Oleh: Kyan | 03/03/2006

Kebenaran Aksara dan Sinema

Jum’at, 03 Maret 2006

Kebenaran Aksara dan Sinema

**

Sudah tanggal empat dan sedang menunggu kiriman uang dari ibuku. Sudah dua kali pergi ke kampus, mengecek tabungan di ATM, saldonya masih kosong. Tapi alhamdulillah Amy sudah membayar kosan padaku sebesar enampuluhribu. Setengahnya kubayarkan hutang pada Dudi dan Neng Titin. Sisanya semoga saja cukup buat makan sampai kiriman dari ibuku datang.

Rencana bulan ini aku mau lebih mementingkan makan. Dalam setiap hari paling habis tujuhribu untuk dua kali makan. Dalam sebulan perbedaan antara masak sendiri dengan membeli hanya duapuluh limaribu. Belum kuperhitungkan buat membeli sabun untuk mencuci peralatan masak dan makan. Bila ditimbang-timbang hampir sama pengeluarannya. Belum korban waktu dan tenaganya kalau aku masak sendiri.

Akan kucoba berpuasa Dawud. Meskipun tidak sahur aku tetap akan berpuasa. Dulu pertimbangan tak puasa karena susah sahurnya. Pernah juga mencoba makan terus karena ingin gemuk. Bukannya badanku menambah berisi malah bertambah kurus kering. Temenku, Aril bilang padaku, “Kok kurus banget kamu.”

Aku mau mencoba untuk membebaskan pikiran. Tapi caranya bagaimana? Bagaimana dengan cita-cita dan harapan yang harus selalu diperjuangkan. Mungkin karena keturunan kurus, ya aku kurus begini. Bila memikirkan kekurangan fisik, penderitaan yang tak akan berujung.

Inginku setiap hari bisa menulis puisi. Dalam setiap hari ingin aku bisa menulis dan membaca buku. Seperti yang biasa dilakukan sastrawan penarik gerbong FLP, Helvy Tiana Rosa. Beliau biasa membaca novel dalam sehari mesti dua buku. Dan ketika dia membuat buku novel, lebih dahulu melakukan riset yang memakan waktu lama dibanding saat menulisnya. Kalau menuangkannya kedalam tulisan cukup dilakukan sehari atau beberapa jam saja, katanya.

Dikatakan pula bahwa antara membaca atau tepatnya menikmati sebuah cerita antara lewat aksara buku dan sinema sangat berbeda efeknya. Kalau lewat sinema itu memiskinkan ide, sedangkan lewat buku dapat memperkaya ide. Penyataan yang ada benarnya menurutku.

Karena kalau lewat film, visualisasi ceritanya akan terindra dan terpesepsi oleh penerima ditentukan atau dibatasi oleh sutradara. Seperti gambaran ruang dan wajah sang tokoh, pasti akan digiring pada seting dan wajah sang aktris. Sedangkan lewat buku kita bebas berimajinasi sekehendak kita dan bergantung pencernaan kita pada kata-kata. Kita bisa mempersepsikan sang tokoh adalah aku sendiri dan cerita sebenarnya itu sang aku sendiri. Jalan cerita keduanya bisa sama, tapi efeknya bisa berbeda.

Banyak yang menguatkan pada buku daripada sinema, tapi aku belum tahu alasan yang jelasnya. Dan bagaimana pula kalau cerita yang didongengkan. Bagaimana kaitan dongeng dengan imajinasi. Karena memang budaya Indonesia masih didonimasi budaya oral, yaitu lebih ke dominasi fungsi telinga.

Justru dalam film, pengindraan oleh mata dan telinga digabungkan untuk menikmati suguhan cerita film. Bukankah bila keduanya dipakai akan lebih optimal? Sedangkan lewat buku, hanya mata saja yang difungsikan. Bukankah bila gabungan keduanya akan lebih baik? Memang memerlukan penelitian lebih lanjut.

*

Hari ini aku menamatkan membaca novel Perempaun-Perempuan Impian. Satu novel yang kurekomendasikan kepada siapapun, terutama kepada perempuan. Novel ini bagus karena mampu memainkan emosi pembacanya. Susah ditebak endingnya. Tebakan pembaca seolah-olah benar, namun melenceng jauh dan akhirnya lain lagi.

Membaca novel selalu dapat menginspirasi. Semoga aku mendapatkan pasangan sesalihah Latifa, tokoh dalam novel tersebut. Kemesraan demi kemesraan tertuang dalam perjalanan bahtera rumah tangga. Kadang kebahagiaan diganti oleh kesusahan yang begitu menusuk dada. Sampai-sampai tibalah keputus-asaan menghadang.

Sekurang-kurangnya bila tanpa iman, musnahlah dan murkalah yang ada. Aku semestinya harus selalu berlapang dada, dalam setiap letupan-letupan kesedihan dan kemarahan. Bagi orang beriman hanya syukur dan sabar dalam menghadapi situasi apapun.

Membaca novel ini menjadi  teringat akan buku berjudul “40 Hari Khalwat”-nya Michella Ozelzel yang menceritakan pengalaman khalwat seorang perempuan mualaf di Turki. Dalam novel ini pun diceritakan nyonya Ciptadi ketika berdzikir suka ketiduran sampai terus bermimpi didatangi seseorang. Kedatangannya itu seolah-olah memberitahukan hal yang akan terjadi.

Maka boleh jadi mimpi-mimpi orang saleh itu mengandung kemungkinan-kemungkinan sisi kebenaran. Tanda orang saleh bisa dilihat dari kesehariannya. Dan mimpinya bisa ditimbang lewat akal. Jika masuk akal, bisa benar mimpinya.

Islam memang agama rasional-ilmiah. Sampai jeritan tangisan di alam Barzakh bisa didengar dan direkam. Katanya ketika beberapa penambang melakukan pengeboran di bawah laut, pernah terekam suara-suara. Seperti suara jeritan yang disiksa, yang dalam pemahaman Islam bahwa itu alam Sijjin. Rekaman ini ditemukan ketika masih berdirinya Uni Sovyet, sebelum dibubarkan oleh Michael Gorbachev.

Katanya rahasia-rahasia kebenaran Islam banyak yang disembunyikan Amerika. Mungkin sekarang ini Amerika sudah punya teknologi yang lebih canggih lagi jika dibandingkan internet dan handphone yang sudah memassal ini. Bahkan dikatakan pernah ada rekaman atau foto oleh satelit yang menggambarkan ada cahaya lurus dari ka’bah menuju langit. Begitulah kebesaran Islam nampak di ufuk Barat dan Timur.

Kuliah semester empat aku harus lebih baik lagi. Aku bukan sekedar memperhatikan nilai, tapi kemampuanku. Kuliah sampai hari ini aku baru bisa apa, apakah aku sudah tahu manajemen, mengatur keuangan dan ekonomi Islam. Aku harus lebih giat lagi belajar. Aku harus banyak membaca dan fokus pada kuliah. Mungkin bacaan-bacaaan umum harus sedikit dikurangi.

Tapi meminjam buku ke perpustakaan harus dibiasakan. Dibaca gaknya tergantung nanti, yang penting kebiasaan dalam membangun karakter. Tapi Aa Gym pernah bilang kalau gak bakal sempat dibaca gak usahlah pinjam. Berkunjung atau meminjam buku ke perpustakaan paling membuka-buka kata pengantar dan kesimpulannya saja. Setidaknya aku mendapatkan sesuatu dari buku yang aku pinjam.

Habis salat Duhur aku tertidur di masjid. Ketika bangun sangat terasa nikmatnya. Bangun ketika menjelang Ashar dan salat berjamaah Ashar. Tidur di kosan mana bisa. Di kosan selalu penuh dengan teman-teman yang datang. Moga saja datangnya teman-teman ke kosanku menambah kebaikan.

Ketika nanti aku membuka usaha, mereka bisa menjadi konsumenku. Ingin segera aku punya taman bacaan dan toko buku. Aku mesti membuat proposal, agar aku bisa membeli buku dengan diskon khusus. Waktuku harus diatur agar aku bisa belajar dengan baik. Aku harus memahami dengan baik mata kuliah yang sudah dipelajari. Beberapa mata kuliah yang berkaitan dengan akuntansi, aku ‘molotok’ menguasai ilmu akuntansi. Inginku jadi akuntan. Menjadi pilihan bila kucoba berfokus pada keinginanku menjadi akuntan adalah sesuatu yang tidak terlarang.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori