah ditemukan, maka lakukan perjalanan.

*

Aku menonton sepak terjang Soe Hok Gie di Metro File. Jadi ingin menonton film Gie lagi. Dikira di Metro TV mau diputar filmnya. Tapi hanya penuturan orang-orang terdekat Soe Hok Gie. Gie memang hebat. Pemikiran beliau mencerahkan dan menggerakkan. Dia sejak kecil suka banget dengan buku-buku sastra. Bapaknya juga penulis, maklum anaknya pun penulis handal.

Sampai sekarang belum juga aku bisa menulis artikel di koran. Apakah tidak ada waktu dan tauladan dari orang tua. Aku bingung mesti kumulai dari mana. Ya Allah, tunjukkanlah jalan-Mu yang lurus. Aku ingin menempuh jalan sufi untuk menemukanku yang hakiki.

Karena tasawuf adalah akhlak dan akhlak adalah pakaian. Pakaian adalah tanda seorang manusia yang membedakan dari binatang. Begitulah nasihat Cak Nun dalam renungan Ilir-ilir. Bumi Indonesia adalah penggalan sorga, seolah-olah surga bocor dan cipratan itu membentang menjadi sebuah garis bernama Indonesia.

Aku bangga jadi anak Indonesia. Kekayaannya begitu melimpah. Namun kenapa rakyatnya begitu miskin, kelaparan, busung lapar dimana-mana. Tapi sekarang di beberapa daerah sedang dijangkiti flu burung yang katanya penyakit yang dapat mematikan. Membunuh selain bagi unggas tapi bagi manusia. Virus itu bermuasal dari mana. Apakah dampak dari teknologi. Memang sains dan teknologi yang berkembang di atas landasan liberalisme telah meminggirkan nilai-nilai transendensi.

*

Sejak berubah IAIN jadi UIN, aku baru hari ini main ke perpustakaannya. Ternyata banyak buku-buku baru, yang menarik minatku, yang dulu aku ingin banget aku membeli buku-buku itu. Mulai semester empat ini aku mau mulai rajin lagi main di perpustakaan kampus seperti semester satu. Di semester dua dan tiga sangat jarang aku pergi ke perpustakaan.

Kemarin jarang-jarang main ke perpustakaan. Karena aku lebih sering membeli saja di Palasari dan disibukkan dengan organisasi. Mulai sekarang kalau membeli buku lebih menekankan ke buku-buku sastra dan buku-buku best seller. Lagian sekarang aku mau mengumpulkan uang buat beli handphone. Kebutuhan handphone sudah begitu mendesak. Penting banget harus kupunya.

Keinginan setahun lalu membeli speaker sudah terpenuhi. Alhamdulillah, speaker Simbada Sim-X 518 sudah bisa kubeli yang harganya Rp 245.000,- Namun kekhawatiran masih ada, takut cacat. Aku gak begitu tahu suara yang mana yang bagus mana yang jelek. Sudah dua orang yang bilang bagus. Mungkin aku saja yang khawatir berlebihan.

Soalnya membelinya sedikit lebih murah. Aku gak boleh khawatir dengan harga murah. Aku yakin harga tersebut sesuai dengan kondisinya. Aku yakin speaker itu bagus dan mantap. Jikapun kurang bagus, aku sudah bersedekah ke toko tersebut lewat membeli barangnya. Aku ikhlas dengan harga segitu.

Membelinya dengan diantar Dian. Pulangnya sampai hujan-hujanan. Dian akhirnya menginap di kosanku sekalian  mau menuntaskan proyek Aya Sophia Community. Malamnya aku menonton film Replication. Filmnya bagus dan menegangkan. Apalagi pakai speaker yang dibeli tadi. Manusia bisa dikloning, digandakan sampai fisiknya mirip juga pemikiran dan  kekuatannya.

Sebuah imajinasi yang kadang suatu masa bisa jadi kenyataan. Dulu handphone hanya ada di film-film. Sekarang sudah jadi nyata dan hampir setiap orang punya handphone. Aku saja yang gak punya handphone. Beginilah nasib cowok kere.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori