Oleh: Kyan | 25/02/2006

Jatuh Cinta Seperti Sakit Jiwa

Sabtu, 25 Februari 2006

Jatuh Cinta Seperti Sakit Jiwa

**

Mungkin cintaku sudah semakin pudar. Sekarang aku mau belajar untuk tak mengharapkan apa-apa lagi darinya. Karena setiap kali aku mengingatnya membuat dadaku sesak tak karuan. Setelah dibuatnya aku menemukan kekecewaan demi kekecewaan, lebih baik lenyaplah dan enyahlah dari pikiranku.

Namun, tadi pagi aku malah memandangnya sekilas dan muncul semacam kerinduan yang terobati. Terpancar cahaya keindahan berkilauan bak mutiara. Dengan busana vink-nya menampakkan keanggunan. Ketika sebelumnya kuliah dimulai, dia belum datang. Seperti aku mencari sesuatu, dimanakah dia. Kupandang saja dia sekilas, dan selanjutnya mengacuhkannya.

Wajah yang bersinar itu seolah-olah kian memudar. Apakah aku baru sebatas cinta fisiknya aja. Apakah aku sudah mencintai emosional dan spiritualnya. Dia memang begitu bersemangat dan bisa menyemangatiku. Dia selalu menjadi inspirasi, tapi juga menghantui. Aku selalu memikirkan apakah aku memang cinta padanya.

Aku masih mempertimbangkan hal lainnya. Tak bisa kupungkiri aku ini orang miskin dan terlahir dari keluarga  miskin. Aku ingin mendapatkan orang berada, orang kaya selain cantik jelita. Tapi aku bukan berarti hanya melihat kekayaannya. Tapi kupikir orang lain pun pasti ingin mendapatkan yang sempurna, berada.

Dia pernah bilang padaku, “Biarlah takdir yang bicara dan gak usah mencari-cari yang perfect”. Dia melihat sepupunya menikah tanpa perencanaan berbulan-bulan sebelumnya. Karena ada sesuatu yang mengharuskan ia menikah, maka jadilah mereka menikah.

Mungkin dia juga ingin terus mengejar cita-cita. Namun ketika harus menikah, ya menikah saja tanpa melihat secara jauh karakter pasangan seutuhnya. Dalam pandangannya, dalam pandangan yang lain pun sering mereka bilang yang penting agamanya. Ya sudahlah berjalan seadanya. Apakah ini cara berpikirnya jabariyah, aku pun tidak begitu tahu.

Mungkin karena selalu memikirkan tentang perasaan jiwa, akhirnya yang kutuangkan dalam tulisan ini hal itu-itu saja. Tak jauh dari urusan cinta. Memang aku selalu dihantui oleh masalah masa depanku, soal menikah, perempuan atau tentang kesepian hari-hariku. Tapi seperti aku mendapatkan keyakinan, bahwa akan tersembuhkan kalau aku tahu jawabannya dia sebenarnya. Dia mencintaiku memang itu jawaban harapan. Bila tidak lebih baik kubunuh saja dia.

Muncul di hadapanku dua pilihan antara berhenti mencintainya atau beralih untuk membina hubungan baru, yang lebih mesra. Tapi selalu saja aku masih mengharapkan dia. Aku pernah bilang akan meminta jawaban ketika aku sudah mapan. Tapi kapankah itu saatnya tiba.

Pesimistisku bergelora. Ia berkata bahwa aku tak akan pernah mapan, sesungguhnya. Dikatakan begitu, karena mungkin aku selalu kalah. Karena aku terlalu memperjuangkan idealisme. Manusia idealis seperti dijauhkan dari pundi-pundi kekayaan.

Dan aku selalu saja mengkhayalkan bahwa dia sebenarnya mencintaiku. Namun selalu saja muncul pikiran dari sisi terdalam bahwa ia tidak mencintaiku. Pikiran mengatakan ia tak mencintaiku, tapi hati mengatakan ia mencintaiku. Saat laki-laki jatuh cinta pada perempuan, ia akan seperti sakit jiwa. Dan obatnya adalah pertemuan dengan pertemuan itu. Meski tanpa kata dan pandangan yang menyatu. Kerinduan terus meliputi rindu.  Dengan sikap yang menggebu, sakitkah aku.

Namun setelah sepuluh menit kemudian, dia akhirnya muncul dan terobatilah rasa rindu. Selesai kuliah sempat mengobrol sebentar, sekalian menanyakan cd yang dia pinjam tempo hari. Aku sempat memandangnya penuh sayu, hanya sebentar lalu kupalingkan pandangku.

Tidak sadar aku sering mencuri-curi pandang. Kadang kulihat dia yang dalam pandangan hatiku ia selalu saja makin cantik. Tapi kadang pula kulihat wajah kelesuannya. Tubuhnya ada di kelas, tapi jiwanya melayang entah kemana.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori