Oleh: Kyan | 23/02/2006

Jalan Lain Kesana dan Bakat Terpendam

Kamis, 23 Februari 2006

Jalan Lain Kesana dan Bakat Terpendam

**

Sekarang aku sedang disibukkan dengan melanjutkan baca novel Laskar Pelangi. Aku sering ketawa sendiri, tergopoh-gopoh karena ceritanya selain lucu juga inspiratif. Ada orang yang unggul dalam intelektualismenya, ada pula yang unggul dalam seninya. Memang semua itu bisa dilihat sejak kecil.

Kalau aku telusuri waktu kecilku, aku sering dibilang punya tulisan bagus, baik latin maupun tulisan arab. Aku juga sering menggambar, dan ajang kreativitas lain yang berniali seni. Kalau dulu dikembangkan lebih lanjut dan ada wadah perkembangannya, mungkin saat ini aku bisa melukis, menulis kaligrafi, atau baca puisi pun bisa kuandalkan.

Sepertinya sekarang harus kugali lagi bakatku yang terpendam itu. Tapi harus memulai dari mana. Di kampus ada LSLK, apa aku mesti masuk ke wadah itu. Di sisi lain gak pede, karena kelihatannya LSLK hanya wadah bagi yang sudah mahir saja. Bagi yang baru punya minat saja, seperti tidak bisa masuk. Di sisi lain juga mesti cukup finansial.

Kayaknya aku mesti mencari buku bagaimana cara menggambar. Meski tidak yakin apakah benar bakatku melukis, setidaknya ini sebagai langkah usaha. Karena orang sukses itu adalah orang yang sudah bisa menggali potensi dirinya dengan optimal. Kadang sering bingung sebenarnya bakatku apa. Apakah bidangnya intelektualitas, seniman, sastrawan, budayawan, pelukis, penyair, atau orator.

Untuk yang terakhir sepertinya aku gak berbakat. Karena karakterku pendiam dan ngomongku saja gagap. Mulai dari sekarang aku mau belajar melukis. Semoga saja aku semakin terampil di kemudian hari atau sebagi wahana ekspresi diriku saja.

Ketika sedang asyik membaca, ada yang mengetuk pintu. Ternyata ada perempuan datang. Sinta Fujianti, dia datang sendirian. Dia baru pertama kali ke sini lagi setelah dekorasi kamarku diubah. Kemarin kulihat dia pakai kacamata, tapi hari ini tidak. Dia mau pinjam buku MSDM. Lalu dia menanyakan golongan darahku. Kenapa dia bertanya soal golongan darah. Sepertinya dibalik pertanyaan ada pernyataan. Di bawah sadar ada alam bawah sadar.

Aku sebenarnya suka gak sih padanya. Mungkin sekarang baru sebatas suka dengan parasnya yang jelita. Belum masuk ke wilayah emosionalnya atau spiritualnya, aku tak mau terburu-buru dalam segala hal, termasuk urusan cinta. Kalau memang hal itu untukku, tak akan datang dan pergi kemana-mana.

Pulangnya aku antarkan dia sekalian aku mau ke perpustakaan. Kemarin kupinjam buku Abou Fadl, ‘Melawan Tentara Tuhan’ dan ‘Tulus Tanpa Batas’. Dari perpustakaan kampus kupinjam lagi buku “Dari Pojok Sejarah”-nya Cak Nun. Juga buku Cak Nur “Antara Sarung dan Dasi” dan Musdah Mulia. Bukunya bagus dapat membangkitkan minatku.

Sampai di kosan dan mandi. Lalu datanglah Rizki, Veri, dan Sani. Kami hanya berkumpul-kumpul saja di kosanku. Kami bercerita ngalor-ngidul sebelum dihantam tugas-tugas kuliah di minggu-minggu selanjutnya.

Begitu miris memang kalau mendengar temen-temen bicara masalah kebobrokan moral. Tak ada kampus Islam atau kampus sekuler, mahasiswanya selalu terjerat pada urusan selangkangan. Pemikiran dan pembicaraan mereka, termasuk aku selalu tak jauh dari semua itu.

Di sisi lain ada mahasiswa yang selalu berkutat dengan dunianya, dunia rekonstruksi pemikirannya, namun ia tak tahu di luar dunianya. Padahal dirinya mempunyai tanggung jawab besar. Permasalahan di luar dunianya, di masyarakatnya begitu kompleks. Solusi atas permasalahan masyarakat harus segera dicari yang harus melibatkan semua orang, temasuk dia sebagai mahasiswa.

Tapi permasalahan di dirinya pun belum kunjung selesai. Dirinya masih terhipnotis oleh kesenangan dunia dada perempuan dan selangkangan. Dia harus menemukan pekerjaan yang dapat menjadi pundi-pundi uang. Lalu bisa membahagiakan orang-orang yang sudah berkorban untuk dirinya, untuk masyarakat dan bangsanya. Dia harus menjadi orang.

Aku penat dengan beban semua yang dipanggul ini. Aku kangen kehidupan masa kecil yang tidak perlu mengerti beban-beban. Seperti dalam cerita Laskar Pelangi. Aku menjalani masa kecil di sebuah kampung di daerah selatan Tasikmalaya, sekarang hanya tertinggal sebuah kenangan. Kapankah aku pulang, untuk menengok perkembangan kampung halamanku belum sempat waktu dan uangnya. Aku sudah penat dengan kehidupan kota. Aku terasing dari nilai-nilai yang ada.

Mungkin sudah begitu jamannya saat ini. Dari kuliah, lantas apa yang kudapatkan. Mungkin banyak, diantaranya bisa mengantarkan ke arah pemikiran skeptisisme. Kemurungan demi kemurungan hingga menatap masa depan yang begitu suram. Sehingga hidup menjadi tidak tentu arah.

Namun di hatiku yang terdalam masih ada secercah harapan. Masih menghembus semilir angin yang menyejukkan perasaan. Miris dengan perjalanan hidupku dan perjalanan di luar diriku, seyogyanya aku menjadi pribadi yang diharapkan.

Aku ingin optimis menatap cakrawala hidup yang mengharu biru ini. Aku ingin hidupku bergemuruh. Aku ingin tenang di sisi mahligai cinta. Aku berharap untuk selalu memupuk hasrat cinta dalam nestapa. Rintihan dan harapan biarlah tersimpan rapi dalam kubangan cemas. Biarlah aku menatap cakrawala.

Aku tak mengharap apapun lagi. Karena aku telah berhenti berharap. Aku hanya ingin mencari lain jalan. Meskipun jalan lain itu begitu terjal dan gersang. Tapi aku selalu ingat pada jalan ini. Jalan yang selama ini kutempuh selalu ada harapan.

Tapi sampai kapan hanya ada angan dan khayal. Akupun tidak tahu. Aku hanya berjalan di jalan ini. Apakah suatu masa sampai ke tepian, ataukah tertidur ketika menjelang fajar. Aku tetap bertahan sampai kudengar suara burung merdu. Sambil menyaksikan kisah luapan seorang yang patah hati.

Menulis hari ini gak mood. Serasa kata-katanya dipaksakan. Padahal aku baru dapat spirit dari membaca novel Laskar Pelangi. Novel karya Andrea Hirata ini sangat bagus. Mengisahkan tentang perjalanan masa kecil yang begitu haru. Persis seperti kehidupan kecilku dulu. Main kucing-kucingan, tarik pelepah pinang. dan malamnya mengaji di langgar. Tajug, sebutan kampung kami.

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori