Oleh: Kyan | 20/02/2006

Bersama Dalam Dilema

Senin, 20 Februari 2006

Bersama Dalam Dilema

**

Setelah menulis dan menyalin mata kuliah, malas banget untuk lari pagi. Kemalasan berolah raga sulit aku kalahkan. Sekarang aku jarang berolahraga, apalagi berolahjiwa. Mungkin karena motivasinya tidak kuat. Aku lebih senang mendengarkan musik atau membaca buku daripada berolahraga. Mestinya aku bisa seimbang antara olah fisik dan olah jiwa.

Ingin juga membiasakan diri mandi di pagi hari. Biasanya agak siangan aku baru mandi. Aku mau  merubah kebiasaanku sejak hari ini. Dari yang tidak baik menjadi baik. Dari mandi siang jadi mandi pagi buta. Biar stamina kuat dan fresh.

Begitu juga dengan perangaiku. Aku ingin jadi pribadi tenang dan kalem dan tidak suka mendebat orang. Aku ingin lebih banyak diam saja dan berbicara kalau perlu saja. Ketika aku marah-marah serasa bukan diriku sendiri yang marah. Memang itulah emosi yang sedang terguncang oleh kekacauan. Aku harus menampakkan perangai ramah ketika besok pagi bertemu teman-teman.

Insya Allah sekarang aku aku mulai belajar bahasa Inggris. Apapun caranya lewat mendengarkan musik bahasa Inggris, menerjemahkan liriknya, menonton film, atau kucoba belajar omong dengan teman.

Tahun ini harus ada perubahan yang lebih baik. Aku canangkan akan menggeluti sastra dan kemampuan bahasa. Aku ingin jadi penyair dan pembahasa. Dan karena mampu berbahasa aku bisa kuliah di luar negeri. Mudah-mudahan saja dapat terwujudkan.

*

Hari pertama kuliah perdana semester empat. Bertemu dan berkumpul lagi dengan teman-teman. Entah ini kebetulan, perempuan pertama yang kutemu adalah dia. Di jalan bertemu Sinta dengan busana hitamnya. Terlihat cantik dan menarik. Kami berjalan beriringan menuju kampus.

Aku bersalaman dengan temen-temen sekelasku. Aku berjabat tangan saja dengan menyentuhkan tangan. Aku tak ingin terkesan eksklusif lagi seperti dulu. Ketika SMA selalu berusaha untuk tidak bersentuh tangan kalau kalau berjabat tangan, dengan makhluk perempuan.

Tapi dengan kondisi sekarang, susah untuk mengaplikasikannya. Walaupun begitu, penting juga hal-hal fiqh tentang bagaimana adab pergaulan. Mana yang lebih prioritas antara amalan kulit atau memperjuangkan substansi. Saat ini orang kebanyakan berdebat seputar simbol. Tapi tidak sampai menukik pada isi.

Lalu bertemu Angel Wings dengan wajah baru, memakai kacamata. Dia makin cantik saja. Aku tak mengharapkan apa-apa dari semuanya. Kami menunggu kuliah Statistika Bisnis Syariah, dosennya Ibu Elis. Teman-teman meminta diganti dosennya. Padahal menurutku beliau bagus dalam mengajar. Mereka bilang beliau pelit memberi nilai. Semester dua manajemen operasi dikasih B. Mata kuliah sama di kelas lain pada mendapatkan nilai A, karena dosennya berbeda.

Tapi, alhamdulillah mudah-mudahan aku mendapat beasiswa dari Supersemar. Insya Allah kalau menang akan kugunakan untuk hal-hal penting. Seperti membeli buku-buku yang bisa mencerahkan dan menggugah pemikiran. Buku yang menggerakkan memang langka, bergantung profesionalitas penulisnya.

Ketika pulang selesai, Angel Wings menghampiriku. Ia bilang mau pinjam buku. Kami berjalan pulang, dan kuajak dia mampir dulu ke warung nasi Pelangi. Rupanya sekarang tidak kikuk lagi mau diajak jalan berdua. Padahal dulu dia anti banget. Mungkin sudah biasa kalau di Mihdan bergaul sama laki-laki. Namanya perusahaan gak bisa dihindari berinteraksi antara laki dan perempuan.

Sampai di kosan sudah ada dua bungkus wajit Cililin tergeletak di pinggir jendela. Pasti ada Yedi ke sini tadi lebih dulu. Sebenarnya aku masih mengharapkan dia gak sih sekarang. Aku tak mau peduli lagi padanya. Biarlah waktu yang bicara.

Sri, anak MKS C semester dua minta nomor handphoneku. Aku tak punya handphone. Aneh gak sih hari gini ada orang gak punya handphone. Alasannya aku tak mau diperbudak teknologi, atau memang tak ada duit saja buat membeli handphone. Indah memberiku lagi pinjaman buku novel Kahlil Gibran, “Si Gila” (Madman). Aku juga sempat membaca novel Laskar Pelangi kupinjam dari Dudi.

Aku menamatkan baca novel yang kupinjam dari Dudi, “Sabda Dari Persemayaman”. Kisah anak muda yang gelisah dengan realitas kampus dan negerinya. Satar, tokoh dalam novel ini layak jadi teladan dalam semangat belajar dan mengkampanyekan baca tulis.

Kaum pendidik dan terdidik sudah selayaknya tergolong pembaca berat, bukan seperti mahasiswa sekarang yang selalu bergelut dengan seputar penampilan fisik, gosip, pesta, dan selangkangan. Mahasiswa harus memperjuangkan nilai-nilai idealis. Namun bukan penjaga tradisi yang absurd. Kebebasan berpikir harus dikedepankan.

Karena kedewasaan cerminan kematangan berpikir dan bertindak, dalam menjadi manusia seutuhnya. Manusia bukan sekedar basyar, tapi insan. Bukan sekedar ada mengada, tapi menjadi, menghampiri Tuhan. Seperti wihdatul wujud. Konsep Iqbal terkait dengan teori egonya, insan kamil.

Aku belum begitu memahami secara menyeluruh gagasan para filsuf. Aku harus banyak mengkaji filsafat yang tercerahkan. Agar aku bisa jadi manusia baru dalam membawa sebuah perubahan. Menjadi manusia seutuhnya dan seluruhnya dengan mencoba belajar menulis. Meski menulis serasa dipaksakan, gak mengalir apa-adanya. Tapi kata pak Hernowo, jangan dulu memperhatikan susunan kalimatnya. Tulis saja apa-adanya dengan mengalir dan orsinal.

Aku mau mengambil contoh model pak Hernowo dalam menulis. Membaca tulisan beliau serasa ingin terus membacanya sampai tamat, gak mau berhenti. Ingin juga kalau beliau menulis novel bagaimana, akan seperti apa tulisannya.

Tapi orsinilitas beliau di seputar membaca dan menulis. Ia belum tentu baik kalau menulis novel. Begitupun aku dapat menemukan orisinilitas di bidang apa, masih dalam pencarian. Hanya aku ingin membiasakan diri menulis catatan harian saja. Ya, karena sering membaca tulisan pak Hernowo. Aku menulis bukan sekedar ingin jadi penulis.  Tapi ingin membebaskan diri dari kepenatan.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori